pria memiliki berbagai jenis kontrasepsi yang bisa digunakan
kondom adalah kontrasepsi pria yang populer

KB pria? Tentu dua kata ini terdengar asing bagi kita masyarakat awam. Kita lebih akrab mendengar istilah KB untuk wanita. Nama jenis kontrasepsi untuk wanita pun, seperti pil KB, IUD, suntik, implan, tubektomi, lebih sering kita dengar. Mungkin hanya sedikit dari kita yang bisa menjawab, kondom atau vasektomi, ketika ditanya jenis KB pria.

Bukan hanya soal popularitas, dari segi penelitian pun, kontrasepsi pria sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan rekannya, KB untuk wanita. Apa sebabnya?

Salah satu penyebabnya adalah ada banyak faktor yang lebih kompleks ketika berbicara tentang kontrasepsi pria. Tak hanya ilmiah, tapi juga faktor sosial.

Mengapa kontrasepsi pria tak berkembang sepesat wanita?

Untuk pria yang aktif secara seksual, “pullout” atau ejakulasi di luar vagina adalah metode kontrasepsi yang paling sering digunakan dibandingkan kondom atau vasektomi. Alasannya bermacam-macam. Ada yang menganggap penggunaan kondom mengurangi sensasi nikmat saat bercinta. Ada juga yang mengatakan vasektomi merepotkan dan efeknya permanen.

Sadar dengan alasan tersebut, para peneliti pun terus meneliti dan mencari kontrasepsi terbaik untuk pria. Yang bukan hanya efektif tetapi juga mudah dan murah.

Ada pertanyaan menarik. Jika wanita bisa memiliki pil KB yang dapat mengendalikan hormon, mengapa pria tidak?

Jawabannya adalah karena secara biologis, tubuh pria memiliki desain yang berbeda dengan wanita. Setiap harinya, seorang pria memproduksi ratusan juta sperma. Saat ejakulasi, setidaknya ada 250 juta sperma yang dikeluarkan.

Sementara itu wanita hanya memproduksi satu atau dua sel telur setiap bulannya. Sel telur ini pun hanya berada di fase benar-benar subur selama 12 jam.

Selain itu, sejak dulu kontrasepsi didesain kebanyakan untuk wanita karena kehamilan memiliki risiko kematian. Itulah mengapa dirasa perlu mencegah kehamilan, terlebih yang tidak direncanakan.

Di sisi lain, pria tidak menghadapi risiko serupa. Itulah mengapa urgensi untuk kontrasepsi pria ketimbang wanita juga tidak sama.

Pilihan kontrasepsi pria: yang konvensional hingga modern

Meski jenisnya sedikit, kontrasepsi pria bila digunakan dengan benar, sama efektifnya dengan kontrasepsi wanita. Berikut ini beberapa pilihan KB pria mulai dari yang paling konvensional hingga yang mulai dikembangkan:

1. Kondom 

Menggunakan kondom adalah metode kontrasepsi dan aktivitas seksual aman yang paling populer. Tak hanya mudah dan mengurangi risiko terjadinya infeksi menular seksual, menggunakan kondom juga dapat menekan kemungkinan kehamilan hingga nyaris 100%.

2. Metode “pullout”

Selanjutnya, KB pria yang lebih bisa dianggap sebagai “trik”, yaitu menarik penis keluar sesaat sebelum ejakulasi. Ada banyak istilah untuk cara ini, mulai dari “pullout”, coitus interuptus, atau yang paling populer di kalangan pria adalah “keluarin di luar”. Intinya sama, menghindari risiko sperma masuk dan membuahi sel telur.

3. Vasektomi

KB pria selanjutnya adalah vasektomi, bedah minor yang bahkan bisa tuntas dilakukan dalam waktu 15 menit. Pria yang telah menjalani vasektomi tetap bisa ereksi dan ejakulasi, hanya saja air mani yang dikeluarkan tidak lagi mengandung sel sperma. Efeknya permanen.

4. Gel Nestorone-Testosterone

Perkembangan terbaru adalah temuan gel yang disebut Nestorone-Testosterone yang ketika diaplikasikan ke bahu dan lengan, akan merangsang hormon gonadotropin untuk berhenti bekerja. Gonadotropin adalah hormon yang menstimulus produksi testosteron.

Ketika kadar testosteron sangat rendah, artinya produksi sperma juga akan menurun drastis. Namun efek sampingnya adalah libido rendah hingga masalah ejakulasi.

5. Pil KB untuk pria

Selanjutnya ada pil KB untuk pria yang memang masih dalam tahapan uji klinis dan belum dijual bebas. Dalam pil ini, ada molekul steroid yang dapat menekan produksi sperma. Dari seluruh penelitian, temuan pil bernama dimethandrolone undecanoate (DMAU) ini yang dianggap paling ideal.

Namun di sisi lain, efektivitas pil ini pada tubuh pria hanya bertahan cukup singkat, bahkan kurang dari 18 jam. Artinya, pil ini perlu dikonsumsi lebih dari sekali dalam sehari. Apakah benar-benar efektif? Masih dalam penelitian lebih lanjut.

6. Vasektomi tanpa operasi

Para peneliti di India menemukan metode vasektomi tanpa operasi yaitu reversible inhibition of sperm under guidance atau RISUG. Konsepnya adalah memasukkan gel polimer pada vas deferens sehingga sperma tidak dapat berenang lebih jauh.

Selain itu, vasektomi tanpa operasi ini juga tidak permanen. Ketika ingin berhenti, ada suntikan yang bisa menghancurkan gel sehingga sperma bisa berenang kembali menuju sel telur untuk pembuahan.

Kita tunggu saja bagaimana perkembangan kontrasepsi pria ini di masa depan. Mungkin ada temuan baru yang jauh lebih efektif dan tetap nyaman.

Apa pun jawabannya, keputusan menggunakan kontrasepsi harus dipilih dengan bijak. Utamanya, bagi mereka yang aktif secara seksual.

WebMD. https://www.webmd.com/sex/birth-control/male-contraceptives#1
Diakses 29 Oktober 2019

Vox. https://www.vox.com/2018/4/4/17170262/male-birth-control-explained
Diakses 29 Oktober 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/will-we-ever-get-a-birth-control-pill-for-men#Why-men-dont-have-the-pill
Diakses 29 Oktober 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed