Ektoprion Adalah Erosi Serviks, Apa Artinya?


Erosi serviks atau ektoprion adalah kondisi sel-sel kelenjar dalam leher rahim tumbuh di luar serviks. Umumnya, penyebabnya karena....

(0)
26 Nov 2019|Azelia Trifiana
Erosi serviks adalah kondisi yang sering terjadi pada masa suburErosi serviks atau erosi mulut rahim terjadi pada masa subur
Erosi serviks atau erosi mulut rahim, namanya mungkin terdengar mengkhawatirkan. Padahal, kondisi yang dipengaruhi hormon ini tidak berbahaya. Disebut juga dengan ektropion, erosi serviks terjadi saat sel-sel kelenjar dalam leher rahim justru tumbuh di luar serviks.Banyak orang khawatir erosi serviks ini merupakan gejala kanker serviks karena terlihat seperti peradangan. Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak ada hubungan antara erosi serviks dengan masalah kanker serviks atau kanker lainnya.

Mengenal erosi serviks

Erosi serviks, sel lunak berkembang di luar leher rahim
Pengertian erosi serviks adalah sel-sel leher rahim yang justru berkembang di luar serviks. Kondisi yang disebut juga ektropion ini menimbulkan pembentukan jaringan yang merah dan meradang.Kondisi yang bisa ditemukan pada erosi serviks adalah sel-sel keras (epitel skuamosa) dari bagian luar leher rahim bertemu langsung dengan sel-sel lunak (epitel kolumnar) yang ada pada bagian dalam serviks (kanal serviks).Normalnya, sel-sel kelenjar lunak berkembang di bagian dalam leher rahim. Namun, pada penderita ektropion, sel-sel kelenjar lunak mereka justru berkembang pada bagian luar leher rahim.Pertemuan kedua sel ini disebut juga dengan zona transformasi. Hal ini menyebabkan radang mulut rahim. Penelitian yang terbit pada jurnal BioMed Central Research Notes menemukan, erosi serviks yang menyebabkan infeksi mulut rahim ini kerap dijumpai pada orang yang sedang memasuki masa subur.Sayangnya, meski tidak dianggap berbahaya dan tidak ada kaitannya dengan kanker serviks, erosi serviks terlihat serupa dengan beberapa gejala atau kondisi tertentu. Karena itu, untuk mengecek erosi serviks, perlu evaluasi lebih lanjut. Inilah gejala penyakit yang menyerupai erosi serviks:

Gejala erosi serviks

Nyeri perut atau panggul dirasakan penderita ektropion
Biasanya, erosi serviks atau erosi mulut rahim terjadi pada perempuan berusia muda. Tidak ada gejala spesifik yang dirasakan. Namun yang bisa terlihat dengan jelas di antaranya:Gejala ini bisa terasa ringan hingga parah tergantung pada kondisi ektropion yang dialami seseorang. Warna kemerahan pada leher rahim terjadi karena sel-sel tersebut sangat sensitif dan mudah mengalami iritasi.

Penyebab erosi serviks

Ada banyak alasan di balik penyebab erosi serviks. Penyebab erosi serviks ini tentunya berbeda-beda antara satu orang dan lainnya. Beberapa penyebab yang paling umum terjadi di antaranya:

1. Bawaan lahir

Beberapa bayi lahir dalam kondisi erosi serviks
Beberapa perempuan memang terlahir dengan kondisi erosi serviks, artinya kondisi ini tidak terjadi karena fluktuasi hormon.

2. Perubahan hormon

Hormon yang bergejolak picu erosi serviks
Terkadang, erosi mulut rahim bisa terjadi karena level hormon yang sangat bergejolak. Biasanya, hal ini dialami oleh perempuan yang sedang dalam usia produktif dan masa subur. Perempuan yang sudah masuk fase menopause jarang mengalami ektropion.

3. Konsumsi pil KB

Pil KB mengandung hormon yang bisa sebabkan ektropion
Bagi sebagian orang, menggunakan kontrasepsi pil KB kadang bereaksi tak bersahabat bagi tubuh. Efek samping pil KB juga dapat berpengaruh signifikan terhadap hormon seseorang. Ini bisa memicu terjadinya erosi serviks.

4. Kehamilan

Gejolak hormonal pada ibu hamil sebabkan erosi serviks
Lagi-lagi soal hormon, periode kehamilan juga bisa menyebabkan seorang perempuan mengalami ektropion atau erosi serviks. Namun ektropion tidak akan membahayakan janin.

5. Usia

Remaja perempuan di fase pubertas berisiko alami ektropion
Perempuan yang sedang berada di fase pubertas juga berisiko tinggi mengalami ektropion.Mengingat erosi serviks tidak berbahaya, seringkali kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu perawatan apapun. Selama tidak mengalami gejala memburuk atau pendarahan secara persisten, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Mendiagnosis erosi serviks

Saat merasakan gejala-gejala erosi serviks dan memeriksakan diri ke dokter, ada beberapa prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan. Inilah cara yang digunakan untuk mendiagnosis erosi serviks:

1. Pap smear

Pemeriksaan pap smear dilakukan dengan cara mengeruk beberapa bagian kecil sel pada leher rahim. Hal ini juga untuk berguna untuk melihat keberadaan virus Human papiloma (HPV) dan tanda-tanda prakanker atau kanker.Tes ini bisa membedakan apakah gejala kemerahan ini merupakan ektropion atau gejala awal terjadinya kanker serviks. Meskipun tidak berhubungan, gejalanya cukup serupa.

2. Biopsi

Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel sel serviks
Metode diagnosis biopsi ini dilakukan dengan uji laboratorium. Caranya, sampel sel yang terdapat pada penderita ektropion diambil dan dites di laboratorium. Selain mengecek adanya ektropion, metode ini juga membantu menemukan sel kanker

3. Kolposkopi

Cara untuk mengecek ektropion ini tidak memerlukan uji laboratorium. Saat melakukan kolposkopi, dokter melakukannya dengan cara mengecek langsung kondisi rahim dengan alat pembesar dan cahaya.

Pengobatan erosi serviks

Sebenarnya, ektropion tidak perlu diberi tindakan apapun selama tidak mengganggu. Namun apabila gejala mulai terasa mengganggu seperti pendarahan dan rasa nyeri saat berhubungan seksual, keputihan berlebih, hingga pendarahan, tak ada salahnya berdiskusi dengan dokter.

1. Kauterisasi

Pembalut digunakan untuk menampung flek pascatindakan
Tindakan terapi kauterisasi atau cauterization ini bertujuan untuk mengangkat sel glandular yang tumbuh di luar serviks. Terkadang, prosedur ini perlu dilakukan beberapa kali apabila gejala ektropion kembali terjadi. Ada tiga cara yang dipilih dokter untuk melakukan tindakan ini.
  • Cryotherapy, yaitu membekukan bagian serviks yang bermasalah dengan karbondioksida dengan suhu yang sangat dingin.
  • Diathermy, kebalikan dari cryotherapy, tindakan ini menggunakan di bagian leher rahim yang ditemukan masalah. Sel yang bermasalah biasanya ditandai dengan pertumbuhan berlebih.
  • Silver nitrate, serupa dengan diathermy, tindakan ini dilakukan dengan  pembakaran sel-sel kelenjar
Sebelum melakukan pengobatan, biasanya penderita ektropion diberi bius agar tidak merasakan sakit saat diberi tindakan. Namun, ada efek samping yang biasa muncul, yaitu keputihan pendarahan selama satu sampai empat minggu setelah terapi.Pada saat melakukan kauterisasi, sel yang mendapat tindakan pun nantinya akan mengalami regenerasi sel. Setelah prosedur dilakukan, penderita ektropion bisa langsung pulang dan kembali beraktivitas. Penting juga untuk memastikan tidak terjadi infeksi.Biasanya, dokter akan merekomendasikan untuk tidak beraktivitas seksual dan menggunakan pembalut atau tampon selama 4 minggu untuk menampung flek-flek darah jika ada.

2. Obat albothyl ovula

Obat obatan, seperti obat albothyl untuk vagina ini merupakan obat yang bisa dipilih untuk mengatasi erosi serviks. Penggunaan obat ini sebenarnya diindikasikan untuk perempuan setelah pengangkatan polip maupun radang serviks yang ditemukan pada erosi serviks. Selain itu, obat albothyl ovula juga berguna untuk perawatan setelah biopsi untuk diagnosis ektropion.Cara pakai obat albothyl ovula adalah sebagai berikut:
  • Cuci tangan agar tangan steril saat memasukkan obat ke liang rahim.
  • Buka bungkus albothyl ovula.
  • Pastikan celana terbuka, lalu terlentang atau berdiri dengan lutut ditekuk.
  • Buka kaki sedikit lebar.
  • Masukkan obat albothyl ovula dengan mendorong obat tersebut menggunakan jari telunjuk atau jari tengah, pastikan obat terdorong sejauh mungkin.

Cara mencegah erosi serviks

Kondom mengurangi risiko infeksi akibat ektropion
Meski tidak berbahaya, kondisi ektropion mampu menyebabkan infeksi mulut rahim. Tentunya, hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman. Perlu diketahui, ada kiat-kiat yang bisa dilakukan untuk mengurangi radang mulut rahim sebagai cara mencegah erosi serviks. Ikutilah cara mencegah erosi serviks ini:
  • Saat berhubungan seks, imbau pasangan untuk menggunakan kondom.
  • Jika pasangan memiliki infeksi, luka, maupun cairan selain air mani atau pre-cum, tunda hubungan seks terlebih dahulu.
  • Tanyakan pada dokter apakah pasangan juga harus mendapatkan perawatan penyakit menular seksual yang sama seperti Anda.
  • Hindari menggunakan produk pembersih wanita yang dimasukkan langsung ke liang rahim (douching), hal ini mampu menimbulkan iritasi vagina maupun leher rahim.

Catatan dari SehatQ

Erosi serviks sebenarnya tidak berbahaya. Meski demikian, hal ini mampu memicu infeksi mulut rahim. Terlebih, gejala yang dialami terlihat serupa dengan beberapa penyakit yang terjadi pada leher rahim.Meski dianggap tidak berbahaya, erosi leher rahim atau ektropion ini bisa diobati dengan tindakan atau obat obatan tertentu. Tindakan seperti kauterisasi mampu membuang sel yang bermasalah dan membantu regenerasi sel baru. Sementara, obat obatan seperti albothyl ovula berguna untuk mengatasi infeksi yang muncul pada ektropion ini.Jika Anda mengalami gejala seperti erosi serviks, segera hubungi dokter melalui chat di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Jika Anda diberikan resep tertentu, Anda bisa membeli obat di untuk mendapatkan penawaran harga menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
kesehatan organ intimpenyakit rahimkanker serviksorgan intim wanitakesehatan vagina
Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/cervical-ectropion
Diakses 21 November 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320298.php#outlook
Diakses 21 November 2019
WebMD. https://www.webmd.com/cancer/cervical-cancer/cervical-ectropion
Diakses 21 November 2019
BioMed Central Research Notes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4307624/ Diakses pada 11 Oktober 2020National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560709/ Diakses pada 11 Oktober 2020Healthline. https://www.healthline.com/health/general-use/how-to-use-vaginal-suppositories Diakses pada 11 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait