Tak Berbahaya dan Tanpa Gejala, Ini 5 Pemicu Erosi Serviks

Gejala erosi serviks pada perempuan muda tergantung pada kondisi ektropion yang dialami
Biasanya erosi serviks atau erosi mulut rahim terjadi pada perempuan berusia muda

Mungkin namanya terdengar mengkhawatirkan: erosi serviks atau erosi mulut rahim. Padahal, kondisi yang dipengaruhi hormon ini tidak berbahaya. Disebut juga dengan ektropion, erosi serviks terjadi saat sel-sel kelenjar dalam leher rahim justru tumbuh di luar serviks.

Banyak orang khawatir erosi serviks ini merupakan gejala kanker serviks karena terlihat seperti peradangan. Namun penting untuk tahu bahwa tidak ada hubungan antara erosi serviks dengan masalah kanker serviks atau kanker lainnya.

Gejala erosi serviks

Biasanya, erosi serviks atau erosi mulut rahim terjadi pada perempuan berusia muda. Tidak ada gejala spesifik yang dirasakan. Namun yang bisa terlihat dengan jelas di antaranya:

Gejala ini bisa terasa ringan hingga parah tergantung pada kondisi ektropion yang dialami seseorang. Warna kemerahan pada leher rahim terjadi karena sel-sel tersebut sangat sensitif dan mudah mengalami iritasi.

Apabila gejala erosi serviks ini semakin parah, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter.

Penyebab erosi serviks

Ada banyak penyebab terjadinya erosi serviks yang berbeda-beda antara satu orang dan lainnya. Beberapa penyebab yang paling umum terjadi di antaranya:

1. Bawaan lahir

Beberapa perempuan memang terlahir dengan kondisi erosi serviks, artinya kondisi ini tidak terjadi karena fluktuasi hormon.

2. Perubahan hormon

Terkadang, erosi mulut rahim bisa terjadi karena level hormon yang sangat fluktuatif. Biasanya, hal ini dialami oleh perempuan yang sedang dalam usia produktif. Perempuan yang sudah masuk fase menopause jarang mengalami ektropion.

3. Konsumsi pil KB

Bagi sebagian orang, menggunakan kontrasepsi pil KB kadang bereaksi tak bersahabat bagi tubuh. Efek samping pil KB juga dapat berpengaruh signifikan terhadap hormon seseorang. Ini bisa memicu terjadinya erosi serviks. Bila perlu, konsultasikan dengan dokter apakah perlu mengganti alat kontrasepsi.

4. Kehamilan

Lagi-lagi soal hormon, periode kehamilan juga bisa menyebabkan seorang perempuan mengalami ektropion atau erosi serviks. Namun ektropion tidak akan membahayakan janin.

5. Usia

Perempuan yang sedang berada di fase pubertas juga berisiko tinggi mengalami ektropion

Mengingat erosi serviks tidak berbahaya, seringkali kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu perawatan apapun. Selama tidak mengalami gejala memburuk atau pendarahan secara persisten, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Mendiagnosis erosi serviks

Saat merasakan gejala-gejala erosi serviks dan memeriksakan diri ke dokter, ada beberapa prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan. Selain itu, erosi serviks juga biasanya diketahui saat pap smear bahkan tanpa merasakan gejala apa pun.

Pemeriksaan pap smear ini bisa membedakan apakah gejala kemerahan ini merupakan ektropion atau gejala awal terjadinya kanker serviks. Meskipun tidak berhubungan, gejalanya cukup serupa.

Sebenarnya, ektropion tidak perlu diberi tindakan apapun selama tidak mengganggu. Namun apabila gejala mulai terasa mengganggu seperti pendarahan dan rasa nyeri saat berhubungan seksual, keputihan berlebih, hingga pendarahan, tak ada salahnya berdiskusi dengan dokter.

Bila perlu, dokter akan mengambil tindakan terapi cauterization untuk mengangkat sel glandular yang tumbuh di luar serviks. Terkadang prosedur ini perlu dilakukan beberapa kali apabila gejala ektropion kembali terjadi. Cauterization adalah prosedur membakar jaringan yang mempunyai pertumbuhan berlebih.

Setelah prosedur dilakukan, penderita ektropion bisa langsung pulang dan kembali beraktivitas. Penting juga untuk memastikan tidak terjadi infeksi.

Biasanya, dokter akan merekomendasikan untuk tidak beraktivitas seksual dan menggunakan pembalut atau tampon selama 4 minggu untuk menampung flek-flek darah jika ada.

Jadi, tak perlu melakukan tindakan apapun jika Anda mengalami erosi serviks karena kondisi ini tidaklah berbahaya. Namun apabila gejalanya dirasa mengganggu, tak perlu ragu mengambil tindakan karena prosedur tindakannya pun cepat, aman, dan juga efektif.

Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/cervical-ectropion#outlook
Diakses 21 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320298.php#outlook
Diakses 21 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/cancer/cervical-cancer/cervical-ectropion
Diakses 21 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed