Jalan Panjang Rehabilitasi Narkoba yang Mungkin Akan Ditempuh Jefri Nichol

Tahapan dalam rehabilitasi narkoba yang akan ditempuh Jefri Nichol mungkin cukup banyak
Rehabilitas narkoba membutuhkan komitmen

Opsi rehabilitasi kerap dipilih oleh para pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) ketika sudah terciduk oleh polisi, salah satunya aktor muda Jefri Nichol. Apa saja tahapan yang harus dilalui para pecandu dalam rehabilitasi narkoba?

Seperti luas diberitakan, Jefri Nichol digerebek polisi dan terbukti menyimpan ganja kering seberat 6,01 gram. Kini, Jefri ditahan di Polres jakarta Selatan sambil menunggu asesmen dari Badan Narkotika Nasional (BNN) agar ia bisa menjalani rehabilitasi saja, bukan hukuman penjara.

Apakah pecandu narkoba bisa dipulihkan dengan rehabilitasi?

Ya, tapi cara ini pun tidak sederhana. Kecanduan narkoba adalah penyakit yang kronis di mana orang tersebut tidak bisa serta-merta langsung berhenti mengonsumsi obat-obatan terlarang dalam hitungan hari.

Dalam kebanyakan kasus, pecandu harus menjalani rehabilitasi narkoba dalam jangka panjang. Mulai dari tahap awal (detoksifikasi) hingga dinyatakan sembuh dari ketergantungan, para pecandu biasanya butuh sedikitnya 28 hari hingga 1 tahun, tergantung tingkat keparahan kecanduannya hingga respons tubuh pasien dalam menerima pengobatan.

Pada dasarnya, rehabilitasi narkoba bukan hanya bertujuan membuat penggunanya berhenti memakai narkoba. Rehabilitasi juga bertujuan memastikan orang tersebut bebas narkoba seumur hidup serta kembali melakukan hal-hal produktif di dalam keluarga hingga lingkungan sekitarnya.

Apa saja tahapan rehabilitasi narkoba?

Dalam menjalani rehabilitasi medis, pecandu narkoba akan ditempatkan di pusat-pusat rehabilitasi. Untuk kasus Jefri Nichol, misalnya, akan menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitasi yang disediakan oleh BNN, seperti di Lido (Kampus Unitra), Baddoka (Makassar), atau Samarinda.

Oleh BNN, setiap pecandu narkoba akan menjalani tiga tahap rehabilitasi narkoba, yakni:

1. Rehabilitasi medis (detoksifikasi)

Pada tahap ini, pecandu narkoba akan diperiksa kondisi kesehatannya, baik fisik maupun mental. Setelah asesmen tersebut, dokter akan memutuskan obat yang akan diberikan pada pecandu untuk mengurangi gejala putus zat (sakau) yang ia derita. Pemberian obat sendiri akan tergantung dari jenis narkoba, berat atau ringannya sakau yang dialami pecandu tersebut.

Salah satu metode detoksifikasi yang sering digunakan di Indonesia adalah cold turkey. Metode ini dilakukan dengan mengurung pecandu dalam masa putus obat tanpa memberi obat-obatan tertentu.

Setelah tidak lagi sakau, pecandu narkoba akan dikeluarkan dari kamarnya kemudian diikutsertakan dalam sesi konseling (rehabilitasi nonmedis). Metode ini juga banyak digunakan oleh panti rehabilitasi yang mengedepankan pendekatan keagamaan dalam fase detoksifikasinya.

2. Rehabilitasi nonmedis

Pecandu wajib ikut menjalani program rehabilitasi yang dicanangkan, misalnya therapeutic communities (TC), 12 steps, pendekatan keagamaan, dan lain-lain. Dalam program TC, misalnya, pecandu narkoba diajarkan untuk mengenal dirinya lewat lima area pengembangan kepribadian, yaitu manajemen perilaku, emosi/psikologis, intelektual dan spiritual, pendidikan, serta kemampuan untuk bertahan bersih dari narkoba. TC dilakukan dengan cara menempatkan pecandu narkoba di tengah masyarakat dalam kurun 6-12 bulan.

3. Bina lanjut (after care)

Setelah dinyatakan ‘lulus’,  pecandu narkoba bisa kembali ke masyarakat dan beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, ia tetap akan berada di bawah pengawasan BNN agar dipastikan bahwa pecandu tersebut telah pulih total terhadap ketergantungannya pada narkoba.

Mencegah relapse (kambuh)

Setelah dinyatakan setelah menjalani rehabilitasi narkoba, perjuangan mantan pecandu selanjutnya adalah memastikan ia tidak kambuh lagi. Pasalnya, penyalahgunaan obat terlarang mengubah fungsi otak dan bisa memicu keinginan untuk mengonsumsi zat tertentu di dalam otak.

Merupakan hal yang krusial bagi pecandu yang tengah menjalani rehabilitasi narkoba untuk mengenali, menghindari, dan menghadapi sendiri pemicu tersebut ketika ia sudah keluar dari pusat rehabilitasi. Untuk membantu mantan pecandu melakukan hal ini, ia bisa dibantu dengan obat-obatan untuk membantu mengembalikan fungsi normal otak dan mengurangi keinginan untuk kembali memakai narkoba.

Obat-obatan tersedia bagi pecandu opioid (heroin), tembakau (nikotine), dan alkohol. Sementara itu, para peneliti sedang mengembangkan obat untuk pecandu kokain, methamphetamine, dan canabis (marijuana).

Pada kebanyakan kasus, mantan pecandu narkoba harus mengonsumsi berbagai obat-obatan. Pasalnya, mereka biasanya mengonsumsi lebih dari satu jenis narkoba serta mengalami efek negatif yang dialami para pecandu, seperti depresi dan cemas, yang mungkin juga menjadi faktor ketergantungan narkoba yang mereka derita.

Tidak ada metode pakem dalam rehabilitasi narkoba yang pasti berhasil menghilangkan kecanduan. Namun, satu hal yang pasti harus dilakukan oleh para pecandu ialah niat dan komitmen dalam mengatasi ketergantungannya terhadap barang haram tersebut.

National Institute on Drug Abuse. https://www.drugabuse.gov/publications/drugfacts/treatment-approaches-drug-addiction
Diakses pada 31 Juli 2019

Direktorat Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional. https://rehabilitasi.bnn.go.id/public/articles/read/267
Diakses pada 31 Juli 2019

American Addiction Centers Resource. https://www.drugtreatment.com/prescription-drug-treatment-programs/narcotic/
Diakses pada 31 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed