Masalah Perkembangan Anak dengan Spina Bifida dan Pilihan Terapinya

Spina bifida dapat menyebabkan masalah mobilitas dan kelainan ortopedik pada perkembangan anak
Spina bifida dapat memberikan dampak buruk pada perkembangan anak

Spina bifida adalah suatu kelainan bawaan di mana pembentukan saraf tulang belakang tidak sempurna sehingga akan berdampak pada tahap perkembangan anak. Terdapat tiga jenis spina bifida, yaitu:

  • Spina bifida okulta, yang ditandai adanya celah di antara tulang belakang tanpa adanya kantung pada punggung. Jenis spina bifida ini merupakan jenis yang paling ringan.
  • Meningokel merupakan kondisi di mana selaput saraf (meninges) terdorong keluar melalui celah di antara tulang, kemudian membentuk kantung berisi cairan pada punggung. Pada jenis ini biasanya tidak disertai kerusakan saraf.
  • Dalam kondisi ini, tidak hanya meninges saja yang terdorong keluar, tetapi juga serabut saraf tulang belakang di dalamnya sehingga terjadi kerusakan saraf

Masalah perkembangan anak dengan spina bifida

Kelainan yang diakibatkan spina bifida memiliki dampak signifikan dalam perkembangan anak. Berbagai masalah perkembangan pun timbul sebagai konsekuensinya. Beberapa masalah dalam tahap perkembangan anak yang dapat dialami oleh anak dengan spina bifida, antara lain:

1. Masalah mobilitas

Spina bifida dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf yang mengatur kerja otot tungkai bawah sehingga terjadi kelemahan otot, bahkan kelumpuhan. Jika kelainan yang terjadi tergolong berat, mungkin anak tidak akan mampu berjalan sama sekali.

2. Komplikasi ortopedik

Kelainan saraf yang terjadi pada spina bifida menyebabkan tidak hanya kelemahan otot pada tungkai bawah, tetapi juga pada punggung. Hal ini bisa menimbulkan skoliosis, ketidakseimbangan pertumbuhan tulang pinggul, dislokasi pinggul, atau kontraktur (pemendekan) otot.

Anak dengan spina bifida yang punya masalah mobilitas biasanya memiliki tulang yang tidak dapat berkembang dengan normal. Pada anak dengan spina bifida yang sulit untuk berdiri atau berjalan dengan baik, tulang panjang tidak mendapatkan tekanan dari berat badan yang cukup sehingga perkembangannya terhambat.

3. Masalah kontrol buang air besar dan kecil

Pada anak dengan mielomeningokel, saraf yang mengatur fungsi usus dan kandung kemih tidak bekerja dengan baik, jadi seringkali sulit untuk mengatur buang air besar dan buang air kecil.

[[artikel-terkait]]

Terapi untuk memaksimalkan tahap perkembangan anak dengan spina bifida

Berat atau tidaknya masalah perkembangan yang terjadi sangat bergantung pada tingkat keparahan kelainan saraf. Ada terapi yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan anak dengan spina bifida

1. Manajemen Buang Air Kecil

Pada anak yang fungsi kontrol kandung kemihnya terganggu, dibutuhkan pemasangan kateter urine sementara, membuat lubang pada kandung kemih (vesikostomi), atau pemasangan kateter urine tetap.

2. Manajemen Buang Air Besar

Jika kelainan saraf meliputi saraf tulang belakang S2-S4, fungsi otot sfinkter yang mengatur buka-tutup anus dapat terganggu. Hal ini menyebabkan anak dengan mielomeningokel tidak dapat merasakan sensasi ingin buang air besar. Konstipasi pun akan terjadi. Program untuk menangani masalah ini meliputi:

  • Waktu buang air yang terjadwal, yaitu setelah makan pagi atau malam
  • Sebagian dapat melakukan manufer Valsalva untuk buang air
  • Sebagian anak mungkin butuh bantuan orang tua untuk mengeluarkan kotorannya dengan jari atau penggunaan obat suppositoria (yang dimasukkan melalui anus)
  • Diet tinggi serat

3. Penggunaan Bracing dan Orthotics

Tujuannya adalah agar pasien dapat memaksimalkan fungsi ototnya sehingga dapat berjalan dan berpartisipasi dalam kegiatan. Dapat digunakan penyangga tungkai atau kursi roda untuk membantu mobilitas.

4. Terapi Fisik

Terapi fisik ditujukan agar anak tetap dapat mencapai target perkembangan motorik kasarnya, misalnya dengan membantu bayi yang lebih kecil untuk mengontrol kepala, anak yang lebih besar untuk berjalan, dan jika anak tidak dapat berjalan sama sekali, membantu anak agar lancar menggunakan kursi roda.

5. Terapi Okupasi

Fungsi motorik halus pada anak dengan spina bifida juga dapat terganggu, menyebabkan kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Terapi okupasi membantu anak untuk mencapai fungsi tubuh bagian atas yang stabil.

6. Terapi Rekreasional dan Olahraga

Tujuan dari terapi ini adalah untuk melibatkan anak dalam interaksi sosial, kontrol berat badan, dan memperbaiki kebugaran.

Anak dengan spina bifida bukan berarti harus menerima keterbatasan yang terjadi. Kualitas hidup dan kemandiriannya bisa ditingkatkan melalui berbagai terapi.

Artikel Terkait

Banner Telemed