Trauma dan tingkat stres yang tinggi dapat memunculkan sifat pemarah
Rasa amarah yang tidak terkontrol dapat menganggu hubungan Anda dengan orang lain

Amarah sebenarnya adalah sebuah bentuk emosi yang normal, bahkan sehat. Meski begitu, Anda tetap perlu memperhatikan cara mengendalikan emosi, agar bisa menghadapinya dengan positif.

Terlebih, jangan sampai kemarahan Anda ‘menular’, atau ikut membuat orang lain marah. Padahal, belum tentu kemarahan Anda itu tepat sasaran, bukan?

[[artikel-terkait]]

5 Cara mengendalikan emosi saat marah

Rasa marah yang tidak terkontrol dapat memberikan pengaruh buruk, pada hubungan dengan orang sekitar, bahkan terhadap kesehatan Anda. Beberapa cara ini bisa Anda coba untuk mengendalikan emosi dan menenangkan kembali hati Anda.

1. Kenali penyebab munculnya rasa marah

Sifat pemarah kerap dipicu oleh pengalaman masa kecil. Jika saat kanak-kanak Anda kerap melihat keluarga atau teman berteriak, berkelahi satu sama lain, atau bahkan melempar barang-barang, dapat muncul pemikiran bahwa hal tersebut merupakan cara yang normal untuk meluapkan amarah.

Terjadinya trauma dan tingkat stres yang tinggi, juga dapat memunculkan sifat pemarah. Agar dapat mengekspresikan kemarahan dengan cara yang lebih positif, Anda perlu benar-benar mengenali perasaan diri sendiri.

Apakah kemarahan tersebut Anda munculkan untuk menutupi perasaan lain seperti rasa malu, tidak percaya diri, dan menutupi kelemahan?

2. Waspadai tanda-tanda serta pemicu amarah

Rasa marah kerap muncul secara tiba-tiba. Namun tahukah Anda, tanpa disadari, tubuh sebenarnya akan memunculkan tanda-tanda emosi? Contoh tanda emosi yang dikeluarkan tubuh misalnya jantung yang berdetak lebih kencang, dan napas lebih cepat.

Hal lain yang dapat menjadi penanda suasana hati Anda sedang tidak baik antara lain:

  • Rahang terasa tegang
  • Sakit kepala
  • Perut terasa seperti terikat
  • Bahu terasa tegang
  • Muka menjadi merah
  • Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi

3. Pelajari cara untuk menenangkan diri

Setelah mengenali tanda-tanda yang muncul, cara mengendalikan emosi selanjutnya adalah dengan melakukan langkah-langkah untuk menenangkan diri. Dengan begitu, Anda dapat mencegah emosi keluar secara tidak terkontrol.

Saat emosi tengah melAnda, coba lakukan beberapa teknik relaksasi sederhana. Tarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, membayangkan pemAndangan yang memberikan ketenangan, atau mengulangi kata-kata yang dapat menenangkan seperti “sabar”.

Selain itu Anda juga dapat mendengarkan musik, menulis jurnal harian, atau melakukan yoga.

4. Temukan cara sehat untuk mengekspresikan kemarahan

Jika situasi yang sedang terjadi memang mengundang emosi, ada cara mengekspresikan rasa marah secara sehat, yang bisa Anda lakukan.

Ketika Anda mengomunikasikan penyebabnya dengan baik, rasa marah dapat membantu Anda berubah ke arah yang lebih baik.

Setelah merasa lebih tenang, cobalah untuk mengemukakan perasaan dengan cara yang tegas, tapi tetap santun.

Kemukakanlah kekhawatiran dan kebutuhan Anda secara jelas dan langsung pada intinya, tanpa menyakiti orang-orang, atau mencoba untuk mengontrol mereka.

5. Cari bantuan

Apabila keempat cara mengendalikan emosi di atas belum dapat membantu, maka langkah selanjutnya yang bisa Anda lakukan adalah mencari pertolongan dari tenaga profesional.

Anda bisa berkonsultasi dengan terapis, mengikuti kelas tertentu, maupun program untuk membantu mengendalikan emosi.

Ingat, meminta bantuan bukanlah tanda bahwa Anda lemah. Dengan mencari bantuan, Anda bahkan dapat bertemu dengan orang yang memiliki pengalaman emosi serupa. Sehingga, Anda bisa memperoleh masukan dalam mengendalikan emosi.

Semoga dengan mengikuti 5 cara mengendalikan emosi tersebut, Anda mampu menyalurkan kemarahan dengan cara yang baik. Dengan suasana hati yang baik, Anda pun bisa menjalani kegiatan sehari-hari secara lebih menyenangkan.

Rusting, C. L., & Nolen-Hoeksema, S. (1998). Regulating responses to anger: Effects of rumination and distraction on angry mood. Journal of Personality and Social Psychology. United States: PubMed

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/anger-management/art-20045434
Diakses pada 11 Februari 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/relationships-communication/anger-management.htm/
Diakses pada 11 Februari 2019

NHS UK. https://www.nhs.uk/conditions/stress-anxiety-depression/controlling-anger/
Diakses pada 11 Februari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed