Trauma Otak, Cedera Kepala yang Mengintai saat Olahraga

Sebagian besar kasus trauma otak disebabkan oleh olahraga dan kecelakaan lalu lintas
Trauma otak dapat terjadi saat berolahraga

Menggunakan helm saat mengendarai sepeda motor maupun sangat berolahraga sangat penting. Salah satu fungsinya adalah menghindarkan Anda dari trauma otak jika terjadi kecelakaan.

Trauma otak adalah gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh adanya hantaman, tabrakan, benturan, hingga penetrasi pada kepala. Tingkat keparahan trauma otak beragam mulai dari ringan hingga parah, tapi mayoritas trauma otak yang terjadi masih dalam kategori ringan atau biasa disebut sebagai gegar otak.

Tingkat keparahan ini memengaruhi gejala yang akan muncul pada penderita trauma otak. Dalam kasus yang ringan, penderita akan mengalami kebingungan serta sakit kepala yang hanya berlangsung beberapa saat. Sementara dalam trauma otak berat, penderitanya bisa mengalami kehilangan kesadaran, amnesia, cacat, koma, diabilitas permanen, hingga kematian.

Apa saja penyebab trauma otak?

Di Amerika Serikat, sebanyak 21% dari total kasus trauma otak disebabkan oleh aktivitas olahraga. Sementara penyebab utama trauma otak itu sendiri ialah kecelakaan motor yang jumlah penderitanya mencapai 50-70 persen dari total kasus trauma otak.

Ketika Anda mengalami benturan di kepala saat sedang berolahraga, Anda harus langsung menyudahi kegiatan olahraga itu, terlepas apakah benturan itu membuat Anda pingsan atau tidak. Anda pun sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat penangan pertama.

Penanganan pertama ini penting mengingat gejala trauma otak tidak selalu langsung muncul ketika terjadi benturan kepala. Tanda seseorang menderita gegar otak mungkin baru akan muncul 24 jam kemudian, bahkan beberapa minggu kemudian.

Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami trauma otak?

Pusat Penanganan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menggolongkan gejala trauma otak menjadi 4 kategori, yakni:

  • Kemampuan berpikir. Trauma otak pada seseorang biasanya ditandai dengan susah berpikir jernih, lambat berpikir (lemot), sulit konsentrasi, dan sulit mengingat informasi baru.

  • Kondisi fisik. Orang yang mengalami trauma otak akan merasakan sakit kepala, penglihatan kabur, mual atau muntah, pusing, sensitif terhadap cahaya atau suara, mengalami masalah keseimbangan, merasa lelah atau tidak berenergi.

  • Trauma kepala akan membuat emosi seseorang selalu buruk, sedih, lebih sensitif, dan kerap mengalami kecemasan.

  • Pola tidur. Trauma otak juga mengakibatkan seseorang lebih sering tidur, lebih jarang tidur, atau susah tertidur.

Jika Anda merasa mengalami gejala di atas setelah kecelakaan atau mengalami benturan kepala, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Penanganan trauma otak yang benar akan menghindarkan Anda dari bahaya serta komplikasi jangka panjang.

Bagaimana penanganan trauma otak yang benar?

Tujuan utama penanganan trauma otak ialah mencegah komplikasi jangka panjang. Pasalnya, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh dokter untuk mengembalikan fungsi otak yang sudah rusak karena trauma tersebut.

Langkah pertama yang akan dilakukan dokter adalah memastikan suplai oksigen dari dan menuju otak masih lancar, begitu pula tekanan darah secara keseluruhan. Berbagai tes bisa dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan penanganannya trauma otak, antara lain:

  • X-ray dari kepala hingga leher untuk mengecek ada atau tidaknya retakan pada tengkorak atau tulang belakang yang diakibatkan oleh kecelakaan atau benturan yang Anda alami.

  • CT scan untuk menentukan derajat trauma otak mulai dari skala sedang hingga berat.

Penderita trauma otak juga bisa diminta untuk menjalani terapi rehabilitasi yang meliputi banyak hal. Terapi tersebut misalnya terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, terapi obat, terapi psikologi, dan terapi sosial.

Tindakan operasi mungkin diperlukan jika Anda mengalami pendarahan di dalam otak dalam trauma otak yang parah. Selain itu, operasi juga dimaksudkan untuk memperbaiki tulang tengkorak yang retak, serta mengurangi tekanan pada otak jika cara-cara lain sudah tidak bisa menanggulanginya.

Apa saja bahaya dari trauma otak?

Di luar bahaya yang mengintai ketika terjadi kecelakaan atau benturan kepala, penderita trauma otak juga bisa mengalami masalah-masalah sebagai berikut:

  • Kejang: biasanya muncul di pekan-pekan pertama trauma otak.

  • Infeksi meningitis: jika membran di sekitar otak terbuka kemudian bakteri masuk ke dalamnya.

  • Kerusakan saraf: jika trauma mencapai dasar tengkorak, seseorang bisa mengalami paralisis otot wajah, visi ganda, masalah dengan pergerakan mata, dan kehilangan indera penciuman.

  • Masalah kognitif: yakni abnormalitas seseorang dalam hal fokus dan mencerna informasi, berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal, kemampuan menilai, multitasking, daya ingat jangka pendek, problem solving, dan mengatur pola pikir serta ide.

  • Perubahan kepribadian: ditandai dengan perilaku tidak santun.

  • Masalah pada panca indera: misalnya tinnitus (kuping berdenging), kesulitan mengenali objek tertentu, ceroboh karena koordinasi mata-tangan tidak baik, visi ganda, penciuman dan indera perasa yang buruk.

  • Masalah saraf: depresi, Alzheimer, Parkinson, dan lain-lain.

  • Koma yang mungkin berakhir dengan kematian.

Jika Anda mengalami salah satu dari keadaan di atas, segera periksakan diri ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

CDC. https://www.cdc.gov/traumaticbraininjury/get_the_facts.html
Diakses pada 23 Agustus 2019

American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Traumatic-Brain-Injury
Diakses pada 23 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/179837.php
Diakses pada 23 Agustus 2019

National Institute of Neurological Disorders. https://www.ninds.nih.gov/disorders/all-disorders/traumatic-brain-injury-information-page
Diakses pada 23 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed