Syok Septik, Penyebab Kematian Akibat Infeksi Darah

Syok septik terjadi saat penderita sepsis mengalami tekanan darah yang sangat rendah
Bayi dan lansia lebih mudah terkena sepsis atau syok septik.

Syok septik terjadi ketika penderita sepsis mengalami tekanan darah yang sangat rendah. Darah kemudian tidak mampu mengalir ke beberapa organ vital dalam tubuh untuk mengantar oksigen.

Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis. Pasalnya, syok septik dapat meningkatkan risiko gagal organ hingga kematian pada penderita sepsis.

Mekanisme sepsis dan syok septik

Dalam kondisi normal, tubuh merespons adanya infeksi dengan melepaskan zat-zat pemicu peradangan atau inflamasi. Reaksi ini berfungsi untuk membantu tubuh dalam membunuh penyebab infeksi.

Bila infeksi yang terjadi tergolong sangat parah dan tidak ditangani dengan saksama, bakteri atau virus bisa masuk ke dalam aliran tubuh dan menyebabkan beragam komplikasi. Tubuh pun kemudian melepaskan lebih banyak zat-zat inflamasi untuk memerangi infeksi.

Ketika tubuh kehilangan kendali atas zat-zat di balik inflamasi tersebut, mereka berbalik menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh hingga merusak organ dalam yang vital. Efeknya, kinerja organ-organ akan terganggu. Fungsinya bahkan bisa terhenti sepenuhnya alias gagal organ. Inilah yang terjadi pada tubuh penderita sepsis.

Jika kondisi sepsis tidak segera ditangani, tubuh penderita bisa mengalami syok septik. Dalam kondisi ini, tekanan darah penderita akan menjadi sangat rendah dan tidak bisa memberikan asupan darah maupun oksigen. Akibatnya, kerusakan hingga gagal organ akan terjadi dan mengancam nyawa penderita.

Siapa saja yang berisiko terkena sepsis dan syok septik?

Tidak semua orang yang mengidap infeksi otomatis pasti akan mengalami sepsis atau syok septik. Terdapat beberapa kelompok orang yang lebih rentan untuk mengalami kedua kondisi darurat medis ini. Apa sajakah faktor-faktor risiko tersebut?

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV atau penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Faktor usia. Sepsis dan syok septik lebih mudah terjadi pada bayi dan kalangan lanjut usia (lansia), terutama yang berusia di atas 65 tahun.
  • Memiliki kondisi medis tertentu, seperti diabetes, kanker, atau sirosis (jaringan parut pada organ hati).
  • Mengalami cedera atau luka, contohnya luka bakar.
  • Mengalami sakit berat atau sering menjalani perawatan di unit gawat darurat rumah sakit.
  • Menggunakan alat medis yang harus dimasukkan ke dalam tubuh. Contohnya, kateter atau alat bantu pernapasan.
  • Pernah mengonsumsi antibiotik atau kortikosteroid dalam waktu dekat.

Bagi Anda yang memiliki kondisi di atas, dihimbau untuk lebih waspada. Anda dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan secara rutin agar kondisi Anda bisa dipantau dengan saksama.

Komplikasi akibat sepsis dan syok septik

Jika tidak segera ditangani, sepsis bisa mengakibatkan kerusakan organ vital. Mulai dari otak, jantung, hingga ginjal. Kondisi ini kemudian berujung pada gagal organ dan kematian.

Sepsis juga dapat menyebabkan gumpalan darah pada organ maupun kaki dan tangan. Gumpalan darah ini dipicu oleh kerusakan pembuluh darah yang menyebabkan faktor pembekuan darah. Gumpalan darah tersebut menghalangi aliran darah dan menyebabkan kematian jaringan tubuh atau gangrene.

Mayoritas penderita sepsis tingkat awal hingga menengah bisa disembuhkan. Namun ketika sepsis sudah mengakibatkan syok septik, harapan hidup penderita akan menurun. Maka, kunci dari penanganan syok septik dan sepsis adalah kecepatan dan ketepatan penangananya. Oleh sebab itu, kunci utamanya adalah penanganan syok septik dan sepsis yang dilakukan secepat mungkin.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sepsis/symptoms-causes/syc-20351214
Diakses pada 17 Mei 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000668.htm
Diakses pada 17 Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/311549.php
Diakses pada 17 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed