Syok Hipovolemik, Kondisi Mematikan Saat Tubuh Kekurangan Cairan

Penyebab syok hipovolemik adalah kehilangan banyak cairan secara tiba-tiba dalam waktu singkat
Syok hipovilemik terjadi saat tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat

Syok hipovolemik merupakan kondisi berbahaya yang terjadi saat tubuh secara tiba-tiba kehilangan banyak darah ataupun cairan tubuh lainnya. Kehilangan cairan yang parah ini membuat jantung tidak bisa memompa darah dalam jumlah yang cukup ke seluruh tubuh dan berujung pada kondisi kegagalan organ.

Dibanding jenis syok lainnya, syok hipovolemik adalah jenis yang paling umum terjadi, terutama pada anak-anak dan lansia. Kondisi ini termasuk sebagai salah satu kegawatdaruratan. Sehingga apabila tanda-tanda syok ini muncul, orang yang mengalaminya perlu segera ditangani.

Penyebab syok hipovolemik

Syok hipovolemik bisa terjadi saat tubuh kehilangan cairan, baik darah maupun cairan selain darah. Berikut ini beberapa penyebab yang bisa membuat tubuh kehilangan banyak darah secara tiba-tiba:

  • Adanya luka tusuk atau luka terbuka di kepala dan leher
  • Kecelakaan parah yang menyebabkan perdarahan di organ dalam perut seperti ginjal, limpa, dan hati
  • Patah tulang di sekitar pinggul
  • Gangguan pencernaan, seperti tukak lambung atau luka yang muncul di lambung
  • Kehamilan ektopik, kondisi dimana janin tumbuh di luar rahim
  • Sobeknya pembuluh darah besar di jantung
  • Abrupsio plasenta, yang menyebabkan plasenta lepas dari rahim
  • Komplikasi persalinan
  • Pecahnya kista ovarium
  • Endometriosis

Sementara itu, berikut ini kondisi yang bisa menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan secara tiba-tiba:

  • Dehidrasi
  • Diare dan muntah-muntah
  • Demam tinggi
  • Berkeringat sangat parah
  • Penyakit ginjal dan konsumsi obat diuretik
  • Sirkulasi cairan di tubuh tidak lancar akibat penyakit seperti pankreatitis atau sumbatan usus.
  • Luka bakar yang parah

Tanda-tanda syok hipovolemik

Tanda-tanda syok hipovolemik yang muncul pada penderitanya bisa berbeda, tergantung jumlah cairan yang berkurang, seperti berikut ini.

• Gejala syok hipovolemik ringan hingga sedang

Beberapa gejala yang akan dirasakan apabila Anda mengalami syok hipovolemik ringan hingga sedang antara lain:

  • Pusing
  • Lemas
  • Mual
  • Linglung
  • Keringat mulai mengucur banyak

• Gejala syok hipovolemik yang parah

Sementara itu, pada kondisi yang semakin parah, beberapa gejala di bawah ini bisa timbul:

  • Tubuh mulai dingin
  • Pucat
  • Napas pendek-pendek
  • Jantung berdebar kencang
  • Lemas
  • Bibir dan kuku mulai membiru
  • Kepala terasa ringan, dan terasa pusing
  • Linglung
  • Tidak ada rasa ingin buang air kecil
  • Denyut nadi teraba lemah
  • Badan lemas
  • Pingsan

Syok hipovolemik juga bisa terjadi akibat perdarahan yang terjadi secara internal atau pada organ dalam. Saat hal ini terjadi, ada beberapa gejala khas yang bisa muncul, seperti:

Pembagian syok hipovolemik berdasarkan tingkat keparahannya

Syok hipovolemik memiliki empat tingkat keparahan, dan masing-masingnya bisa menunjukkan gejala yang berbeda. Tingkat keparahan ini ditentukan dari jumlah cairan tubuh yang sudah hilang. Semakin banyak cairan yang hilang, maka semakin parah kondisinya.

1. Tingkat 1

Tingkat pertama adalah tingkat keparahan paling rendah. Kondisi ini biasanya terjadi di awal dan bisa saja secara cepat langsung berkembang ke tingkat keparahan berikutnya.

Pada tingkatan paling awal ini, volume darah sudah berkurang sebanyak 15% atau kurang lebih 750 ml. Karena pada fase ini tekanan darah dan pernapasan biasanya masih normal, diagnosis terkadang jadi sulit dilakukan.

2. Tingkat 2

Di tingkat selanjutnya, volume darah di tubuh sudah berkurang hingga 30% atau sekitar 1500 ml. Pada tahap ini sudah terlihat adanya peningkatan detak jantung maupun frekuensi pernapasan. Tekanan darah biasanya masih dalam rentang normal, tapi nilai diastoliknya mulai terlihat naik.

Diastolik merujuk pada angka yang berada di bawah penyebutan tekanan darah. Misalnya tekanan darah adalah 120/80 mmHg, maka tekanan sistoliknya adalah 120 dan diastoliknya 80.

3. Tingkat 3

Syok hipovolomelik tingkat 3 ditandai dengan hilangnya 30%-40% darah atau setara 1.500-2.000 ml. Pada fase ini, tekanan darah sudah mulai menurun drastis dan detak jantung pun semakin kencang dan frekuensi pernapasan semakin cepat.

4. Tingkat 4

Tingkat 4 adalah tingkatan terakhir dan merupakan yang paling parah, volume darah di tubuh sudah berkurang lebih dari 40% atau sekitar 2000 ml. Orang yang mengalami kondisi ini umumnya sudah masuk ke fase kritis. Tekanan darah sistolik sudah menyentuh angka 70 dan bisa terus turun. Detak jantungnya pun akan semakin kencang.

Semua tingkat keparahan syok hipovolemik membutuhkan penanganan yang tepat. Jangan menunda untuk mencari perawatan, meski yang dirasakan adalah gejala pada tingkat keparahan paling rendah.

Pertolongan pertama untuk syok hipovolemik

Syok hipovolemik yang tidak segera ditangani bisa berujung pada kematian. Sehingga, saat seseorang menunjukkan tanda-tanda syok seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, segera panggil bantuan medis.

Lalu, sambil menunggu bantuan datang, lakukanlah pertolongan pertama dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Posisikan orang tersebut dalam posisi terlentang .
  • Ganjal posisi kaki agar sedikit naik dengan benda setinggi kurang lebih 30 cm.
  • Apabila ini adalah korban kecelakaan dan Anda curiga ia mengalami cedera kepala, leher atau punggung, jangan pindahkan posisinya hingga bantuan medis datang.
  • Jaga orang tersebut agar tetap hangat dan terhindar dari hipotermia.
  • Jangan berikan cairan apapun melalui mulut.
  • Jangan angkat kepala orang tersebut atau memberikan bantalan di bawah kepalanya.
  • Bersihkan debu, tanah atau kotoran lain disekitarnya tanpa mencabut apapun yang menancap di tubuh korban, termasuk pisau, kaca, kayu, atau yang lain.
  • Apabila di tubuh korban tidak terlihat ada benda yang menancap dan terlihat cukup bersih dari kotoran dan debu, Anda bisa membalut lukanya dengan kain untuk mengurangi perdarahan.
  • Jika memungkinkan, balut luka tersebut agak kencang untuk memberikan tekanan pada jaringan agar proses perdarahan cepat berhenti.

Penanganan lanjutan untuk syok hipovolemik

Untuk menangani syok hipovolemik, tenaga medis akan langsung berusaha untuk menggantikan cairan yang hilang dengan memasang infus dan melakukan transfusi darah. Selain itu, tentu saja kondisi-kondisi lain yang menyertai syok tersebut seperti luka atau cedera juga akan sambil ditangani.

Dokter juga mungkin akan memberikan obat antibiotik untuk mencegah infeksi atau sepsis. Obat untuk meningkatkan kekuatan jantung juga akan diberikan agar organ ini bisa memompa lebih banyak darah, sehingga sirkulasi di tubuh bisa kembali normal. Beberapa obat yang mungkin akan diberikan antara lain:

Waktu adalah kunci yang sangat penting dalam penanganan syok hipovolemik. Terlambat sedikit saja, cairan yang hilang bisa meningkat drastis dan kondisi tubuh akan menurun dalam waktu cepat. Sehingga, mengenali gejala dan tanda syok ini merupakan langkah krusial dan bekal yang sangat berguna jika terjadi kejadian-kejadian darurat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/hypovolemic-shock
Diakses pada 8 Juni 2020

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/hypovolemic-shock#1
Diakses pada 8 Juni 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312348
Diakses pada 8 Juni 2020

Artikel Terkait