Susu Soya untuk Bayi, Apakah Cocok sebagai Pengganti Susu Sapi?

(0)
Susu soya untuk bayi perlu dipertimbangkan untuk bayi alergi susu sapiSusu soya untuk bayi kerap dipilih sebagai alternatif susu sapi
Susu soya untuk bayi merupakan salah satu alternatif susu formula. Susu ini menggunakan kacang kedelai sebagai bahan dasar.Susu kedelai untuk bayi ini dipercaya bisa menggantikan kebutuhan susu sapi untuk bayinya yang memiliki intoleransi laktosa maupun galaktosemia. Kondisi ini membuat bayi tidak mampu untuk mencerna senyawa laktosa dan galaktosa dalam produk susu.Keadaan lain yang hampir serupa adalah alergi susu sapi. Meskipun dua hal tersebut adalah kondisi yang berbeda, tetapi keduanya menimbulkan efek yang mengganggu saat penderitanya mengonsumsi susu sapi.

Apa saja kandungan gizi susu soya?

Susu soya untuk bayi mengandung protein yang serupa susu sapi
Susu soya untuk bayi mengandung protein yang hampir setara dengan susu sapi pada umumnya. Segelas susu sapi mengandung 8 gram protein. Sementara, kandungan protein dalam segelas susu soya yang tidak diberikan tambahan gula adalah 7 gram.Segelas susu soya tanpa tambahan gula mengandung 80 hingga 100 kalori, 4 gram karbohidrat, dan 4 gram lemak.Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan segelas susu sapi yang mengandung 150 kalori, 12 gram karbohidrat, dan 8 gram lemak. Tidak kalah dari susu sapi, segelas susu soya tanpa gula mengandung 301 mg kalsium. Kandungan kalsium sebesar itu telah mencakup 30 persen dari rekomendasi kalsium harian Anda. Kelebihan susu soya untuk bayi lainnya adalah mengandung zat besi yang dapat membantu sel-sel darah merah untuk menyalurkan oksigen dengan baik.Kandungan asam amino yang lengkap pada susu soya sangat dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dikarenakan asam amino tersebut akan diubah menjadi protein-protein baru.Ini dapat membantu sistem imun tubuh, enzim-enzim yang memproduksi energi, serta protein-protein yang menguatkan jaringan.Riset yang terbit pada jurnal Antioxidants menemukan, susu kedelai juga mampu melindungi DNA dari kerusakan akibat radikal bebas (kerusakan oksidatif). Hal ini dikarenakan kandungan isoflavon pada kedelai berperan sebagai antioksidan.

Bagaimana keamanan memberikan susu soya untuk bayi?

Walaupun kaya akan nutrisi, masalah susu formula soya ini tetap ditemukan untuk bayi.Sebenarnya, susu soya hanya diperuntukkan bagi anak yang memiliki galaktosemia, intoleransi laktosa, ataupun bayi memiliki alergi protein susu sapi.Perlu diingat, susu kedelai formula tidak boleh diberikan pada bayi usia 6 bulan ke bawah. Sebab, nutrisi utama bayi untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya adalah ASI eksklusif.Lebih lanjut, inilah alasan mengapa susu kedelai tidak direkomendasikan untuk bayi:

1. Meningkatkan risiko kerusakan gigi

Susu soya untuk bayi ada gula tambahan dan sebabkan gigi rusak
Susu soya untuk bayi diproduksi dalam bentuk susu formula. Biasanya, susu kedelai untuk bayi ini diberi tambahan pemanis, baik berupa gula ataupun pemanis buatan lainnya. Asupan tinggi gula terbukti tidak baik untuk kesehatan gigi bayi.

2. Menghambat pertumbuhan sel

Fitoestrogen pada susu soya untuk bayi pengaruhi sistem organ
Berdasarkan temuan yang terbit pada jurnal German Medical Science, susu kedelai mengandung fitoestrogen, yaitu zat yang menyerupai hormon estrogen yang berasal dari tanaman.Kandungan ini bisa ditemukan pada isoflavon pada kacang kedelaiSayangnya, menurut penelitian pada jurnal Frontiers in Neuroendocrinology, fitoestrogen ini justru menghambat pertumbuhan sel. Hal ini akan memengaruhi beragam sistem organ.

3. Meningkatkan risiko alergi

Susu soya untuk bayi picu ruam kulit akibat alergi kedelai
Dikhawatirkan, memberikan susu soya untuk bayi berusia sebelum 6 bulan berisiko meningkatkan alergi kedelai. Tanda-tanda anak alergi susu kedelai untuk bayi adalah diare, muntah, rewel, ruam kulit, hingga pembengkakan pada bagian wajah, bibir, dan kulit.

Bagaimana cara memberikan susu soya untuk bayi yang tepat?

Beri susu soya untuk bayi yang terbuat dari biji kedelai utuh
Susu soya hanya boleh diberikan untuk Si Buah Hati jika ia memiliki masalah dengan susu sapi. Sebelum memberikan susu kedelai untuk bayi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak.Inilah yang harus Anda pertimbangkan jika akan memberikan susu kedelai formula:
  • Beri susu soya untuk bayi yang terbuat dari biji kedelai utuh. Pastikan susu soya formula diberi tambahan vitamin A, D, kalsium, dan omega-3 yang berguna untuk perkembangan otaknya.
  • Beri asupan kalsium lebih banyak, sebab susu soya untuk bayi mengandung zat phytate yang menurunkan kemampuan penyerapan kalsium serta ragam mineral lainnya.
  • Cukupi kebutuhan vitamin B12, jika Si Kecil memilih untuk mengonsumsi susu soya, ia tidak mendapatkan sumber vitamin B12 yang berasal dari sumber makanan hewani, termasuk dari susu sapi.

Apa susu yang direkomendasikan selain susu kedelai?

Rupanya, jika anak tidak bisa mengonsumsi susu sapi, ada jenis dua susu formula yang lebih direkomendasikan daripada susu dengan bahan dasar kedelai.Perlu diketahui, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menemukan, 10-14% anak yang alergi susu sapi juga alergi terhadap susu kedelai untuk bayi.Untuk itu, IDAI merekomendasikan susu formula lainnya untuk anak yang bermasalah dengan susu sapi, yaitu:

1. Susu formula terhidrolisis ekstensif

Susu terhidrolisis ekstensif lebih baik daripada susu soya untuk bayi, 
Jenis susu yang lebih dianjurkan oleh IDAI adalah susu terhidrolisis ekstensif atau extensively hydrolyzed. Susu ini memiliki sifat hipoalergenik. Sebab, susu jenis ini mengandung protein yang yang telah dipecah lebih kecil.Jadi, tubuh pun tidak melihat "pecahan kecil" ini sebagai pencetus alergi. Oleh karena itu, reaksi alergi yang ditimbulkan pun minim.Selain itu, susu extensively hydrolyzed juga diperkaya kandungan DHA dan ARA. Kedua kandungan ini adalah asam lemak yang berguna untuk perkembangan otak bayi.

2. Susu formula asam amino

Selain susu soya untuk bayi, pilih susu asam amino bebas 
Susu formula lainnya yang direkomendasikan IDAI adalah susu formula asam amino. Susu ini mengandung asam amino bebas.Ini merupakan bentuk protein yang paling sederhana. Asam amino bebas ini bisa memenuhi kebutuhan nitrogen bayi.Bahkan, alih-alih susu dari kedelai, susu formula asam amino lebih direkomendasikan untuk anak dengan alergi susu sapi berat.

Catatan dari SehatQ

Susu soya untuk bayi diberikan jika Si Kecil mengalami masalah saat mengonsumsi susu bayi, mulai dari intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi, maupun galaktosemia.Namun, perlu diingat, susu kedelai tidak boleh diberikan pada anak usia di bawah 6 bulan. Hal ini mampu memicu risiko bayi mengalami alergi kacang kedelai.Sebenarnya, susu kedelai formula tidak begitu direkomendasikan, mengingat ada beberapa hal yang cukup berisiko bagi bayi. Beberapa risiko mengonsumsi susu kedelai adalah kerusakan gigi hingga pertumbuhan sel terhambat.Jika Anda ingin memberikan susu soya untuk Buah Hati Anda, sebaiknya konsultasikan melalui chat dokter anak di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Jika Anda ingin melengkapi keperluan susu formula untuk bayi, kunjungi untuk mendapatkan penawaran menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
alergi susuintoleransi laktosasusu formulasusu kedelai
Healthline.
https://www.healthline.com/health/milk-almond-cow-soy-rice
Diakses pada 29 Maret 2019
Live Strong.
https://www.livestrong.com/article/425074-soy-milk-advantages-and-disadvantages/
Diakses pada 29 Maret 2019
Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/vegetarian-diet/art-20046446
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lactose-intolerance/symptoms-causes/syc-20374232
Diakses pada 29 Maret 2019
Okezone
https://lifestyle.okezone.com/read/2019/03/19/481/2032040/alasan-orang-indonesia-banyak-yang-intoleransi-laktosa?page=1
Diakses pada 29 Maret 2019
WebMD.
https://www.webmd.com/diet/news/20180201/cow-soy-or-almond-which-milk-is-best-for-you#1
Diakses pada 29 Maret 2019
Antioxidants. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7402135/
Diakses pada 3 November 2020
German Medical Science. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4270274/
Diakses pada 3 November 2020
Frontiers in Neuroendocrinology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3074428/
Diakses pada 3 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait