Ternyata Susu Pertumbuhan Efektif Tekan Risiko Anak Stunting

Memberikan susu pertumbuhan pada anak dapat mengurangi kasus anak stunting di Indonesia
Risiko anak stunting dapat ditekan lewat susu pertumbuhan.

Penelitian terbaru akhir tahun 2018 lalu menunjukkan bahwa konsumsi susu pertumbuhan (growing-up milk) dapat menekan jumlah angka anak stunting di Indonesia.

Tingginya kasus stunting di Indonesia disebabkan oleh konsumsi protein hewani yang masih rendah.

[[artikel-terkait]]

Masih dari penelitian yang sama, stunting yang merupakan kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan ini biasanya terjadi di keluarga berstatus ekonomi rendah.

Ditambah lagi, orang tua anak stunting kerap belum mendapatkan edukasi yang cukup mengenai gizi dan tumbuh kembang anak.

Bahaya sindrom anak Stunting

Pada tahun 2017 lalu, jumlah angka kasus penyakit anak stunting di dunia sebesar 22,2. Indonesia adalah negara dengan jumlah anak stunting terbanyak kelima di seluruh dunia.

Ancaman stunting begitu nyata bagi generasi masa depan. Dampak stunting di masa awal pertumbuhan dapat mengakibatkan gangguan perkembangan kognitif anak.

Terhambatnya pertumbuhan ini juga berarti penurunan kualitas sumber daya manusia. Dalam jangka panjang, stunting akan berdampak pada produktivitas ekonomi dan fungsi reproduksi wanita.

Itu sebabnya para peneliti dan ahli gizi di seluruh dunia tak berhenti mencari tahu akar masalah dari stunting serta cara mengatasinya. Kabar baiknya, susu pertumbuhan bisa jadi harapan.

Penelitian tentang susu pertumbuhan anak dan anak stunting

Indonesia menghadapi masalah anak stunting dan anak obesitas dengan porsi yang sama-sama mengkhawatirkan. Ada lebih dari 37% kasus stunting. Di sisi lain, 14% anak mengalami kelebihan berat badan hingga mengalami obesitas.

Bahkan, prevalensi stunting di 15 provinsi lebih dari 40%. Studi dari Indonesian South East Asian Nutrition tahun 2012 lalu menemukan bahwa faktor pemicu stunting adalah rendahnya konsumsi protein.

Berangkat dari keprihatinan itu, tim peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia melakukan survei kepada 300 responden. Mereka adalah anak-anak sehat berusia 1-3 tahun yang tinggal di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.

Dalam penelitian yang dilakukan mulai dari Oktober 2013 hingga Januari 2014 ini, tinggi dan bobot setiap anak diukur selama tiga hari. Data Ironcheq mereka juga dikumpulkan lewat kuisioner tentang konsumsi susu pertumbuhan.

Bagaimana hasilnya?

Dari 172 responden (41 anak stunting dan 131 anak cukup gizi), ditemukan bahwa stunting lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Selain itu, prevalensi stunting lebih banyak terjadi pada keluarga dengan ekonomi dan akses pendidikan rendah.

Dalam kaitannya dengan asupan protein, ada lima jenis protein yang menjadi parameter dalam penelitian, yaitu:

  • susu pertumbuhan
  • daging merah
  • hati
  • olahan daging
  • telur

Kelima jenis makanan di atas adalah sumber zat besi hewani. Untuk susu pertumbuhan, apabila konsumsinya dalam sehari lebih dari 600 ml, maka anak rentan mengalami obesitas.

Di sisi lain, konsumsi susu pertumbuhan sekitar 300 ml per hari bisa melindungi anak dari risiko stunting. Porsi 300 ml susu pertumbuhan per hari ini sejalan dengan rekomendasi WHO untuk menangani malnutrisi akut pada anak.

Setidaknya, 25-33% sumber protein akan berdampak positif pada penambahan berat badan dan pertumbuhan linear anak.

Harapan untuk anak stunting di Indonesia

Penelitian ini menjadi titik cerah bagi kasus stunting di Indonesia. Dari penelitian selama lima bulan tersebut, diketahui bahwa susu pertumbuhan memiliki dampak dalam menekan jumlah anak stunting di Indonesia

Dari titik ini, saatnya praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, hingga orangtua sama-sama bergandengan tangan untuk menekan angka stunting pada generasi masa depan Indonesia.

Medical Journal of Indonesia. http://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/view/2607/1315
Diakses pada 19 Mei 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5726774/
Diakses pada 25 Mei 2019

UNICEF. https://data.unicef.org/topic/nutrition/
Diakses pada 19 Mei 2019

WHO. https://www.who.int/nutrition/healthygrowthproj_stunted_videos/en/
Diakses pada 19 Mei 2019

Wiley Online Library. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1740-8709.2011.00349.x
Diakses pada 25 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed