Susu Pasteurisasi dan Susu UHT Ternyata Berbeda, Ini Penjelasannya

Susu pasteurisasi dan susu UHT sama-sama baik, tapi memang ada perbedaan dalam pengolahannya.
Susu pasteurisasi dan susu UHT berbeda dari segi pengolahannya.

Saat melihat rak susu di supermarket, pernahkah Anda memperhatikan ada begitu banyak jenis susu yang dijual? Susu pasteurisasi dan susu UHT, biasanya jadi jenis yang paling banyak dicari.

Sebenarnya, apa itu susu pasteurisasi dan susu UHT? Keduanya sebenarnya sama-sama susu sapi. Hanya saja, cara pengolahan keduanya berbeda. Ada beberapa hal yang membedakan keduanya, mulai dari suhu pemanasan, hingga ketahanan penyimpanan.

Meski berbeda jenis, keduanya sama-sama baik untuk tubuh. Sebab proses pengolahannya, baik untuk susu pasteurisasi maupun susu UHT sudah mengurangi jumlah bakteri maupun patogen lain penyebab penyakit yang ada pada susu mentah.

Perbedaan susu pasteurisasi dan susu UHT

Susu pasteurisasi dan susu UHT merupakan jenis susu kemasan yang paling banyak dijual di supermarket terdekat. Meski sekilas terlihat sama, keduanya memiliki perbedaan yang mungkin akan menjadi pertimbangan Anda ketika membelinya, yaitu:

1. Suhu pemanasan

Baik susu pasteurisasi maupun susu UHT, sama-sama dipanaskan di suhu dan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini ditujukan untuk mematikan sumber penyakit yang mungkin terdapat di susu, seperti bakteri atau patogen lainnya.

Namun, susu pasteurisasi dipanaskan di suhu yang lebih rendah daripada susu UHT. Susu pasteurisasi dapat dipanaskan melalui beberapa metode, dengan suhu dan jangka waktu yang berbeda. Namun umumnya, pemasanan dilakukan pada suhu 72°C selama 15 detik. Sementara itu, susu UHT dipanaskan di suhu yang sangat tinggi, yaitu 138°C, selama kurang lebih dua detik.

2. Tingkat sterilisasi

Pengolahan dengan suhu sangat tinggi yang dilalui susu UHT, membuatnya lebih steril dibandingkan dengan susu pasteurisasi. Pada susu UHT, hampir semua bakteri bisa dibasmi, dan menjadikan susu ini hampir 100% steril.

Sementara itu pada susu pasteurisasi masih ada beberapa bakteri yang tersisa. Namun, bakteri tersebut umumnya bukanlah jenis yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya.

Untuk menghindari kontaminasi lebih lanjut, susu pasteurisasi akan melewati tahap tambahan dalam pengolahannya. Setelah selesai dipanaskan pada suhu sekitar 72°C tersebut, susu akan langsung didinginkan hingga suhu sekitar 4,4°C.

3. Rasa susu

Susu pasteurisasi dan susu UHT memiliki penampakan yang berbeda. Karena dipanaskan di suhu yang lebih tinggi, susu UHT umumnya lebih terasa lebih “matang” dan warnanya terlihat lebih kecokelatan. Sementara itu, susu pasteurisasi memiliki rasa yang lebih mirip dengan susu segar dan warnanya lebih terang.

4. Pengemasan

Kemasan susu pasteurisasi umumnya terbuat dari kertas karton atau plastik. Sementara itu, susu UHT umumnya disimpan di dalam wadah yang meski dari luar terlihat seperti kertas karton serupa, tapi di dalamnya terdapat setidaknya lima lapisan tambahan atau di dalam wadah kaleng.

5. Waktu kadaluarsa

Sifat susu pasteurisasi hampir sama dengan susu segar. Susu jenis ini umumnya hanya bisa disimpan selama 10-21 hari di dalam kulkas. Sementara itu susu UHT dapat disimpan hingga lebih dari 6 bulan tanpa kulkas, selama kemasan tidak terbuka.

Susu pasteurisasi dan susu UHT lebih baik dari susu segar yang mentah

Melihat perbedaan susu pasteurisasi dan susu UHT di atas, Anda mungkin bertanya-tanya, manakah yang lebih baik? Namun sebenarnya, tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Sebab, semuanya tergantung dari kebutuhan dan preferensi masing-masing orang.

Satu hal yang pasti, keduanya lebih baik dibandingkan dengan susu segar yang tidak diolah dengan cara benar. Sebab, susu tersebut bisa mengandung berbagai bakteri yang berbahaya bagi kesehatan.

Susu segar yang mentah, bisa saja mengandung bakteri seperti Salmonella, E.coli, dan bakteri-bakteri lain penyebab keracunan makanan. Bakteri tersebut juga berisiko menimbulkan gangguan serius pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, kanker, dan diabetes.

Bakteri-bakteri tersebut juga berbahaya untuk kelompok individu yang rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Apabila Anda merasakan gejala-gejala di bawah ini setelah mengonsumsi susu, maka kemungkinan mengalami keracunan makanan:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit perut
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Tidak enak badan

Segera hubungi dokter apabila gejala tersebut terjadi. Dokter akan memberikan penanganan yang sesuai agar kondisi tidak bertambah parah.

Keracunan makanan akibat susu yang terkontaminasi, umumnya bisa sembuh dengan baik setelah beberapa hari pengobatan. Namun pada kelompok individu yang rentan, kondisi ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang parah. Jadi, jangan menyepelekannya.

Baik susu pasteurisasi maupun susu UHT, sebaiknya tidak diberikan pada anak yang masih berusia di bawah satu tahun, atau jika anak masih menerima ASI.

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/uht-treatment
Diakses pada 3 Februari 2020

Encyclopedia Brittanica. https://www.britannica.com/topic/dairy-product/Physical-and-biochemical-properties
Diakses pada 3 Februari 2020

U.S Food and Drug Administration. https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/dangers-raw-milk-unpasteurized-milk-can-pose-serious-health-risk
Diakses pada 3 Februari 2020

Department of Food Science, Cornell University. https://foodsafety.foodscience.cornell.edu/sites/foodsafety.foodscience.cornell.edu/files/shared/documents/CU-DFScience-Notes-Milk-Pasteurization-UltraP-10-10.pdf
Diakses pada 3 Februari 2020

Artikel Terkait