Susu untuk Ibu Hamil Ternyata Tidak Cukup untuk Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Harian

Mengonsumsi susu untuk ibu hamil saja tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian
Susu tidaklah cukup sebagai sumber zat besi utama untuk ibu hamil

Tubuh menggunakan zat besi untuk pembentukan sel darah merah, yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Pada masa kehamilan, ibu membutuhkan asupan zat besi tambahan. Zat besi tambahan ini diperlukan untuk membantu tubuh menghasilkan lebih banyak darah yang digunakan untuk memasok oksigen ke janin. Oleh sebab itu, peran zat besi sangatlah penting bagi ibu hamil.

Asupan harian zat besi yang dianjurkan dalam satu hari adalah sebesar 27 mg. Akan tetapi, jika ibu hamil didiagnosis terkena anemia defisiensi besi, maka kebutuhan harian zat besinya harus ditingkatkan menjadi 120 mg sampai kadar hemogoblin kembali normal.

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh. Anemia ini banyak menimpa ibu hamil dan bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Ibu hamil bisa mendapatkan asupan zat besi dari berbagai sumber yang direkomendasikan, seperti sayuran berwarna hijau keabuan, daging merah, dan kacang-kacangan. Susu sebenarnya juga mengandung zat besi, namun tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya sumber zat besi bagi ibu hamil.

Susu sebagai penambah zat besi

Susu memang bisa digunakan untuk menambah asupan zat besi bagi ibu hamil, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Susu murni memiliki kandungan zat besi yang lebih sedikit dibandingkan susu lainnya, yaitu sekitar 0,07 mg dalam satu cangkir. Sementara, susu sapi yang mengandung lemak atau tanpa lemak masing-masing mengandung 0,15 mg zat besi dalam satu cangkirnya.

Jika Anda tidak dapat mengonsumsi susu sapi, susu almond bisa menjadi alternatif terbaik dalam memilih susu yang mengandung zat besi. Susu almond bebas dari lemak jenuh dan kolesterol. Selain itu, susu ini juga kaya akan serat, zat besi, kalsium, dan protein. Tingkat kalorinya pun rendah dan memiliki antioksidan yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Kandungan zat besi yang sedikit ini tentunya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian bagi ibu hamil. Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, ibu hamil bisa mengalami kekurangan zat besi sehingga penyakit anemia defisiensi besi bisa terjadi.

Kondisi ini akan membahayakan ibu dan janinnya. Saat anemia defisiensi menyerang, tubuh tidak mampu memproduksi sel darah merah yang cukup. Padahal, sel darah merah memiliki peran krusial dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh dan janin. Oleh karena itu, suplemen zat besi tambahan diperlukan untuk melengkapi susu dalam memenuhi kebutuhan zat besi.

[[artikel-terkait]]

Suplemen zat besi tambahan

Rendahnya zat besi yang terkandung dalam susu, membuatnya tidak cukup menjadi satu-satunya sumber zat besi harian bagi ibu hamil. Sebagai asupan tambahan, ibu dapat mengonsumsi suplemen zat besi.

Suplemen oral zat besi yang mengandung 30-60 mg zat besi, dianjurkan untuk dikonsumsi ibu hamil setiap harinya untuk mencegah anemia defisiensi besi, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Suplemen oral tersedia dalam bentuk kapsul atau tablet. Sebaiknya, sebelum mengonsumsi suplemen zat besi ini Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Susu untuk ibu hamil

Meski kurang bisa diandalkan sebagai sumber zat besi utama, susu tetap menjadi sumber nutrisi lainnya yang penting bagi ibu hamil. Selama kehamilan, ibu bisa mengonsumsi susu tanpa lemak atau rendah lemak. Tidak perlu beralih pada susu murni karena susu murni mengandung lemak jenuh yang mungkin tidak baik bagi kesehatan jantung dan janin. Pililhlah susu yang mengandung lemak sekitar 1% atau tanpa lemak.

Selain itu, untuk mendapat asupan kalsium yang cukup selama kehamilan, ibu hamil bisa mengonsumsi tiga gelas susu tanpa lemak dalam satu hari. Segelas susu sapi dalam satu cangkir mengandung 8 gram protein, 25% kebutuhan kalsium harian, 10% vitamin A harian, dan 25% vitamin D harian. Nutrisi-nutrisi ini dibutuhkan untuk menjaga kehamilan.

Bagi sebagian orang, gula alami dalam susu (laktosa) dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti, diare, perut kembung, dan penuh gas. Kondisi disebut sebagai intoleransi laktosa. Jika Anda memiliki keadaan tersebut, pilihlah susu bebas laktosa.

Selain itu, jika Anda seorang vegetarian, alergi terhadap susu sapi, atau tidak menyukai rasa susu sapi, maka Anda dapat mengonsumsi susu alternatif, seperti susu kambing, susu kedelai, atau susu almond.

Baby Center. https://www.babycenter.com/404_should-i-drink-whole-milk-during-pregnancy_2520.bc
Diakses pada Juni 2019

Happy Family Organics. https://www.happyfamilyorganics.com/learning-center/mama/milk-and-milk-alternatives-during-pregnancy/
Diakses pada Juni 2019

ACOG. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Nutrition-During-Pregnancy?IsMobileSet=false
Diakses pada Juni 2019

Livestrong. https://www.livestrong.com/article/480577-what-contains-more-iron-beans-vegetables-fruit-or-milk/
Diakses pada Juni 2019

Mom Junction. https://www.momjunction.com/articles/types-milk-can-consumed-pregnancy_0076537/#gref
Diakses pada Juni 2019

WHO. https://www.who.int/elena/titles/guidance_summaries/daily_iron_pregnancy/en/
Diakses pada Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed