logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Penyakit

Superbug, Ketika Bakteri Tahan Antibiotik dan Jadi Kebal Terhadap Pengobatan

open-summary

Superbug adalah sebutan bagi organisme seperti bakteri, jamur, parasit, hingga virus yang sudah kebal terhadap antiobiotik. Superbug seringkali terjadi karena penyalahgunaan antibiotik. Gunakan antibiotik sesuai anjuran dokter.


close-summary

28 Mar 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Superbug sulit diatasi dengan antibiotik

Superbug sulit diatasi dengan antibiotik

Table of Content

  • Mengapa superbug berbahaya?
  • Bagaimana mengenali gejalanya?
  • Menjaga diri dari superbug
  • Catatan dari SehatQ

Setiap kali mendapat resep antibiotik, pasti ada anjuran agar menghabiskannya meski gejala sudah membaik. Alasannya agar tidak terbentuk superbug atau virus, parasit, jamur, dan bakteri tahan antibiotik.

Advertisement

Jenis bakteri resisten antibiotik ini paling umum adalah penyebab pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi kulit. Fenomena kebalnya bakteri ini memang bisa dikurangi efeknya agar tidak segera memburuk, namun mustahil kembali seperti semula.

Mengapa superbug berbahaya?

Bukan hanya bakteri, superbug adalah organisme yang sudah kebal terhadap pengobatan apapun. Padahal, idealnya mengonsumsi obat itu ampuh mengatasi penyakit. Lebih parahnya lagi, bakteri dan jamur yang telah kebal terhadap obat ini sulit disembuhkan atau dikendalikan.

Kenaikan kasus superbug juga bisa terjadi karena penggunaan antibiotik berlebihan. Contohnya seseorang yang mengonsumsi antibiotik untuk mengatasi infeksi virus, padahal antibiotik ampuh mengatasi penyakit akibat bakteri.

Ketika ini terjadi, maka zat berbahaya ini akan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan sistem kekebalan tubuh seseorang serta menyebabkan infeksi.

Konsekuensinya, organisme berbahaya ini mengalami evolusi alami dan kebal ketika diatasi dengan obat yang tadinya efektif. Bahkan, ada kemungkinan dokter harus meningkatkan dosis obat yang digunakan agar bisa bekerja.

Lebih jauh lagi, kondisi kebal antibiotik ini lebih rentan terjadi di area yang memerlukan sterilisasi secara berkala seperti rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Bagaikan buah simalakama, prosedur sterilisasi ini memang bisa melawan organisme penyebab infeksi. Di sisi lain, mereka bisa menjadi semakin kuat.

Selain itu, ada pula jenis organisme berbahaya penyebab penyakit yang terdapat di makanan. Contohnya, produk dari hewan ternak yang telah mendapatkan asupan antibiotik berlebihan.

Baca Juga

  • Ingus Hijau dan Arti Warna Ingus yang Beragam
  • Mengenal Hipertensi Maligna, Kondisi Darurat Medis yang Mengancam Jiwa
  • Mengenal Sindrom XYY yang Disebabkan Mutasi Kromosom

Bagaimana mengenali gejalanya?

Salah satu alasan lagi yang membuat superbug berbahaya adalah, tidak ada gejala khusus yang muncul pada orang yang terinfeksi. Sekilas, mereka akan terlihat mengalami gejala penyakit sama seperti infeksi biasa.

Cara satu-satunya untuk mengetahuinya adalah lewat observasi pada saat proses pengobatan berlangsung. Jika seseorang terkena superbug, maka gejala yang muncul tidak kunjung membaik atau malah semakin memburuk setelah diberikan obat.

Dari sinilah dokter biasanya akan menanyakan riwayat medis seseorang. Tak hanya itu, dokter juga bisa melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menentukan apakah organisme penyebab infeksi telah kebal terhadap obat.

Sayangnya, ketika dokter meresepkan obat lain – yang mungkin lebih kuat – pun, ada kemungkinan organisme dalam tubuh lagi-lagi menjadi kebal. Siklus ini terus berlangsung.

Ketika kemampuan patogen untuk beradaptasi membuatnya semakin kebal terhadap banyak jenis antibiotik, di sinilah terbentuk superbug.

Menjaga diri dari superbug

antibiotik
Gunakan antibiotik sesuai anjuran dokter

Ada beberapa hal yang bisa memicu penyebaran superbug ini, salah satu yang utama adalah penyalahgunaan konsumsi antibiotik. Selain itu, bekerja atau hidup di lingkungan dengan kebersihan buruk juga bisa jadi faktor pemicu lainnya.

Lebih jauh lagi, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya resistansi antibiotik adalah:

  • Mengonsumsi antibiotik sesuai resep
  • Hanya mengonsumsi antibiotik sesuai dengan penyebab sakit yang diderita
  • Menuntaskan konsumsi antibiotik meski gejala mulai mereda
  • Tidak berbagi antibiotik dengan orang lain
  • Tidak mengonsumsi kembali resep obat yang lama tanpa petunjuk dokter

Selain itu, apabila memungkinkan minta pengobatan dengan durasi konsumsi paling singkat.

Bukan hanya dari pihak pasien saja, dunia medis pun terus mencari cara mencegah terbentuknya superbug. Sebagai contoh, studi pada tahun 2019 yang dipublikasikan di jurnal Advanced Science menemukan bahwa antioksidan dari cranberry dapat mencegah resistensi antibiotik pada beberapa kasus.

Kandungan antioksidan bernama proanthocyanidin ini dapat meningkatkan efektivitas antibiotik dengan mengimbangi kekebalan bakteri.

Ke depannya, semakin banyak penelitian menjanjikan yang mungkin saja mengurangi kemungkinan terbentuknya superbug.

Catatan dari SehatQ

Superbug bisa berupa bakteri, jamur, parasit, atau virus yang telah kebal terhadap obat-obatan. Fenomena ini cukup serius karena membuat rangkaian pengobatan menjadi lebih sulit.

Sebenarnya, resistensi antibiotik memang bisa terjadi secara alami dari waktu ke waktu. Namun, perlu waktu yang sangat lama hingga ini terjadi. Penyalahgunaan antibiotik merupakan pemicu utama yang membuatnya terjadi begitu cepat.

Apabila ingin mencegah terbentuknya superbug, pastikan selalu mengikuti resep dan instruksi dokter ketika mengonsumsi antibiotik. Tidak semua penyakit bisa teratasi dengan antibiotik, jadi sesuaikan dengan pemicunya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar gejala munculnya superbug, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

penyakitinfeksi bakteripneumonia

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved