Tradisi Sunat Bambu Sifon, Amankah bagi Kesehatan?


Sunat pakai bambu dalam tradisi sifon sangat berisiko bagi kesehatan penis karena penerapannya yang tidak mengikuti standar sunat medis pada umumnya. Alih-alih sunat bambu, sebenarnya ada metode sunat lainnya yang lebih aman.

(0)
18 Feb 2021|Rhandy Verizarie
sunat bambu sifonSunat bambu sifon adalah metode sunat tradisional yang berisiko bagi kesehatan
Ada beragam alasan seorang anak laki-laki melakukan sunat, mulai dari kesehatan, budaya, hingga ajaran agama tertentu. Di Indonesia, ada satu tradisi sunat yang bisa dibilang unik, yakni sifon. Sunat ini menggunakan bambu runcing untuk memotong kulup penis. Lantas, apakah sunat bambu, alias sifon, ini aman dari segi kesehatan? Simak ulasannya berikut ini.

Apa itu tradisi sunat bambu sifon?

Merujuk pada sebuah penelitian yang dikeluarkan oleh Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sifon adalah tradisi asli masyarakat Desa Noenoni, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.Sifon merupakan ritual “penyembuhan” pada pria yang baru saja selesai disunat. Tak seperti sunat biasa yang dilakukan pada usia anak-anak, sifon justru dilakukan ketika seorang pria menginjak usia 18 tahun.Satu hal yang membuat tradisi sifon ini menjadi tidak biasa adalah pria yang baru disunat diminta untuk melakukan hubungan seks dengan beberapa perempuan.Pada tradisi sifon, metode sunat yang diterapkan adalah sunat tradisional, yakni menggunakan bambu sebagai alat untuk memotong kulup penis.Sunat bambu dalam tradisi sifon dilakukan oleh seorang mantri yang disebut ahelet. Secara garis besar, prosedur pelaksanaan sunat ini tidak jauh berbeda dengan sunat tradisional pada umumnya, yaitu:
  • Ahelet akan menarik kulit kulup penis
  • Kulit kulup akan dipotong dengan batang bambu yang sudah diruncingkan
  • Setelah terpotong, luka sunat pada penis akan ditutup menggunakan daun

Bahaya melakukan sunat pakai bambu

Jika melihat dari prosedur yang dilaksanakan, sunat bambu bisa dibilang tidak memenuhi standar medis.Setelah sunat, ahelet hanya akan menutup luka penis dengan daun alih-alih perban.Selain itu, tidak ada obat-obatan khusus yang diberikan. Padahal, luka sunat di penis idealnya harus diobati dengan obat-obatan tertentu untuk mencegah infeksi.Kewajiban melakukan hubungan seks setelah sifon pun tidak dianjurkan secara medis. Pasalnya, kondisi penis yang masih penuh luka tentu akan semakin memburuk apabila digunakan untuk penetrasi.Sunat menggunakan bambu yang diruncingkan seperti pada tradisi sifon termasuk ke dalam metode tradisional.Metode sunat tradisional sendiri sebenarnya sudah sangat jarang dilakukan. Alasannya jelas, metode sunat ini tidak mengikuti standar medis yang berlaku sehingga sangat berisiko bagi kesehatan apabila diterapkan.Menurut penelitian dari African Journal of Primary Health Care & Family Medicine pada tahun 2014, sunat tradisional memiliki sejumlah risiko yang bisa berakibat fatal bagi pria yang melakukannya.Bahaya sunat tradisional, seperti sunat pakai bambu, antara lain meliputi:
  • Perdarahan 
  • Infeksi 
  • Matinya jaringan di sekitar penis akibat kehilangan suplai darah (gangrene)
  • Dehidrasi
  • Gagal ginjal
  • Kematian 
Oleh sebab itu, para orang tua yang anaknya sudah bisa disunat disarankan untuk tidak menerapkan metode ini.

Pilihan metode sunat yang lebih aman 

Alih-alih sunat pakai bambu, saat ini sudah tersedia berbagai macam metode sunat yang lebih modern dan tentunya aman untuk dilakukan.Salah satu metode sunat yang umum dilakukan adalah sunat laser. Selain lebih aman, metode ini juga tidak memakan waktu lama dalam prosesnya.Sementara itu, jika anak Anda takut terhadap jarum suntik yang biasa digunakan untuk memasukkan obat bius sebelum tindakan sunat dilakukan, tersedia pula metode sunat tanpa suntik yang menggunakan cairan semprot sebagai obat bius.Kendati jarang sekali terjadi, Anda tetap perlu waspada karena metode sunat modern juga menyebabkan beberapa efek samping, seperti:
  • Perdarahan
  • Nyeri pada penis akibat obat bius
  • Kulup penis bermasalah
  • Infeksi 
  • Sensitivitas penis—terutama saat berhubungan seks—berkurang
Sunat yang sesuai dengan standar medis cenderung aman dilakukan. Untuk mengetahui pilihan yang tepat dan sesuai untuk Anda atau anak Anda, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang juga di App Store dan Google Play.
operasikesehatan priasunat
Doc Player. https://docplayer.info/56694889-Persepsi-masyarakat-mengenai-tradisi-sifon.html Diakses pada 5 Februari 2021African Journal of Primary Health Care & Family Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4709498/#:~:text=Traditional%20male%20circumcision%20has%20an,dehydration%2C%20renal%20failure%20and%20death Diakses apda 5 Februari 2021National Health Service (NHS). https://www.nhs.uk/conditions/circumcision-in-men/ Diakses pada 5 Februari 2021 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait