Sulit Hamil? Mungkin Anda Memiliki Risiko Infertilitas Ini

PCOS menjadi salah satu penyebab gangguan kesuburan pada wanita
Infertilitas pada wanita bisa disebabkan oleh banyak faktor.

Memiliki momongan mungkin menjadi dambaan tiap pasangan yang telah menikah. Kesulitan memiliki anak bisa disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari stres, gangguan fisik tertentu, hingga infertilitas.

Masalah kesuburan bukanlah sesuatu yang langka. Diperkirakan ada sekitar 10-18% di antara pasangan di dunia yang mengalami gangguan ini. Meski sulit punya anak tidak selalu disebabkan oleh pihak wanita, terdapat sejumlah faktor yang bisa mempertinggi kemungkinan infertilitas pada wanita. Mari simak penjelasannya di sini!

[[artikel-terkait]]

Kapan seorang wanita dikatakan mengalami infertilitas?

Perempuan dianggap memiliki masalah kesuburan ketika tidak kunjung hamil walau sudah mencoba hamil dalam kurun satu tahun, atau enam bulan untuk perempuan di atas usia 35 tahun. Perempuan yang tidak mampu mempertahankan kehamilannya (keguguran) juga bisa dikatakan infertil.

Banyak faktor yang memengaruhi proses kehamilan. Mulai dari pelepasan sel telur pada ovulasi, proses pembuahan oleh sperma, hingga menempelnya sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim. Infertilitas bisa terjadi ketika ada gangguan pada salah satu proses tersebut.

Faktor penyebab infertilitas pada perempuan

Pada perempuan, infertilitas paling sering disebabkan oleh gangguan pada ovulasi. Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium.

Bila tidak ada prosesovulasi, berarti tidak ada sel telur yang bisa dibuahi oleh sperma. Akibatnya, kehamilan pun takkan terjadi. Gangguan pada proses ovulasi bisa ditandai dengan menstruasi yang tidak teratur.

Masalah ovulasi tersebut kerap muncul akibat sindrom ovarium polikistik (polycystic ovarian syndrome/PCOS). Sementara itu, PCOS diduga terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh seorang wanita.

Di samping PCOS, ada juga sejumlah kondisi kesehatan lain yang bisa meningkatkan risiko infertilitas pada perempuan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Tuba falopi yang tersumbat. Kondisi ini bisa terjadiakibat adanya radang panggul, endometriosis, maupun operasi untuk mengatasi kehamilan di luar kandungan (kehamilan ektopik).
  • Kelainan pada struktur rahim.
  • Fibroid pada rahim. Fibroid adalah benjolan nonkanker yang tumbuh di dinding rahim.
  • Infeksi saluran reproduksi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual (misalnya, klamidia dan gonore), infeksi pada organ intim (misalnya,vaginosis bakteri), atau infeksi akibat kesalahan prosedur saat melakukan operasi, misalnya saat melakukan aborsi atau melahirkan.
  • Pengaruh usia. Dari segi kualitas maupun kuantitas, sel telur yang diproduksi akan mengalami penurunan ketika seorang wanita mencapai usia di atas 30 tahun. Itulah sebabnya perempuan di atas usia ini cenderung mengalami infertilitas, keguguran, atau melahirkan bayi dengan kelainan bawaan.
  • Aktivitas inidapat meningkatkan risiko kerusakan leher rahim (serviks) dan tuba falopi, kehamilan ektopik, maupun keguguran, serta mengurangi kualitas dan kuantitas sel telur. Anda dianjurkan untuk berhenti merokok sebelum memulai program hamil.
  • Masalah pada berat badan.Kondisi tubuh yang terlalu gemuk dan terlalu kurus bisa membuat Anda lebih rentan mengalami gangguan kesuburan.
  • Pengaruh konsumsi alkohol. Sama seperti rokok, alkohol juga dapat merusak kualitas sel telur Anda. Kurangi konsumsi alkohol atau berhenti sama sekali sebelum Anda memulai program kehamilan.

Apabila faktor risiko di atas melanda Anda, jangan ditutupi dan diskusikanlah dengan pasangan Anda. Anda juga bisa mengajak pasangan untuk menemani Anda berkonsultasi ke dokter. Dengan pemeriksaan dan diagnosis yang pasti, penanganan infertilitas pun bisa Anda jalani dengan saksama dan tepat sasaran.

Yang harus digarisbawahi adalah infertilitas bukan hanya masalah pada wanita. Pria juga bisa mengalaminya. Keterbukaan dari kedua belah pihak akan menjadi salah satu kunci untuk menemukan penanganan yang tepat pula.

Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/female-infertility/symptoms-causes/syc-20354308
Diakses pada 15 Mei 2019

Women’s Health.https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/infertility
Diakses pada 15 Mei 2019

US National Library of Medicine.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2851660/
Diakses pada 15 Mei 2019

CDC. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/productspubs/pdfs/epi_module_03a_tag508.pdf
Diakses pada 15 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed