Suka Menyalahkan Orang Lain, Kenali Apa itu Proyeksi Psikologi


Proyeksi psikologi adalah mengalihkan emosi yang tidak diinginkan dari diri sendiri kepada orang lain. Termasuk suka menyalahkan orang lain untuk melindungi ego diri. Kenali penyebabnya.

0,0
07 Dec 2020|Azelia Trifiana
Proyeksi adalah mekanisme pertahanan diri dengan melampiaskan emosi negatif kepada orang lainProyeksi adalah mekanisme pertahanan diri dengan menyalahkan orang lain
Di antara berbagai mekanisme pertahanan manusia, proyeksi adalah mengalihkan emosi yang tidak diinginkan dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya rasa itu, orang yang melakukan hal ini juga bisa melemparkan kesalahan pada orang lain.Tak hanya itu, bentuk pertahanan diri ini juga menganggap orang lain memiliki perasaan sama dengan dirinya sendiri. Artinya, emosi yang dialami pun juga serupa.

Asal mula proyeksi psikologis

Konsep proyeksi pertama kali digagas oleh Sigmund Freud berdasarkan pengalamannya menangani pasien. Bapak psikoanalisis ini melihat pola yang serupa, terkadang pasien menganggap orang lain memiliki emosi sama dengan dirinya.Memproyeksikan perasaan kepada orang lain adalah hal yang bisa terjadi secara alami sebagai bentuk pertahanan diri. Contohnya ketika seseorang berselingkuh dari pasangannya. Bukannya mengakui sudah bertindak tidak jujur, proyeksi dilakukan dengan menuduh pasangannya melakukan hal yang sama.Contoh lain adalah ketika merasa tidak suka terhadap seseorang, yang terjadi justru meyakini orang itu merasakan hal yang sama. Ini adalah cara seseorang untuk mengatasi emosi yang sulit diterima atau diungkapkan. Perasaan sama-sama tidak saling menyukai dianggap paling logis dianggap sebagai pembenaran, bagian dari pertahanan diri.

Siapa yang melakukan proyeksi?

Proyeksi sering dilakukan oleh mereka yang tidak bisa menerima kekurangan diri sendiri
Orang yang melakukan proyeksi adalah mereka yang tidak benar-benar mengenal dirinya sendiri. Dengan menuding orang lain memiliki emosi dan kekhawatiran yang sama, ini membuat mereka sedikit lebih tenang dan bisa mengabaikan emosi negatif itu.Kebiasaan memproyeksikan perasaan kepada orang lain juga kerap dilakukan oleh orang yang kurang percaya diri serta rendah diri. Dalam skala yang lebih besar, rasisme dan homophobia juga merupakan bentuk proyeksi.Di sisi lain, individu yang bisa menerima kegagalan dan kelemahan dirinya cenderung tidak melakukan proyeksi atu menyalahkan orang lain. Mereka tidak merasa perlu memproyeksikan perasaan karena memiliki toleransi dalam mengenali emosi-emosi negatif oleh dirinya sendiri.

Bagaimana menghentikannya?

Setiap orang bisa saja berada dalam situasi proyeksi, baik dari diri sendiri maupun dituding orang lain. Contoh saat sedang memaparkan konsep di depan teman-teman kantor, justru ada rekan kerja yang menuding Anda selalu memaksakan keinginan. Padahal, itu adalah ciri khas dari si penuding.Untuk menghentikan atau menghindari proyeksi, beberapa hal dapat dilakukan antara lain:

1. Kenali diri sendiri

seorang perempuan menulis
Tuliskan kelemahan dan kekuatan Anda.
Langkah awal untuk menghindari proyeksi adalah dengan mengenali diri sendiri, terutama kelemahan-kelemahannya. Jika perlu, tuliskan dalam jurnal untuk tahu dengan detail. Melakukan refleksi diri ini membantu seseorang melihat dirinya secara objektif.

2. Tanyakan kepada orang lain

Jika ada orang terdekat yang bisa memahami diri Anda, tanyakan kepada mereka apakah pernah merasa diproyeksikan. Pilih orang yang benar-benar membuat nyaman dan dipercaya untuk bertanya hal ini. Bersikaplah terbuka dan jujur. Setelah itu, siapkan mental untuk tahu jawabannya.

3. Konsultasi

Terkadang, cara terbaik untuk menghentikan kebiasaan proyeksi perasaan adalah dengan berkonsultasi bersama pakarnya. Mereka dapat membantu mengidentifikasi alasan mengapa proyeksi terjadi. Apabila proyeksi sudah pernah membuat hubungan dengan orang lain berantakan, terapis juga dapat membantu memperbaiki koneksi ini.Sangat alami ketika seseorang ingin melindungi dirinya dari perasaan dan pengalaman negatif. Namun ketika keinginan melindungi diri ini berubah menjadi proyeksi, bisa jadi sudah saatnya menelusuri apa akar masalahnya.Dengan melakukan hal ini, kepercayaan diri bisa meningkat. Tak hanya itu, hubungan sosial dengan orang lain mulai dari rekan kerja, pasangan, atau sahabat juga bisa terjaga. Tak ada lagi kebiasaan untuk menyalahkan orang lain.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang kebiasaan proyeksi yang bisa terjadi tanpa disadari, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjalin hubunganpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/projection-psychology
Diakses pada 21 November 2020
Good Therapy. https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/projection
Diakses pada 21 November 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/experimentations/201809/is-projection-the-most-powerful-defense-mechanism
Diakses pada 21 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait