Berbelanja berlebihan bisa menjadi tanda perilaku impulsif
Menghamburkan uang secara berlebihan bisa jadi tanda perilaku impulsif

Apakah Anda termasuk orang yang sering bertindak tanpa memikirkan konsekuensi apa pun terlebih dahulu? Jika iya, maka bisa saja Anda memiliki perilaku impulsif. Impulsif adalah kecenderungan untuk bertindak tanpa berpikir mengenai konsekuensi ataupun risiko yang akan dihadapi. Dengan kata lain, Anda akan bertindak secara tiba-tiba mengikuti gerak hati. 

Tanda-tanda perilaku impulsif

Impulsif dan kompulsif seringkali disamaartikan sehingga membuat orang keliru, padahal keduanya berbeda. Pada orang kompulsif, ia mengetahui perilaku yang ia lakukan tidaklah normal, namun tak bisa menghentikannya. Sementara, orang impulsif akan bertindak tanpa mengakui bahwa perilaku itu tidak normal. 

Orang yang impulsif umumnya digambarkan sebagai orang yang gegabah, gundah, tak dapat diprediksi, labil, agresif, mudah terganggu, dan senang menginterupsi orang lain. Contoh perilaku impulsif yang umum terjadi, yaitu membeli sesuatu tanpa direncanakan atau berlari ketika menyebrang jalan tanpa melihat. Adapun tanda-tanda perilaku impulsif lainnya, yaitu:

  • Mengeluarkan emosi berlebihan
  • Menghamburkan uang terlalu banyak
  • Terlalu banyak meminta maaf
  • Tiba-tiba berhenti dari pekerjaan
  • Emosi sering meledak-ledak
  • Melakukan hubungan seks yang berisiko
  • Mengubah atau membatalkan rencana secara tiba-tiba
  • Tak mampu menerima kritik
  • Makan atau minum secara berlebihan
  • Mengancam menyakiti orang lain
  • Menyakiti diri sendiri
  • Menghancurkan benda

Terkadang, merupakan hal yang wajar jika perilaku impulsif ini terjadi sesekali. Akan tetapi, bila terlalu sering atau hingga sangat memengaruhi kehidupan, maka Anda perlu waspada.

Mengapa perilaku impulsif terjadi?

Pada anak-anak atau remaja, perilaku impulsif bisa terjadi karena otaknya masih dalam perkembangan, sehingga belum tentu merupakan pertanda masalah. Memang belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya perilaku impulsif, namun ini dikaitkan dengan bagian otak hipotalamus dan hippocampus.

Hippocampus berperan aktif dalam kemampuan daya ingat, pembelajaran, serta emosi. Sementara, hipotalamus berperan dalam pengaturan mood dan perilaku fungsi manusia. Ketika para peneliti meningkatkan ataupun mengurangi lalu lintas antara hipotalamus lateral dan hippocampus ventral pada otak tikus, maka menunjukkan efek yang sama, yaitu meningkatkan perilaku impulsif. Akan tetapi, pada beberapa kasus perilaku impulsif  juga dapat menjadi tanda dari kondisi tertentu, di antaranya:

  • Gangguan pemusatan perhatian (ADHD)

Seseorang yang mengalami gangguan pemusatan perhatian kerap menunjukkan perilaku impulsifnya dengan mengganggu orang lain yang sedang berbicara, meneriakkan jawaban atas pertanyaan, atau sulit menunggu giliran ketika berada dalam antrean.

  • Gangguan bipolar

Gangguan pada otak ini memengaruhi suasana hati, tingkat energi, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika impulsif muncul pada gangguan bipolar, maka Anda akan belanja atau menghamburkan uang dengan sangat ekstrem atau melakukan penyalahgunaan zat-zat tertentu.

  • Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan ini memungkinkan seseorang untuk tidak memerhatikan benar dan salah, sertamemperlakukan orang dengan buruk tanpa memikirkan konsekuensinya. Perilaku impulsif yang terkait dengan kondisi ini, yaitu penyalahgunaan zat tertentu atau tindakan berbahaya lainnya.

Mengatasi perilaku impulsif

Jika perilaku impulsif merupakan bagian dari suatu kondisi tertentu, maka perawatan yang dilakukan untuk mengatasinya bergantung pada penyebabnya. Salah satu pendekatan yang umum dilakukan, yaitu analisis perilaku terapan. 

Dalam metode ini, Anda akan belajar menangani atau mengendalikan situasi yang cenderung memicu perilaku impulsif Anda. Psikiater juga mungkin akan merekomendasikan obat-obatan tertentu. Antidepresan, seperti inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dapat membantu meringankan gangguan kontrol impuls. 

Akan tetapi, jika perilaku tersebut merupakan bagian dari ADHD, maka obat yang direkomendasikan mungkin termasuk amfetamin dan dextroamfetamin atau methylphenidate. Terkadang, obat-obatan non-stimulan juga bisa membantu mengendalikan impuls.

Di samping itu, Anda juga harus berlatih mengalihkan situasi yang bisa memicu impulsif. Misalnya, bawalah buku catatan untuk dicorat-coret agar perhatian Anda teralihkan. Ini dapat membantu menahan Anda bertindak impulsif. Sebab, jeda yang dihasilkan bisa membuat Anda memikirkan apakah tindakan tersebut baik untuk dilakukan, serta memikirkan konsekuensi apa yang akan dihadapi nantinya. Sadarilah bahwa perilaku impulsif tersebut tidak tepat dan tak boleh terus dibiarkan.

Perlu Anda ingat bahwa perilaku impulsif bisa membahayakan diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Bahkan selain merusak hubungan dan keselamatan Anda, perilaku ini juga bisa menyebabkan kerugian finansial dan hukum jika tidak segera dikendalikan. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk berkonsultasi pada psikolog atau psikiater bila Anda merasa memiliki kecenderungan atas perilaku ini.

Web MD. https://www.webmd.com/mental-health/what-is-impulsivity#1
Diakses pada 03 April 2020

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/impulsive-behavior-and-bpd-425483
Diakses pada 03 April 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326862#Hypothalamus-and-hippocampus
Diakses pada 03 April 2020

Artikel Terkait