Suka Makan Daging Biawak dan Reptil lain? Ini Bahayanya

(0)
29 May 2020|Azelia Trifiana
Daging biawak berisiko jika dikonsumsiBiawak sering diburu untuk diambil dagingnya
Tak hanya diburu karena kulitnya saja, reptil juga banyak dicari oleh penggemar kuliner ekstrem, seperti daging biawak, ular, buaya, dan banyak lagi. Padahal, risiko kontaminasi parasit, bakteri, dan virus dari mengonsumsi daging biawak bisa berdampak buruk bagi kesehatan.Bukannya tanpa dasar, namun risiko terkena penyakit mengonsumsi reptil seperti daging biawak sudah terbukti lewat banyak penelitian. Bahkan dalam International Journal of Food Microbiology, ada fakta bahwa orang bisa menderita penyakit tertentu akibat mengonsumsi reptil.

Bahaya konsumsi daging reptil

Tak hanya daging biawak, beberapa jenis kuliner ekstrem yang juga sering dikonsumsi adalah daging buaya, kura-kura serta kadal. Dan yang cukup populer adalah ular.Beberapa bahaya dan risiko mengonsumsi daging reptil di antaranya:

1. Rentan menyebabkan penyakit

Trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, dan sparganosis adalah beberapa penyakit yang berisiko dialami orang yang gemar mengonsumsi daging reptil. Hal ini terjadi karena ketika mengonsumsi kuliner ekstrem seperti daging biawak, akan ada paparan virus, bakteri, dan parasit.

2. Paparan residu

Jangan lupakan habitat dan apa yang dikonsumsi reptil, bisa juga menyebabkan kontaminasi pada tubuh orang yang memakannya. Contohnya kandungan metal berbahaya dan residu obat-obatan yang bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan.

3. Rentan kontaminasi bakteri

Belum lagi risiko kontaminasi bakteri patogenik seperti Salmonella, Escherichia coli, Yersinia enterolitica, Clostridium, Campylobacter, dan juga Staphylococcus aureus. Beragam jenis bakteri ini dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.Sebut saja daging buaya yang disebut berisiko tinggi apabila dikonsumsi. Alasannya, buaya bisa menjadi carrier bakteri seperti Salmonella di ususnya. Bahkan, temuan ini diketahui baik pada daging yang telah dibekukan maupun daging segar.

4. Risiko keracunan

Daging reptil seperti kura-kura juga bisa menyebabkan keracunan. Contohnya biotoxin yang terakumulasi di daging kura-kura bisa mengandung chelonitoxism, jenis keracunan yang mematikan.Tentu ada alasan mengapa reptil seperti daging biawak tidak menjadi pilihan komoditas protein utama bagi manusia. Untuk memastikan suplai kuliner ekstrem terjaga, reptil harus diburu di alam liar. Artinya, kemungkinan memenuhi kebutuhan daging untuk konsumsi sangat tidak seimbang.Akan berbeda konteksnya apabila daging reptil seperti kadal kecil dikonsumsi untuk bertahan hidup. Seperti yang ada di Survival Manual milik tentara Amerika Serikat, disebutkan kadal kecil bisa dimakan utuh seperti ayam.Hanya saja, prosedur untuk memprosesnya harus benar-benar bersih dan dimasak hingga matang sempurna. Ditambahkan dalam Survival Manual itu, telur reptil juga aman dikonsumsi. Namun lagi-lagi, ini berbeda dengan konteks menjadikan reptil seperti daging biawak sebagai pilihan kuliner. Ini lebih pada urgensi saat harus bertahan hidup di ekosistem seadanya.

Apakah daging reptil aman bila telah dibekukan?

Seperti halnya protein hewani lain, proses pembekuan seperti meletakkan di freezer dalam suhu tertentu disebut bisa mematikan parasit. Meski demikian, hal ini tidak berlaku pada daging reptil.Seperti penjelasan di atas, buaya diketahui masih bisa menjadi carrier bakteri penyebab penyakit seperti Salmonella meskipun telah dibekukan terlebih dahulu.Belum lagi risiko mengalami keracunan apabila ada akumulasi biotoxin di daging reptil yang dikonsumsi. Jadi, selama masih ada pilihan menikmati protein hewani lain seperti daging sapi hingga daging kelinci, seharusnya risiko-risiko di atas lebih bijak dihindari.
makanan tidak sehathidup sehatpola hidup sehat
Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2010/02/100209182456.htm
Diakses 15 Mei 2020
Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/26740668_Biological_risks_associated_with_consumption_of_reptile_products
Diakses 15 Mei 2020
Food Safety News. https://www.foodsafetynews.com/2019/01/eu-considers-limit-for-salmonella-levels-in-reptile-meat/
Diakses 15 Mei 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait