Salah satu perbedaan psikolog dan psikiater adalah dalam cara menangani pasien
Perbedaan psikolog dan psikiater terlihat dari psikolog yang lebih menonjol ke penanganan psikologis dan psikiater yang lebih dominan dalam pemeriksaan fisik

Gangguan kejiwaan atau psikologis bukanlah suatu permasalahan yang sepele dan boleh diabaikan. Gangguan psikologis sangat berpotensi untuk mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya, mulai dari pekerjaan sampai hubungan sosialnya.

Berdasarkan data Riskesdas 2013 , terdapat sekitar 14 juta atau 6% orang yang berusia 15 tahun ke atas yang mengalami gejala depresi dan kecemasan di Indonesia. Kesadaran adalah langkah pertama dalam membantu diri untuk mengatasi gangguan psikologis yang dialami.

Salah satu pilihannya adalah mengunjungi psikolog atau psikiater. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan psikolog dan psikiater secara tepat. Lantas, apa perbedaan psikolog dan psikiater?

Apa perbedaan psikolog dan psikiater?

Perbedaan psikolog dan psikiater tidak hanya terletak dari namanya. Keduanya memang memiliki ranah yang sama, yaitu kejiwaan. Akan tetapi, keduanya adalah profesi yang berbeda. Simak daftar di bawah ini untuk mengetahui apa saja perbedaan psikolog dan psikiater.

  • Pemberian resep obat

Salah satu perbedaan psikolog dan psikiater yang umum diketahui adalah bahwa psikiater dapat memberikan resep obat, tetapi psikolog tidak bisa meresepkan obat ke pasien atau kliennya. Psikolog akan lebih fokus dalam pemberian psikoterapi tanpa menggunakan obat.

  • Edukasi dan pelatihan

Perbedaan psikolog dan psikiater dalam konteks pemberian obat didasari dari perbedaan edukasi dan pelatihan yang ditempuh.

Jika ingin menjadi psikiater, Anda harus mengikuti kuliah kedokteran terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan mengambil penjurusan spesialis kejiwaan.

Dasar edukasi kedokteran menjadikan psikiater memiliki wewenang untuk dapat memberikan resep obat kepada pasiennya. Biasanya, sebelum menjadi psikiater, Anda harus mengikuti praktek magang dan supervisi dalam jangka waktu yang ditentukan.

Berbeda halnya dengan psikolog yang memiliki dasar perkuliahan psikologi atau studi mengenai kejiwaan dan bukan kedokteran. Namun, serupa dengan psikiater, untuk menjadi psikolog, Anda harus mengikuti pendidikan S2 dengan penjurusan psikologi profesi.

Sebelum menjadi psikolog, Anda juga biasanya perlu mengikuti praktek magang dan supervisi dalam jangka waktu yang ditentukan serta sudah harus memiliki lisensi atau izin untuk dapat melakukan praktek sebagai seorang psikolog.

  • Penanganan pasien

Bergelut dalam bidang yang sama tidak berarti memiliki pendekatan dan cara menangani pasien atau klien yang serupa. Perbedaan psikolog dan psikiater lainnya terletak dari bagaimana penanganan dan pendekatan yang dilakukan.

Biasanya, penanganan yang diberikan oleh psikiater meliputi penanganan psikologi, medikasi, pemeriksaan kesehatan fisik, dan pemberian terapi stimulasi otak, seperti electroconvulsive therapy (ECT).

Psikiater umumnya akan memeriksa kesehatan fisik pasiennya terlebih dahulu untuk mengetahui ada tidaknya kondisi medis yang dapat memengaruhi kesehatan mental pasien. Setelahnya, barulah psikiater akan melakukan diagnosis dan memberikan medikasi yang sesuai. Karena terdapat diagnosis kejiwaan yang berasal dari kelainan pada organ otak atau persarafan.

Sementara itu, psikolog akan lebih condong ke penanganan psikologis saja. Psikolog akan memeriksa dan menangani pasien atau kliennya berdasarkan perilaku, pemikiran, dan emosi yang ditunjukkan oleh pasien atau klien.

Oleh karenanya penanganan yang diberikan psikolog umumnya bersifat mengubah perilaku, psikoterapi, ataupun konseling.

Kapan harus ke psikolog?

Apabila gangguan psikologis yang ditangani masih cenderung ringan atau belum terlalu parah dan dapat ditangani dengan penanganan psikologis saja, maka pasien atau klien dapat mencoba untuk mendatangi psikolog.

Umumnya, psikolog menangani gangguan psikologis yang meliputi depresi dan kecemasan. Psikolog juga dapat menangani masalah perilaku dan kesulitan belajar.

Ketika psikolog merasa bahwa gangguan mental yang dialami klien atau pasiennya sudah berat, biasanya psikolog akan merujuk pasien atau klien ke psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan medikasi.

Anda tidak perlu mengunjungi psikiater ketika memiliki masalah mental tertentu, karena psikolog juga dapat menangani permasalahan sehari-hari yang menimbulkan stres berlebih, seperti permasalahan dalam hubungan rumah tangga, pertemanan, pekerjaan, dan sebagainya.

Kapan harus ke psikiater?

Jika gangguan psikologis yang dirasakan membutuhkan medikasi dan sudah berat atau kompleks, maka penderita sebaiknya dirujuk ke psikiater. Psikiater umumnya menangani orang yang mengalami gangguan bipolar, depresi yang parah, dan skizofrenia.

Orang-orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri atau memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri biasanya akan ditangani oleh psikiater.

Ketika penderita tidak yakin apakah gangguan mental yang dialami disebabkan oleh kondisi medis tertentu atau saat gangguan mental diiringi dengan gejala fisik tertentu, penderita dapat mengunjungi psikiater untuk mendapatkan pemeriksaan fisik.

Berbeda tapi saling melengkapi

Perbedaan psikolog dan psikiater tidak seharusnya dibanding-bandingkan, karena biasanya, keduanya bekerja sama untuk memberikan penanganan yang tepat kepada pasien atau kliennya.

Contohnya, pasien atau klien dapat mengunjungi psikolog untuk mendapatkan penanganan pengubahan perilaku dan pemikiran sambil mengunjungi psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan medikasi.

Pada dasarnya, semuanya tergantung dari permasalahan psikologis yang dialami oleh klien dan penderita. Anda bisa mengunjungi dokter umum terlebih dahulu dan nantinya dokter umum dapat merujuk Anda ke psikiater ataupun psikolog.

Catatan dari SehatQ

Perbedaan psikolog dan psikiater tidak serta merta dari wewenang pemberian resep obat, karena keduanya memiliki edukasi dan pelatihan, serta cara menangani pasien atau klien yang berbeda.

Namun, perbedaan psikolog dan psikiater tidak menjadikan keduanya bekerja secara terpisah, tetapi saling melengkapi untuk dapat menangani permasalahan psikologi yang dialami oleh klien atau pasien.

Anda tidak perlu malu dan ragu untuk mengunjungi psikolog atau psikiater saat sedang mengalami gangguan mental, karena dengan mengunjungi psikolog atau psikiater, Anda bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Bila masih bingung, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu untuk diberikan pemeriksaan fisik dan rujukan ke psikolog atau psikiater tertentu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html
Diakses pada 03 Oktober 2019

Verywellmind. https://www.verywellmind.com/psychologists-vs-psychiatrists-what-is-the-difference-2795761
Diakses pada 03 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/features/psychologist-or-psychiatrist-which-for-you#1
Diakses pada 03 Oktober 2019

Your Health in Mind. https://www.yourhealthinmind.org/psychiatry-explained/psychiatrists-and-psychologists
Diakses pada 03 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed