Penyebab kejang pada lansia bisa beragam, namun yang paling umum berkaitan dengan stroke
Tidak banyak yang tahu, stroke adalah salah satu penyebab kejang paling banyak pada lansia

Meski sering dianggap sebagai kondisi yang menyerang anak atau individu berusia muda, kejang ternyata juga rentan dialami lansia. Pasalnya, penyebab kejang pada lansia lebih beragam.

Belum banyak diketahui, kejang pada lansia, paling sering disebabkan oleh stroke. Diluar itu, kejang juga bisa terjadi sebagai tanda penyakit epilepsi

Stroke sebagai penyebab kejang pada lansia

Sekitar 5% penderita stroke, juga akan mengalami kejang pada beberapa minggu pertama setelahnya. Bahkan, kejang akut, bisa terjadi 24 jam setelah stroke dialami oleh lansia.

Dibandingkan kondisi yang ringan, stroke berat lebih mungkin menjadi penyebab kejang. Selain itu, kejang juga lebih sering terjadi pada stroke yang menyebabkan terjadinya perdarahan di otak (stroke hemoragik), serta stroke pada bagian dari otak, yang disebut sebagai korteks serebral.

Stroke bisa menyebabkan kejang, karena penyakit ini membuat otak menjadi cedera. Kondisi cedera pada otak tersebut, kemudian membentuk jaringan luka, yang akan memengaruhi aktivitas listrik di otak.

Terganggunya aktivitas listrik inilah, yang memicu terjadinya kejang pada lansia penderita stroke.

Kejang pascastroke tidak sama dengan epilepsi

Meski stroke sering menjadi penyebab kejang, namun kondisi ini belum tentu akan menyebabkan epilepsi. Kejang dan epilepsi adalah dua hal yang berbeda.

Lansia yang mengalami kejang sebanyak satu kali segera setelah terjadinya stroke, tidak serta-merta didiagnosis menderita epilepsi.

Penderita stroke, baru disebut mengalami epilepsi, apabila kejang terjadi secara berulang dan dalam jangka waktu yang lama (kronis). Risiko epilepsi juga akan meningkat, apabila kejang-kejang terjadi lebih dari 30 hari, setelah stroke pertama kali menyerang.

Tanda-tanda kejang yang perlu dikenali

Ada lebih dari 40 tipe kejang. Sehingga, gejala dan tanda yang akan muncul pun bisa berbeda. Tipe kejang yang paling sering terjadi adalah generalized seizure. Gejala yang muncul pada kondisi ini adalah:

  • Keram otot
  • Kesemutan
  • Tubuh bergetar
  • Hilang kesadaran

Selain itu, tanda kejang lain yang juga mungkin muncul di antaranya:

  • Kebingungan menghadapi lingkungan sekitar
  • Gangguan emosi
  • Gangguan fungsi panca indera
  • Kesulitan mengontrol gerak otot
  • Kesulitan untuk bernapas
  • Kesulitan mengontrol buang air kecil maupun buang air besar.

Tangani kejang pada lansia dengan cara ini

Lansia yang berisiko tinggi mengalami kejang, sebaiknya mendapatkan pendampingan oleh orang-orang terdekat. Pasalnya, pertolongan pertama saat mengalami kejang, hanya bisa dilakukan oleh orang lain dan tidak bisa dilakukan sendiri.

Berikut ini langkah yang bisa dilakukan untuk menolong orang yang mengalami kejang.

  • Posisikan orang yang kejang dalam posisi miring, untuk mencegah tersedak dan muntah.
  • Letakkan bantal di belakang kepala.
  • Kendurkan pakaian yang digunakan, buka kancing yang berada di sekitar leher.
  • Buka jalan napas orang yang kejang. Jika dibutuhkan, tahan rahangnya agar tetap terbuka, dan posisikan kepalanya agar menengadah ke atas.
  • Jangan tahan gerakan tubuhnya, kecuali ia berada di posisi yang berbahaya.
  • Jangan berikan apapun di mulutnya, bahkan air ataupun obat.
  • Singkirkan benda-benda tajam yang bisa melukai.
  • Perhatikan jangka waktu terjadinya kejang, dan gejala yang dialami, sebagai informasi untuk dokter yang akan menangani.
  • Tetap berada di sisi orang tersebut hingga kejang berhenti.

Cara mencegah kejang pasca-stroke pada lansia

Untuk mencegah stroke menjadi penyebab kejang, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, mulai dari perubahan gaya hidup, hingga konsumsi obat anti-kejang, seperti berikut ini.

1. Perubahan gaya hidup

Menjalani gaya hidup yang lebih sehat, bisa membantu Anda mencegah terjadinya kejang pascastroke. Berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan.

  • Penuhi kebutuhan cairan harian.
  • Jangan bekerja atau melakukan kegiatan yang bisa membuat tubuh menjadi kelelahan.
  • Jaga berat badan.
  • Konsumsi makanan yang kaya nutrisi.
  • Hindari minuman beralkohol, terutama jika mengonsumsi obat anti-kejang.
  • Jangan merokok.

Apabila Anda berisiko tinggi untuk kejang, sementara hindari kegiatan-kegiatan yang bisa membahayakan diri apabila kejang tiba-tiba kambuh, seperti memasak, berenang, atau mengemudikan kendaraan.

2. Konsumsi obat

Apabila Anda mengalami kejang setelah stroke, dokter dapat memberikan obat anti-kejang. Konsumsilah obat tersebut secara teratur, dan sesuai dengan resep dan anjuran dokter.

Memahami stroke sebagai salah satu penyebab kejang yang umum pada lansia, penting dilakukan, agar lebih waspada di kemudian hari. Lebih baik lagi, jika Anda senantiasa menjalani pola hidup yang sehat, agar stroke bisa dicegah sejak awal.

National Stroke Association. https://www.stroke.org/we-can-help/survivors/stroke-recovery/post-stroke-conditions/physical/seizures-and-epilepsy/
Diakses apda 16 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/stroke/seizure-after-stroke
Diakses pada 16 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed