Stres, Penyebab Kebutaan yang Diam-Diam Mengintai


Stres rupanya bisa menjadi dampak sekaligus penyebab kebutaan. Ketika seseorang kehilangan penglihatannya, ada kemungkinan merasa stres dan cemas dengan situasinya. Di sisi lain, bisa juga terjadi conversion disorder yaitu stres terus menerus yang mengakibatkan masalah penglihatan.

(0)
07 Nov 2020|Azelia Trifiana
Stres berat dapat menyebabkan kebutaanStres berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan pengelihatan
Stres rupanya bisa menjadi dampak sekaligus penyebab kebutaan. Ketika seseorang kehilangan penglihatannya, ada kemungkinan merasa stres dan cemas dengan situasinya. Di sisi lain, bisa juga terjadi conversion disorder yaitu stres terus menerus yang mengakibatkan masalah penglihatan.Bukan sekadar asumsi, banyak penelitian yang memperkuat teori ini. Temuan ini membuat tenaga medis seperti dokter disarankan untuk mengurangi tingkat stres pasien, salah satunya jika ingin menghindari kebutaan.

Kebutaan akibat stres

Penelitian yang menyebut stres dapat menjadi penyebab kebutaan datang dari tim Prof. Bernhard Sabel, direktur Institute of Medical Psychology di Magdeburg University, Jerman.Dalam penelitiannya, dikemukakan bahwa stres yang terjadi terus menerus akan meningkatkan level hormon kortisol dalam tubuh. Dalam jangka panjang, produksi hormon stres berlebih ini berdampak buruk bagi sistem saraf simpatik.Hal ini juga bisa berpengaruh pada kondisi otak dan mata, menyebabkan munculnya penyakit pada saraf mata seperti glaukoma, retinopati diabetik, dan penyakit degenerasi makula karena pengaruh penuaan. Jika tidak ditangani dengan tepat, ada kemungkinan menyebabkan kebutaan.

Mengenal conversion disorder

Stres dapat memicu penyakit syaraf dan kebutaan
Kebutaan histerikal atau fungsional digunakan untuk menjelaskan masalah penglihatan yang bukan dipicu kondisi struktur yang abnormal. Istilahnya adalah conversion disorder. Artinya, kebutaan terjadi di luar kesadaran pasien.Kondisi mental ini menyebabkan seseorang bisa mengalami kebutaan, kelumpuhan, atau masalah sistem saraf lain yang tak dapat dijelaskan dari hasil evaluasi medis.Pada kondisi ini, yang terjadi adalah represi emosi seperti rasa marah dan takut yang terkonversi menjadi penurunan fungsi penglihatan secara signifikan. Kerap kali, pasien mengira yang terjadi adalah masalah pada lensa sehingga perlu menggunakan kacamata.Gejala awalnya bisa muncul tiba-tiba setelah mengalami sesuatu yang memicu stres. Selain itu, orang yang memiliki masalah perilaku juga berisiko menderita conversion disorder.Untuk mengatasinya, bisa dilakukan kelola stres dan terapi bicara dengan pakarnya. Tujuannya adalah untuk meredakan gejala yang muncul.

Bukan hanya masalah kebutaan

Stres tak hanya dapat mengakibatkan kebutaan atau penyakit mata lainnya. Ada keluhan lain yang mungkin terjadi seperti:
  • Penglihatan kabur
  • Mata gatal
  • Mata berkedip sebelah
  • Sakit kepala
  • Mata kering
  • Mata berair
  • Lebih sensitif terhadap cahaya
  • Otot mata terasa lelah
Sangat masuk akal jika stres dapat menyebabkan keluhan di atas muncul. Stres adalah respon alami tubuh ketika ada perubahan yang mengganggu kondisi normalnya. Bentuknya bisa perubahan secara fisik, mental, emosional, hingga visual.Lebih jauh lagi, ketika stres pupil mata akan membesar sehingga cahaya masuk lebih banyak. Dengan demikian, potensi ancaman bisa terlihat kian jelas. Di sisi lain, adrenalin dan kortisol yang meningkat bisa menimbulkan tekanan pada mata. Akibatnya, mata melihat dengan buram.Dampak stres pada tiap orang bervariasi mulai dari ringan hingga parah. Banyak pula pasien yang tidak menyadari dampak stres yang dialaminya terhadap fungsi dan kesehatan penglihatannya.

Pentingnya kelola stres

sikap yoga kundalini
Yoga bisa menjadi alternatif untuk mengelola stres
Temuan ini kembali menggarisbawahi pentingnya mengelola stres sebelum menjadi penyebab berbagai penyakit, termasuk masalah penglihatan. Artinya, strategi mengurangi stres bisa menjadi langkah pencegahan sebelum muncul masalah penglihatan.Beberapa strategi yang bisa dilakukan mulai dari konseling dengan psikolog, meditasi, berolahraga, tidur cukup, bahkan teknik pernapasan dapat membantu mengelola stres.Mengubah gaya hidup juga bisa menjadi langkah pencegahan. Contohnya mengatur posisi duduk yang benar saat duduk di depan komputer seharian, menghindari computer vision syndrome, dan mengurangi melihat layar terlalu lama.Tak hanya itu, dokter juga perlu menanamkan optimisme pada pasien sehingga tidak menyebabkan kecemasan kian dominan. Namun, tentunya dengan tetap memaparkan dengan jelas seputar penyakit yang diderita.Bahkan pilihan kata saat berkomunikasi dengan pasien juga sangat krusial. Konsekuensi dari apa yang disampaikan dokter juga dapat menentukan level stres yang dirasakan pasien.

Tidak terbantahkan bahwa rasa takut dan cemas berlebih menambah parah konsekuensi fisiologis. Hal ini dapat membuat seseorang rentan terserang penyakit.Jadi, jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang cara mencegah stres yang ternyata dapat memicu kebutaan, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalstreskesehatan mata
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322222
Diakses pada 24 Oktober 2020
Springer Link. https://link.springer.com/article/10.1007/s13167-018-0136-8
Diakses pada 24 Oktober 2020
All About Vision. https://www.allaboutvision.com/conditions/stress-and-vision/
Diakses pada 24 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait