Stres pada Ibu Hamil Berdampak pada Calon Ibu dan Calon Buah Hati

(0)
24 Aug 2020|Annisa Trimirasti
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Stres pada ibu hamil bisa memicu diabetes, preeklampsia, hingga keguguranStres pada ibu hamil bisa muncul karena rasa takut yang berlebihan
Stres merupakan hal yang umum terjadi selama kehamilan. Meski demikian, stres pada ibu hamil yang berkelanjutan bisa saja berdampak buruk bagi dirinya dan janin dalam kandungan bila tidak ditangani.Ada banyak hal yang biasa menyebabkan stres pada ibu hamil. Mulai dari ketakutan akan keguguran, melahirkan, hingga mengurus anak, ataupun rasa tak nyaman dengan perubahan fisik selama kehamilan.Meski demikian, perasaan stres tersebut perlu Anda kontrol. Stres kronis selama hamil bisa berpengaruh negatif pada diri Anda maupun janin.

Dampak stres pada ibu hamil

Stres pada ibu hamil bisa saja meningkatkan sejumlah risiko kondisi berikut:

Preeklamsia

Stres bisa saja memicu kenaikan tekanan darah pada seseorang, termasuk ibu hamil. Di sisi lain, tingginya tekanan darah saat hamil bisa memicu preeklamsia. Oleh karena itu, secara tidak langsung dan juga tidak selalu, stres bisa saja meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia saat hamil.

Diabetes

Stres bisa saja mengubah respon atau perilaku seseorang terhadap makanan. Sebagian orang memilih makan makanan manis sebagai ajang pelampiasan stres yang terjadi padanya.Pada ibu hamil, kebiasaan konsumsi makanan manis dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan meningkatkan risiko mengalami diabetes gestasional bila dilakukan terus-menerus.

Keguguran

Penelitian menunjukkan bahwa stres pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran. Hal ini diduga terjadi karena hormon kortisol yang diproduksi selama stres mungkin saja turut masuk ke plasenta.Selain itu, stres juga bisa menurunkan sistem imun seseorang, termasuk ibu hamil. Akibatnya, stres pada ibu hamil dapat membuat calon ibu lebih mudah sakit.

Kelahiran prematur

Stres pada ibu hamil juga mungkin meningkatkan potensi bayi lahir secara prematur atau memiliki berat badan rendah (BBLR). Risiko tersebut sejalan dengan kondisi diabetes dan tekanan darah tinggi, di mana kondisi-kondisi ini juga berpotensi menyebabkan bayi lahir prematur atau memiliki berat badan rendah.Selain itu, stres saat hamil juga berpotensi menyebabkan calon ibu kurang memerhatikan asupan gizi maupun kesehatannya. Ibu hamil yang mengalami stres berat lebih berpotensi untuk mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, ataupun obat-obatan terlarang.

Dampak stres saat hamil pada janin

Tidak berhenti setelah melahirkan, stres pada ibu hamil juga bisa memberikan dampak jangka panjang pada anak. Berikut beberapa di antaranya:

Gangguan tidur

Wanita yang mengalami stres selama mengandung lebih mungkin melahirkan bayi yang mengalami gangguan tidur. Pasalnya, tingginya kadar kortisol atau hormon stres selama kehamilan mungkin saja masuk ke plasenta. Kondisi ini selanjutnya memengaruhi bagian otak yang mengatur pola tidur bayi.

Gangguan perilaku

Meningkatnya hormon kortisol pada ibu ternyata berdampak pada bayi setelah dilahirkan, bayi akan cenderung lebih rewel, mudah marah dan sulit tidur. Selain itu, sebuah jurnal menyatakan bahwa stres yang terjadi saat hamil memiliki resiko tinggi anak mengalami autis, hal ini disebabkan oleh karena terjadi perubahan gen ketika seorang ibu mengalami stres.

Tips mengelola stres pada ibu hamil

Stres pada ibu hamil bisa berdampak buruk untuk diri sendiri maupun untuk janin. Oleh karena itu, usahakan untuk mengelola stres selama kehamilan dengan beberapa cara di bawah ini:
  • Coba untuk berbagi cerita dengan orang yang Anda percaya
  • Meminta tolong pada teman, saudara, ataupun tetangga bila Anda mengalami kesulitan selama kehamilan
  • Menjaga kesehatan dengan tetap mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga
  • Melakukan meditasi secara berkala, misalnya dengan yoga
  • Menonton video atau film-film yang menghibur dan lucu
  • Mendengarkan musik favorit atau musik bertempo lambat
  • Manjakan diri Anda, misalnya dengan jalan-jalan, pergi ke salon, atau berkumpul bersama teman
  • Mengikuti kelas kehamilan dan persiapan melahirkan
Stres pada ibu hamil terkadang tak bisa dihindari. Meski demikian, perasaan ini perlu dikontrol. Bila dibiarkan, stres saat akan berdampak negatif pada diri sendiri, janin, bahkan bayi setelah dilahirkan.Oleh sebab itu, kelola stres Anda dengan sejumlah cara sederhana. Mulai dari berbagi cerita, melakukan teknik relaksasi, memanjakan diri sendiri, hingga mengikuti kelas kehamilan.Bila langkah-langkah tersebut tidak membuahkan hasil, minta pasangan atau orang terdekat Anda untuk mengantar Anda ke psikiater atau psikolog guna mendapatkan solusi yang tepat.
stresmasalah kehamilan
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/stress-during-pregnancy
Diakses pada 23 Agustus 2020
March of Dimes. https://www.marchofdimes.org/complications/stress-and-pregnancy.aspx
Diakses pada 23 Agustus 2020
Parents. https://www.parents.com/pregnancy/my-body/can-too-much-stress-during-pregnancy-be-bad-for-my-baby/
Diakses pada 23 Agustus 2020
What to Expect. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/ask-heidi/stress-during-pregnancy.aspx
Diakses pada 23 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait