Steven Johnson Syndrome, Penyakit Langka yang Bisa Disebabkan oleh Obat

Steven johnson syndrome ditandai dengan kulit yang melepuh dan mengelupas
Kulit melepuh dan mengelupas merupakan gejala dari steven johnson syndrome

Steven Johnson syndrome (sindrom Steven-Johnson) mungkin terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Penyakit yang satu ini memang jarang terjadi, namun merupakan kondisi serius yang bisa membahayakan penderitanya.

Bahkan pada kasus yang parah, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian. Untuk menghindari berbagai komplikasi, penderita sindrom Steven-Johnson harus segera mendapat penanganan yang tepat. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengetahui berbagai hal mengenai penyakit langka ini.

Apa itu Steven Johnson syndrome?

Sindrom Steven-Johnson adalah kelainan serius di mana kulit dan selaput lendir Anda mengalami reaksi yang berlebihan terhadap obat atau infeksi. Sindrom ini menjadi penyakit langka yang hanya menyerang 1-2 orang per satu juta orang setiap tahun. 

Steven Johnson syndrome umumnya dipicu oleh penggunaan obat yang reaksinya dapat muncul ketika Anda menggunakannya atau hingga 2 minggu setelah Anda berhenti menggunakannya. Adapun obat-obatan yang dapat memicu munculnya sindrom Steven-Johnson, di antaranya:

  • Obat antiasam urat, contohnya allopurinol
  • Obat antikonvulsan dan antipsikotik yang biasanya digunakan untuk kejang dan penyakit mental
  • Obat penghilang rasa sakit, seperti acetaminophen, ibuprofen, dan naproxen sodium
  • Obat antibiotik, seperti penisilin.

Selain itu, sindrom ini juga dapat dipicu oleh infeksi virus atau kuman tertentu. Berikut infeksi yang dapat menyebabkannya:

Di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena sindrom Steven-Johnson, yakni terinfeksi HIV, menderita lupus, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, pernah menderita SJS sebelumnya, dan memiliki riwayat keluarga dengan sindrom ini. Sebelum menggunakan obat tertentu, beritahu dokter jika Anda memiliki faktor risiko tersebut.

Gejala Steven Johnson Syndrome

Steven Johnson syndrome seringkali dimulai dengan gejala mirip flu dan demam. Dalam beberapa hari, kulit akan mulai melepuh dan mengelupas, yang kemudian meluruh dan membentuk area kulit layaknya luka bakar yang sangat menyakitkan. 

Gejala ini biasanya diawali dari wajah dan dada, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Kondisi ini juga dapat merusak selaput lendir, termasuk lapisan mulut dan saluran udara, sehingga bisa menyebabkan masalah dalam menelan dan bernapas. Bahkan lepuh yang menyakitkan juga dapat terjadi pada saluran kemih dan alat kelamin sehingga susah buang air. 

Selain itu, sindrom Steven-Johnson juga kerap menjangkiti mata sehingga bisa menyebabkan iritasi, kemerahan konjungtiva (selaput lendir yang melindungi putih mata), dan kerusakan kornea. Kerusakan yang luas pada penderita sindrom ini memungkinkan infeksi berkembang lebih jauh sehingga sangat berbahaya.

Sekitar 10 persen orang yang menderita Steven Johnson syndrome meninggal karena penyakit tersebut. Sementara, 50 persen penderitanya mengalami kondisi fatal. Efek jangka panjang dari kelainan ini, yaitu perubahan warna kulit, xerosis (kekeringan pada kulit dan selaput lendir), keringat berlebih, kerontokan rambut, dan pertumbuhan abnormal atau hilangnya kuku jari. Dalam sejumlah kecil kasus, masalah jangka panjang lain yang mungkin terjadi, yaitu gangguan indera perasa, susah buang air kecil, kelainan genital, dan peradangan mata.

Pengobatan Steven Johnson syndrome

Karena Steven Johnson syndrome merupakan kondisi darurat medis, diperlukan penanganan medis segera. Langkah pertama yang akan dilakukan oleh dokter adalah menghentikan penggunaan obat tertentu atau mengobati infeksi yang membuat Anda mengalami sindrom ini. Sementara, perawatan yang akan diterima oleh penderita sindrom ini selama perawatan intensif di rumah sakit, yaitu:

  • Penggantian cairan dan nutrisi

Kehilangan kulit dapat menyebabkan hilangnya banyak cairan tubuh sehingga mengganti cairan tubuh merupakan perawatan yang penting untuk dilakukan. Anda akan menerima cairan dan nutrisi dari tabung nasogastrik yang disalurkan melalui hidung dan masuk ke perut.

  • Perawatan luka

Kompres dingin dapat membantu menenangkan luka lepuh yang Anda alami. Lapisan kulit mati pun secara perlahan akan diangkat dan ditutup dengan perban supaya terhindar dari infeksi. Anda juga mungkin memerlukan perawatan dari dokter spesialis mata jika sindrom ini menjangkiti mata Anda.

  • Obat-obatan

Beberapa obat yang dapat diberikan oleh dokter untuk mengatasi Steven Johnson syndrome, yakni obat nyeri untuk mengurangi ketidaknyamanan, obat untuk mengurangi radang mata dan selaput lendir (steroid topikal), serta antibiotik untuk mengendalikan infeksi (jika diperlukan). Obat-obatan lain juga mungkin diperlukan tergantung pada tingkat keparahannya.

Jika penyebab mendasar dari sindrom Steven-Johnson berhasil diatasi dan reaksi kulit berhenti, kulit baru akan mulai tumbuh kembali di area yang terjangkit setelah beberapa hari. Namun pada kasus yang parah, pemulihan membutuhkan waktu yang lebih lama, bahkan hingga beberapa bulan. 

Jadi, apabila setelah mengonsumsi obat tertentu atau saat terkena infeksi tertentu timbul gejala yang mirip dengan sindrom ini, sebaiknya segera periksakan diri Anda pada dokter.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stevens-johnson-syndrome/symptoms-causes/syc-20355936
Diakses pada 11 Februari 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stevens-johnson-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20355942
Diakses pada 11 Februari 2020
GHR. https://ghr.nlm.nih.gov/condition/stevens-johnson-syndrome-toxic-epidermal-necrolysis#diagnosis
Diakses pada 11 Februari 2020

Artikel Terkait