Social Loafing, Ketika Merasa Tak Harus Berkontribusi Saat Berada dalam Kelompok


Social loafing adalah fenomena di mana seseorang tidak melakukan segenap daya saat dalam kelompok. Karena ada asumsi bahwa pekerjaan atau tugas akan tuntas ditangani oleh rekan lain.

(0)
05 Feb 2021|Azelia Trifiana
Social loafing adalah rasa malas yang muncul saat bekerja di dalam kelompokSocial loafing rentan terjadi di kelompok yang jumlah anggotanya besar
Sangat manusiawi ketika seseorang merasa tidak terlalu disoroti saat berada dalam kelompok besar. Akibatnya, mereka tidak mengeluarkan segenap daya upaya yang dimiliki. Itulah social loafing. Muncul asumsi bahwa pekerjaan atau tugas akan tuntas ditangani oleh rekan lain dalam kelompok.Tepat sekali, fenomena ini berkaitan erat dengan kemalasan. Kontribusi yang diberikan menjadi tidak terlalu maksimal. Sungguh akan berbeda dibandingkan dengan menangani pekerjaan seorang diri, yang berarti tanggung jawab juga ada di bawah kendalinya sepenuhnya.

Apa itu social loafing?

Eksperimen tentang social loafing pertama kali digagas salah satunya oleh ahli teknik pertanian bernama Max Ringelmann pada tahun 1913. Dalam penelitiannya, Ringelmann meminta partisipan menarik tali, baik dalam kelompok maupun sendirian.Hasilnya, ketika berada dalam kelompok, seseorang tidak mengeluarkan upaya sebesar saat menarik tali seorang diri.Mengulangi eksperimen Ringelmann di tahun 1974, sekelompok peneliti kembali melakukan hal serupa. Hanya saja dalam kelompok, hanya ada satu orang yang benar-benar sedang dites. Sisanya adalah orang yang diminta berpura-pura menarik tali.Dari situ, ditemukan bahwa ketika berada dalam kelompok, motivasi menurun drastis sehingga tali tidak tertarik sempurna. Inilah yang disebut dengan social loafing.

Apa penyebabnya?

Menariknya lagi, sebuah studi pada tahun 2005 menemukan korelasi antara besarnya kelompok dengan performa individu di dalamnya.Bandingkan saja ketika sedang berada dalam kelompok beranggotakan 4 orang dan 8 orang. Saat berada dalam kelompok berjumlah lebih sedikit, upaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar ketimbang saat berada di kelompok dengan 7 orang lainnya.Beberapa penyebab terjadinya social loafing di antaranya:

1. Motivasi

Faktor utama yang berpengaruh terhadap fenomena ini adalah motivasi. Ini menentukan apakah seseorang akan mengalami social loafing atau tidak. Orang yang tidak memiliki motivasi terlalu tinggi, rentan melakukan kondisi ini saat berada dalam sebuah kelompok.

2. Tidak merasa bertanggung jawab

Seorang individu juga lebih rentan melakukan social loafing apabila tidak merasa bertanggung jawab penuh terhadap apa yang sedang dikerjakan. Mereka tahu betul bahwa upaya dirinya tidak akan berdampak besar pada hasil akhirnya kelak.Ya, ini mirip dengan bystander effect. Sebuah tendensi yang muncul ketika melihat orang yang butuh bantuan dan tidak mengupayakan apapun karena berasumsi orang lain akan melakukannya.

3. Besarnya kelompok

Seperti yang disinggung di atas, semakin kecil ukuran kelompok, seseorang akan merasa perannya cukup penting. Dengan demikian, mereka akan berkontribusi lebih banyak. Sebaliknya ketika ukuran kelompok lebih besar, upaya individu tidak akan begitu maksimal.

4. Ekspektasi

Lingkungan tempat Anda berada dalam sebuah kelompok akan membentuk bagaimana ekspektasi hasil akhirnya kelak. Contohnya ketika mengerjakan project bersama orang-orang yang dikenal berprestasi, tentu keinginan untuk berkontribusi turut menggebu-gebu.Namun ada pula kondisi sebaliknya. Merasa orang-orang dalam kelompok sudah cukup rajin, social loafing adalah tendensi yang mungkin muncul. Ada perasaan bahwa pekerjaan pada akhirnya akan rampung di tangan mereka-mereka yang rajin, tanpa campur tangan terlalu banyak dari Anda.

Bagaimana menghindarinya?

perempuan sedang belajar di laptop
Pembagian tugas dan aturan yang jelas dapat mengurangi social loafing
Apabila dibiarkan, social loafing bisa berdampak buruk bagi efisiensi dan performa kelompok. Namun. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menguranginya:
  • Pembagian tugas yang jelas

Sebesar apapun kelompok, beri pembagian tugas yang jelas antara setiap individu di dalamnya. Ini bisa dilakukan baik ketika Anda merupakan pemimpin kelompok maupun anggota. Apabila menjadi anggota, beri saran kepada pemimpin kelompok untuk melakukan pembagian tugas.
  • Buat aturan

Meski hanya project atau tugas sementara, buat aturan yang jelas terkait pembagian tugas, tenggat waktu, dan mekanisme lainnya. Komunikasikan dengan baik agar setiap anggota tahu apa yang menjadi tugasnya. Apabila perlu, tuliskan dengan lengkap agar semua mengingatnya.
  • Apresiasi

Tak kalah penting, apresiasi apa yang dilakukan setiap individu dalam kelompok untuk menjadi bahan bakar motivasi mereka. Berikan apresiasi dengan detail terhadap apa yang menjadi kontribusi mereka dalam kelompok.
  • Evaluasi

Tak kalah penting, lakukan evaluasi terhadap performa kelompok sehingga diketahui apa yang perlu dibenahi dan mana yang sudah berjalan dengan baik. Tak hanya itu, evaluasi juga bisa bermanfaat untuk pekerjaan kelompok ke depannya.Menjadi social loafing bukanlah pembenaran, sebesar apapun kelompok yang Anda ikuti. Kontribusi sekecil apapun pasti akan berdampak apabila memang motivasinya untuk memajukan kelompok.Hargai prosesnya, bukan hasil akhirnya. Dengan menjadi sosok berbuat nyata saat berada dalam kelompok, Anda sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya kelak.Jika ingin berdiskusi lebih lanjut seputar fenomena sosial ini dan dampaknya bagi kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalhidup sehatmenjalin hubungan
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-social-loafing-2795883
Diakses pada 21 Januari 2021
Informs. https://pubsonline.informs.org/doi/abs/10.1287/isre.1050.0051
Diakses pada 21 Januari 2021
Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/social-loafing.html
Diakses pada 21 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait