Skin to Skin Contact Bayi Baru Lahir dengan Ibu, Apa Manfaatnya?

Manfaat skin to skin contact tidak hanya dirasakan oleh bayi, melainkan sang ibu sendiri
Salah satu manfaat skin to skin adalah membangun ikatan batin antara orangtua dengan bayi

Sesaat setelah melahirkan, ibu tentu merasa lelah dan ingin beristirahat. Namun, sebaiknya luangkan waktu sejenak untuk melakukan skin to skin contact atau kontak kulit ke kulit antara ibu dengan Si Kecil. Meski aktivitas ini tampak sederhana, ternyata ada berbagai manfaat skin to skin untuk bayi baru lahir dan sang ibu sendiri, lho.

Apa itu metode skin to skin contact atau kontak kulit ke kulit?

Kontak kulit ke kulit atau skin to skin adalah suatu metode di mana bayi baru lahir diletakkan langsung di dada ibu tanpa dihalangi pakaian sehingga kulitnya langsung bersentuhan dengan kulit ibu.

Baik tubuh bayi baru lahir dan sang ibu sama-sama ditutupi selimut hangat dan dibiarkan setidaknya selama satu jam hingga proses inisiasi menyusui dini (IMD) selesai.

Aktivitas yang dikenal pula dengan metode kanguru ini bisa dilakukan sesaat setelah bayi Anda dibersihkan atau  belum dibersihkan sama sekali oleh perawat. Bahkan, bisa juga sebelum bayi ditimbang atau tali pusarnya dipotong. Hal ini bertujuan untuk membantu menumbuhkan ikatan batin antara ibu dan bayi.

Selain dilakukan saat bayi baru lahir, skin to skin dapat dilakukan kapan pun Anda merasa perlu melakukannya. Meski lebih baik dilakukan bersama orangtua, skin to skin juga dapat dilakukan oleh anggota keluarga lain yang merawat Si Kecil, termasuk oleh pengasuhnya.

Manfaat skin to skin bagi bayi dan ibu

Ada berbagai manfaat skin to skin bagi bayi, maupun sang ibu sendiri. Berikut adalah berbagai manfaat skin to skin yang dirasakan oleh bayi dan ibu:

1. Membangun ikatan batin antara orangtua dengan bayi

Salah satu manfaat skin to skin adalah membangun ikatan batin antara orangtua dengan bayi. Ya, skin to skin adalah salah satu cara paling mudah untuk mempererat ikatan batin bayi dengan orangtuanya. Saat melakukan skin to skin, bayi akan merasa lebih aman dan nyaman.

Selain itu, sejak bayi dalam kandungan, bayi umumnya sudah mengenali suara ayah mereka. Jika bayi melakukan skin to skin contact dengan ayahnya, kegiatan ini juga dapat meningkatkan ikatan di antara keduanya menjadi lebih baik dan menenangkan.

2. Membuat bayi merasa lebih tenang dan nyaman

Sebagian besar bayi yang baru lahir akan berhenti menangis dan segera menjadi tenang setelah melakukan metode skin to skin dengan ibunya. Inilah manfaat skin to skin contact berikutnya, yaitu membuat bayi merasa lebih tenang dan nyaman.

Melakukan skin to skin contact selama 10 menit saja dapat mengurangi kadar hormon kortisol penyebab stres pada bayi. Sebaliknya, kadar hormon oksitosin akan meningkat sehingga merangsang sistem saraf parasimpatis agar bayi merasa tenang dan aman.

3. Membuat bayi tidur lebih nyenyak

Skin to skin dapat membantu bayi tidur lebih nyenyak
Bayi yang rutin lakukan skin to skin dengan ibunya bisa tidur lebih nyenyak

Menurunnya hormon stres bayi menyebabkan kualitas tidur bayi meningkat sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak.

Sementara, menurut hasil penelitian, bayi prematur yang menerima skin to skin contact lebih jarang terbangun di tengah-tengah tidurnya dibandingkan bayi prematur yang tidur di inkubator.

4. Membantu bayi beradaptasi

Umumnya, bayi baru lahir merasa kesulitan untuk mengatur suhu tubuhnya dengan baik, terutama bayi lahir prematur. Hal ini karena waktu bayi berada dalam kandungan, ia tidak perlu mengatur suhu tubuhnya sendiri.

Mengingat suhu kulit ibu mirip dengan saat bayi berada di kandungan, maka dengan melakukan skin to skin dapat membantu bayi merasa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya ketika ia sudah dilahirkan ke dunia.

5. Meningkatkan berat badan bayi yang sehat

Sebuah studi dari Cochrane Library mengatakan bahwa metode skin to skin dapat membantu meningkatkan penambahan berat badan bayi baru lahir rendah.

Saat bayi baru lahir dengan berat badan rendah merasa tubuhnya hangat, mereka tidak perlu menggunakan energi untuk mengatur suhu tubuh. Dengan ini, energi tersebut dapat digunakan untuk proses tumbuh kembangnya.

Selain itu, metode kanguru juga membantu bayi menikmati waktu menyusui sehingga dapat mencapai berat badan yang sehat.

6. Menjadikan bayi lebih sehat

Skin to skin membuat bayi tumbuh lebih sehat
Skin to skin bisa membuat tumbuh kembang bayi menjadi lebih sehat

Manfaat skin to skin contact lainnya pada bayi baru lahir adalah mereka memiliki detak jantung, tekanan darah, dan kadar gula darah yang cenderung lebih stabil dibandingkan dengan bayi yang tidak melakukan metode skin to skin pada orangtuanya.

7. Meningkatkan sistem imun tubuh

Manfaat skin to skin untuk bayi berikutnya adalah meningkatkan sistem imun tubuh.

Hal tersebut dikaitkan dengan adanya paparan bakteri baik dari kulit ibu ke bayi saat melakukan skin to skin sesaat setelah bayi baru lahir. Bakteri baik tersebut yang diyakini dapat melindungi buah hati dari infeksi penyakit di kemudian hari.

Skin to skin contact juga dapat meningkatkan imunitas tubuh pada bayi prematur sehingga ia tidak rentan terhadap infeksi penyakit. Pasalnya, bayi prematur memiliki sistem imunitas tubuh yang kurang baik lantaran rentan terhadap alergi, infeksi penyakit, dan masalah sulit makan. Dengan metode skin to skin, maka risiko kondisi tersebut dapat berkurang.

8. Meningkatkan perkembangan mental bayi

Sebuah hasil riset yang dilakukan di Kanada mengemukakan bahwa bayi prematur yang menerima skin to skin contact memiliki fungsi otak yang lebih baik pada usia 15 tahun, dibandingkan dengan bayi prematur yang ditempatkan di inkubator.

Oleh karena itu, terlepas dari bayi lahir prematur atau tidak, penting untuk melakukan metode skin to skin terlebih dahulu dengan ibu untuk membantu mengoptimalkan proses tumbuh kembangnya.

9. Membantu proses menyusui lebih mudah

Skin to skin bermanfaat untuk proses menyusui
Skin to skin memudahkan proses menyusui ibu dan bayi lebih mudah

Manfaat skin to skin contact juga dapat membuat proses menyusui ibu dan bayi menjadi lebih mudah. Bayi baru lahir secara naluriah memiliki rasa penciuman yang tinggi sehingga memudahkan bayi dalam mencari puting susu dan mulai menyusui.

Sedangkan, para ibu yang mempraktikkan skin to skin contact memiliki kemungkinan lebih tinggi menyusui secara eksklusif, serta rata-rata dari mereka menyusui tiga bulan lebih lama daripada ibu yang tidak melakukan metode skin to skin pada buah hatinya.

10. Meningkatkan pasokan air susu ibu (ASI)

Manfaat skin to skin tidak hanya dirasakan oleh bayi baru lahir, melainkan juga ibu yang baru saja melahirkan buah hatinya.

Salah satunya adalah meningkatkan pasokan ASI. Manfaat satu ini tentu tidak terlepas dari peningkatan hormon oksitosin dalam tubuh yang membuat ibu merasa lebih relaks, tenang, dan percaya diri sehingga memengaruhi produksi ASI-nya.

11. Mencegah depresi setelah persalinan

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat skin to skin contact dapat mengurangi depresi pascapersalinan bagi ibu.

Menurut MCN: The American Journal of Maternal/Child Nursing, manfaat skin to skin dapat meminimalkan risiko depresi pada ibu yang baru melahirkan.

Hormon oksitosin yang didapatkan dari tindakan skin to skin contact dapat mengurangi kecemasan ibu dan meningkatkan ikatan yang selanjutnya mengurangi risiko depresi.

Cara melakukan metode skin to skin

Sebenarnya, melakukan metode skin to skin lebih sering maka akan semakin baik manfaat yang akan didapat. Idealnya, metode ini harus mulai dilakukan sesaat setelah bayi baru lahir. Akan tetapi, skin to skin contact juga dapat dilakukan setiap saat.

Pada bayi lahir prematur, terutama berat badan bayi lahir rendah dan tidak dapat mengatur suhu tubuh mereka sendiri, skin to skin contact secara berkelanjutan juga sangat baik dilakukan. Bayi lahir prematur disarankan untuk melakukan metode skin to skin selama 20 minggu pertama sejak lahir ke dunia.

Cara melakukan skin to skin dengan tepat
Lakukan skin to skin antara ibu dengan bayi secara rutin

Lantas, bagaimana melakukan metode skin to skin antara bayi dengan ibu dengan tepat?

  • Lepas pakaian dalam Anda serta gunakan kaus atau baju yang longgar atau terbuka di bagian depan. Bila Anda masih berada di rumah sakit, Anda biasanya akan diberikan baju khusus ketika menjalani perawatan ini.
  • Bayi yang sudah dipakaikan popok (dan topi, bila perlu) akan ditempatkan di dada Anda secara horizontal dengan kepala berada di bawah leher dan kaki di bawah dada.
  • Tutup punggung bayi dengan selimut atau pakaian Anda dengan posisi kepala berada di luar selimut atau baju tersebut.
  • Pastikan posisi Anda dalam keadaan santai dan biarkan bayi tertidur di pelukan Anda selama minimal 20 menit.
  • Skin to skin contact ini dapat dilakukan baik oleh ibu atau ayah. Setelah bayi menyusu dengan ibu, sang ayah dapat bergantian melakukan skin to skin.

Mengingat banyaknya manfaat skin to skin untuk bayi dan ibu maka sangat disayangkan apabila Anda melewatkannya begitu saja. Anda dan pasangan dapat melakukan skin to skin dengan buah hati secara bergantian setiap hari.

Agar manfaat skin to skin yang didapat maksimal, lakukan secara rutin, ya. Jika perlu, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui waktu terbaik melakukan skin to skin dengan bayi.

Parents. https://www.parents.com/baby/care/newborn/kangaroo-care-the-importance-of-a-parents-touch/

Diakses pada 3 April 2020

Baby Center. https://www.babycenter.com/0_benefits-of-skin-to-skin-contact-with-your-newborn_20005036.bc

Diakses pada 3 April 2020

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/15276-skin-to-skin-contact-for-you--baby

Diakses pada 3 April 2020

Verywell Familly. https://www.verywellfamily.com/benefits-of-skin-to-skin-care-4118977

Diakses pada 3 April 2020

UNICEF. https://www.unicef.org.uk/babyfriendly/baby-friendly-resources/implementing-standards-resources/skin-to-skin-contact/

Diakses pada 3 April 2020

Cochrane Library. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD002771.pub2/abstract

Diakses pada 3 April 2020

Acta Paediatrica Nurturing The Child. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1651-2227.2012.02770.x

Diakses pada 3 April 2020

Journal of The American Academy of Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/117/5/e909.long

Diakses pada 3 April 2020

Artikel Terkait