7 Sisi Gelap Menjadi Orang Perfeksionis bagi Kesehatan Fisik dan Mental


Bagi orang perfeksionis, mereka ingin segala hal berlangsung dengan sempurna. Sekilas, menjadi seorang perfectionist bisa saja dianggap ideal, utamanya di dunia kerja. Sayangnya, kondisi ini juga membuat mereka rentan mengalami gangguan mental.

(0)
12 Mar 2021|Azelia Trifiana
Menjadi orang perfeksionis memiliki kekurangan tersendiriMenjadi orang perfeksionis memiliki kekurangan tersendiri
Bagi orang perfeksionis, mereka ingin segala hal berlangsung dengan sempurna. Sekilas, menjadi seorang perfectionist bisa saja dianggap ideal, utamanya di dunia kerja. Sayangnya, kondisi ini juga membuat mereka rentan mengalami gangguan mental.Istilah untuk kondisi ini adalah toxic perfectionism. Ketika mengalaminya, mengerjakan satu hal sederhana saja bisa menghabiskan banyak energi. Belum lagi, bayangan ekspektasi tidak realistis yang menghantui.

Pengaruh perfeksionisme bagi kesehatan

Menurut ahli, perfeksionisme adalah kombinasi dua hal: standar pribadi yang tinggi serta kritik diri sendiri berlebihan. Bukan tidak mungkin, kesehatan fisik maupun mental orang perfeksionis bisa terganggu.Mereka merasa nyaman apabila situasi berjalan sesuai urutannya. Namun apabila berlebihan, konsekuensinya bisa jadi sangat serius.Lihat bagaimana selebritas seperti Demi Lovato, Natasha Lyonne, juga Zendaya pernah mengakui bagaimana sulitnya berjuang melawan perfeksionisme. Bukan hanya merasa segalanya harus berjalan sesuai ekspektasi, ada juga kekhawatiran dikritik oleh orang lain.Lebih jauh lagi, beberapa efek negatif karakter orang perfeksionis bagi kesehatan adalah:

1. Merasa stres dan kelelahan

Dalam meta-analisis terhadap 284 studi, ditemukan bahwa perfeksionis yang cukup parah bisa menyebabkan seseorang rentan mengalami stres dan kelelahan. Terlebih jika berlangsung terus menerus atau konstan, keinginan untuk menjadi sempurna ini bisa menghabiskan energi seorang individu.Menariknya, orang perfeksionis juga lebih rentan mengalami sindrom rasa nyeri dan lelah tanpa sebab seperti fibromyalgia. Ini wajar mengingat orang dengan pemikiran perfeksionis tak segan mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri demi menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa cela.

2. Merasa tertekan

perempuan sedang cemas
Rentan mengalami tekanan
Dari waktu ke waktu, seorang perfeksionis akan merasa tertekan karena segala keraguan dan kekhawatiran dalam benaknya. Ketika melakukan sesuatu, muncul kecemasan bahwa hasil akhirnya tidak sesuai harapan. Belum lagi, ketakutan melakukan kesalahan ini menambah tekanan untuk menjadi sempurna.

3. Lebih rentan jatuh sakit

Terbukti dari studi terhadap 450 orang berusia lanjut di atas 65 tahun selama lebih dari 6 tahun, ada hubungan antara perfeksionisme dengan risiko jatuh sakit. Bahkan pada orang berusia lanjut, hal ini pun berkaitan dengan risiko kematian.Partisipan yang memiliki tingkat perfeksionisme tinggi berisiko 51% lebih tinggi meninggal dunia dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu perfeksionis. Pemicu utamanya adalah stres dan cemas berlebih yang cukup parah.

4. Kehidupan sosial buruk

perempuan sedang merenung
Sulit terbuka dengan orang lain
Bukan tidak mungkin, pola pikir perfeksionisme ini membuat seseorang menutup diri dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan, termasuk dari lingkaran pertemanan dan kerabat terdekat. Alasannya karena menghindari adanya kritik atau tuntutan dari orang lain.Padahal, support system adalah faktor krusial terhadap kesehatan fisik seseorang. Apabila seseorang memiliki ikatan yang cukup dekat dengan saudara serta teman-teman, besar kemungkinan menjadi lebih sehat.

5. Rentan depresi

Jangan salah, depresi dan perfeksionisme adalah dua hal yang sangat mungkin berkaitan. Orang perfeksionis sukar merasa puas dengan apa yang dilakukannya sehingga muncul ekspektasi yang tidak masuk akal.Apabila ekspektasi ini tidak tercapai, besar kemungkinan mereka akan mengalami depresi. Pola ini terus berulang, layaknya benang kusut. Belum lagi masalah kepercayaan diri, self-efficacy, hingga ketakutan ditolak orang lain juga menimbulkan beban tersendiri.

6. Rentan salah paham

Ketika mendengarkan masukan dari orang lain, ada kemungkinan terjadi kesalahpahaman. Alasannya karena saran baik yang membangun sekalipun bisa dianggap sebagai kritik yang destruktif. Adanya masukan atau kritik seakan membuktikan bahwa mereka lemah.Dalam jangka panjang, frekuensi kesalahpahaman ini bisa membuat orang perfeksionis sukar memiliki teman dekat. Orang lebih memilih menghindari mereka karena tidak mau terlibat dalam konflik.

7. Rentan ingin bunuh diri

Tidak menutup kemungkinan, terbersit suicidal thought ketika merasa gagal. Ada rasa tidak siap apabila situasi tidak berjalan dengan sempurna. Ini sangat berkaitan dengan masalah depresi dan kecemasan berlebih. Apabila tidak mendapat ruang untuk mengatasi perasaan luar biasa ini, bunuh diri bisa saja dianggap sebagai solusi.

Kenali gejalanya

Motivasi untuk bisa mengerjakan sesuatu dengan sempurna adalah hal yang positif. Meski demikian, terkadang hal ini justru menjadi kabur karena keinginan tidak rasional.Beberapa gejala yang menandakan perfeksionisme sudah berlebihan adalah:
  • Merasa gagal mencoba segala hal
  • Terus menerus menunda menuntaskan pekerjaan
  • Kesulitan rileks
  • Tidak bisa berbagi pikiran dan perasaan dengan mudah
  • Terlalu mengendalikan hubungan pribadi dan profesional
  • Terobsesi dengan peraturan, daftar, dan pekerjaan
  • Merasa tidak tertarik dengan segala hal
Penyebab pasti mengapa seseorang menjadi sosok perfeksionis berlebihan tidak diketahui secara pasti. Hanya saja, mereka hanya merasa berharga apabila berhasil melakukan sesuatu untuk orang lain atau mencapai sesuatu.

Umumnya, persaingan secara akademis juga bisa menjadi pemicu munculnya sifat perfeksionis bahkan sejak remaja. Ketika masuk ke dunia kerja, persaingan hingga target juga bisa memunculkan perfeksionisme berlebih.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar bahaya perfeksionisme terhadap kesehatan, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
depresigangguan mentalkesehatan mental
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323323
Diakses pada 27 Februari 2021
Journal of Clinical Psychology. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/jclp.22435
Diakses pada 27 Februari 2021
Live Science. https://www.livescience.com/6724-dark-side-perfectionism-revealed.html
Diakses pada 27 Februari 2021
Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/depression/being-a-perfectionist-can-make-you-depressed.aspx
Diakses pada 27 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait