Walau Memaniskan, Sirup Glukosa Tinggi dengan Kalori

Sirup glukosa merupakan bahan pemanis makanan olahan yang tinggi kalori
Sirup glukosa merupakan bahan pemanis makanan olahan yang tinggi kalori

Dalam memaniskan makanan dan minuman olahan, ada banyak pemanis yang sering dicampurkan. Salah satu yang sering Anda temukan adalah sirup glukosa. Dibuat dari makanan berpati, sirup glukosa ternyata tinggi kalori.

Sirup glukosa, seperti apa?

Sirup glukosa adalah bahan yang digunakan sebagai pemanis, pengental, dan penjaga kelembapan makanan serta minuman kemasan. Sirup ini biasa dicampurkan ke dalam produk permen, bir, dan beberapa makanan kaleng.

Sirup glukosa dibuat dengan menghancurkan molekul glukosa dari makanan berpati, melalui proses hidrolisis. Reaksi kimia dari proses tersebut menghasilkan kandungan glukosa yang terkonsentrasi dengan rasa yang manis. Sirup ini bisa berbentuk cairan yang kental dan ada pula yang berbentuk granul yang padat.

Ada beberapa makanan yang umum digunakan untuk membuat sirup glukosa, misalnya:

  • Jagung
  • Kentang
  • Barley (jali-jali atau jelai)
  • Ubi kayu
  • Gandum

Sirup glukosa dan pengaruhnya terhadap kesehatan

Sering ditambahkan ke makanan dan minuman, sirup glukosa memang membantu meningkatkan rasa manis makanan. Hal ini tentu menjadi daya tarik penggunaan sirup glukosa, terlebih bahan ini juga cenderung murah untuk diproduksi.

Lantas, adakah pengaruhnya terhadap kesehatan?

Sirup glukosa tidak menawarkan manfaat kesehatan. Sirup ini juga tidak mengandung lemak atau protein. Hanya saja, sirup glukosa mengandung gula dan kalori yang tinggi.

Satu sendok makan (15 ml) sirup glukosa saja akan menyumbang 62 kalori dan 17 gram karbohidrat. Angka ini hampir 4 kali lipat lebih tinggi dari kalori dalam gula pasir.

Karena tingginya kalori dalam sirup glukosa, mengonsumsi bahan ini terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, misalnya:

Tips menghindari efek buruk sirup glukosa

Mengonsumsi sirup glukosa terus-menerus dapat berbahaya untuk kesehatan. Untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya, ada beberapa tips yang perlu Anda terapkan:

1. Lebih banyak konsumsi makanan utuh

Sebisa mungkin, Anda bisa mengurangi makanan dan minuman olahan atau kemasan. Sirup glukosa sering dicampurkan ke dalam soda, jus, minuman energi, permen, buah-buahan kaleng, roti, dan makanan ringan kemasan.

Pada akhirnya, makanan utuh dan alami lebih dianjurkan untuk menghindari bahan-bahan berbahaya. Makanan utuh serta alami lebih tinggi kandungan vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh.

2. Selalu periksa label makanan dan minuman kemasan

Selalu cek dengan saksama daftar bahan di label makanan kemasan – jika Anda masih mengonsuminya. Untuk sirup glukosa, pemanis ini dapat terdaftar sebagai sirup glukosa, glucose syrup, atau glukosa.

3. Cari produk dengan pemanis yang lebih sehat

Anda juga bisa mencari makanan dan minuman yang mengandung pemanis yang lebih sehat. Beberapa makanan olahan menggunakan molase, stevia, xylitol, sirup yacon, atau erythritol sebagai ganti sirup glukosa. Dalam kadar yang tak berlebihan, pemanis-pemanis tersebut risikonya lebih kecil dibandingkan dengan sirup glukosa.

Sirup glukosa dengan sirup jagung, apa bedanya?

Layaknya sirup jagung, beberapa sirup glukosa dibuat dengan memecah tepung jagung. Atas persamaan ini, sirup jagung dapat disebut sirup glukosa. Hanya saja, tidak semua sirup glukosa adalah sirup jagung, karena ada sirup glukosa yang terbuat dari bahan makanan lain.

Baik sirup glukosa maupun sirup jagung sama-sama menawarkan sedikit manfaat kesehatan. Kedua sirup ini tidak mengandung banyak vitamin atau mineral.

Catatan dari SehatQ

Sirup glukosa merupakan bahan pemanis yang sering dicampurkan ke dalam makanan dan minuman olahan. Pastikan Anda selalu jeli dan teliti dalam membeli makanan dan berusaha untuk mengurangi konsumsi sirup glukosa. Sebab, kandungan kalori yang tinggi pada sirup ini bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/glucose-syrup
Diakses pada 22 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/21-reasons-to-eat-real-food
Diakses pada 22 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/high-starch-foods
Diakses pada 22 April 2020

Artikel Terkait