Sindrom Baby Blues atau Depresi Pascamelahirkan? Ini Bedanya

Gejala sindrom baby blues dan sindrom pascamelahirkan sangat mirip, namun berbeda
Perbedaan sindrom baby blues dan sindrom pascamelahirkan tak hanya pada durasinya.

Melahirkan bayi seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi para orangtua baru. Namun tidak sedikit juga ibu yang mengalami sindrom baby blues. Kondisi ini ditandai dengan kehadiran buah hati yang justru membuat sang ibu sedih, frustrasi, hingga marah tanpa sebab.

Merasa lelah ketika merawat bayi baru lahir sebetulnya merupakan perasaan yang lumrah bagi ibu baru. Sesaat setelah melahirkan, hormon ibu akan turun drastis. Belum lagi bayi baru lahir biasanya memaksa ibu tak tidur semalaman, sehingga energi ibu terkuras nyaris sepanjang hari.

Rasa lelah itu seharusnya hilang ketika sang ibu beristirahat. Jika tidak, ada kemungkinan Anda mengalami sindrom baby blues.

Waspadai ciri-ciri sindrom baby blues

Sindrom ini biasanya muncul dari empat sampai lima hari setelah bayi lahir. Tapi tidak menutup kemungkinan ada sebagian ibu yang sudah memperlihatkan gejala baby blues sebelum memasuki masa persalinan. Nah, seperti apakah tepatnya indikasi sindrom ini?

  • Merasa sedih atau menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Uring-uringan atau mudah marah.
  • Tidak sabar.
  • Merasa lelah sepanjang hari.
  • Cemas berlebihan.
  • Gelisah.
  • Insomnia (misalnya, tidak bisa tidur, padahal Si Kecil sedang tertidur).
  • Kesedihan yang berlarut-larut.
  • Mood yang tidak stabil atau gampang berubah.
  • Sulit fokus atau berkonsentrasi.

Jika Anda merasakan tanda-tanda di atas, segera komunikasikan dengan pasangan, orang terdekat, atau berkonsultasi dengan dokter maupun tenaga medis lainnya. Yang perlu diingat adalah Anda bukan satu-satunya wanita yang pernah mengidap sindrom baby blues. Terdapat 70 hingga 80 persen ibu baru yang pernah mengalami perasaan yang sama.

Perbedaan sindrom baby blues dengan depresi pascamelahirkan

Sindrom baby blues bisa menyerang perasaan sang ibu dalam kurun waktu satu hingga dua minggu. Kemudian mood dan perasaan ibu baru berangsur-angsur membaik.

Jika Anda tetap merasa sedih, cemas, marah, sampai ingin menyakiti Buah Hati maupun diri sendiri lebih lama dari kurun waktu tersebut, mungkin yang Anda rasakan adalah sesuatu yang lebih kompleks dari sindrom baby blues, yakni depresi pascamelahirkan.

Diperkirakan ada sekitar 1 di antara 10 orang wanita di seluruh dunia yang pernah merasakan depresi pascamelahirkan. Anda juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami depresi ini jika pernah mengidap depresi jenis lain atau ada anggota keluarga yang pernah mengalami depresi.

Pada umumnya, gejala sindrom baby blues dengan depresi pascamelahirkan amat mirip. Namun tetap ada beberapa perbedaan. Selain soal durasi gejala, berikut sederet perbedaan sindrom baby blues dengan depresi pascamelahirkan:

1. Perubahan suasana hati

Jika mengidap sindrom baby blues, Anda akan merasakan perubahan suasana hati yang sangat drastis. Di satu waktu, Anda merasa sangat bangga bisa memandikan bayi baru lahir, namun satu menit kemudian Anda merasa sedih karena merasa tidak mampu memakaikan popok bayi dengan benar.

Tetapi bila Anda mengidap depresi pascamelahirkan, Anda akan merasa stres, sedih, tidak berguna, merasa di luar kendali, dan bukan ibu yang baik bagi bayi Anda sepanjang hari. Bahkan tidak jarang Anda sering menangis karena merasa tidak berdaya.

2. Tidak nafsu makan

Jika Anda mengidap sindrom baby blues, Anda akan merasa tidak nafsu makan atau enggan merawat diri sendiri karena faktor kelelahan. Sedangkan pada ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan, tidak nafsu makan juga akan dirasakan dan disertai kecenderungan mengucilkan diri sepanjang waktu karena merasa sangat putus asa.

3. Ikatan batin dengan bayi

Sindrom baby blues maupun depresi pascamelahirkan sama-sama menghasilkan bonding dengan bayi yang kurang kuat. Pasalnya, Anda cenderung menilai diri sendiri tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi buah hati.

Perbedaannya adalah pada sindrom baby blues, ibu masih mau merawat bayi. Sementara ibu yang depresi pascamelahirkan cenderung menolak untuk mengemong bayinya karena kerap dihantui rasa bersalah maupun kepanikan yang datang tiba-tiba.

Mengakui bahwa Anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran buah hati mungkin terasa janggal dilakukan oleh seorang ibu. Tetapi jangan pernah ragu untuk mencari bantuan ketika Anda merasakan ketidaknyamanan tersebut.

Bantuan sekecil dan secepat apapun akan sangat berharga ketika Anda menderita sindrom baby blues apalagi depresi pascamelahirkan. Bila perlu, konsultasikan ke dokter agar kondisi Anda bisa dipastikan dan ditangani dengan saksama.

 

WebMD. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/postpartum-depression-baby-blues#1
Diakses pada 7 Mei 2019

American Pregnancy. https://americanpregnancy.org/first-year-of-life/baby-blues/
Diakses pada 7 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed