logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Mengenal Akibat Keguguran dan Cara Mengatasinya

open-summary

Akibat keguguran tidak hanya meliputi fisik saja, melainkan juga mental. Setelah keguguran, orangtua bisa mengalami berbagai emosi negatif, seperti kemarahan, rasa duka, dan sebagainya.


close-summary

3.67

(6)

29 Okt 2019

| Anita Djie

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Depresi merupakan salah satu akibat keguguran

Setelah keguguran, biasanya seorang wanita akan merasakan kesedihan dan kekosongan dalam dirinya

Table of Content

  • Apa saja kondisi yang menyebabkan keguguran?
  • Depresi dapat terjadi akibat keguguran
  • Bagaimana cara mengatasi keguguran?
  • Benarkah hamil lagi dapat menjadi cara pemulihan pasca keguguran?
  • Catatan dari SehatQ

Kelahiran buah hati sudah pasti merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh para orangtua. Namun, terkadang rencana yang sudah disusun matang dan kehadiran si Kecil yang telah dinantikan bisa sirna begitu saja.

Advertisement

Keguguran bukanlah hal yang mudah dilalui oleh kedua orangtua, khususnya sang calon ibu yang telah mengandung anaknya dalam jangka waktu yang lama. Setelah keguguran, orangtua bisa merasakan berbagai dampak fisik ataupun emosional.

Baca Juga

  • Demam Saat Hamil Tak Boleh Diabaikan, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
  • Keluar Cairan Kuning dan Berbau Setelah Nifas, Apa Penyebabnya?
  • Bercak Darah Saat Hamil, Wajarkah?

Apa saja kondisi yang menyebabkan keguguran?

Keguguran bisa terjadi karena banyak faktor dan terkadang keguguran tidak selalu dapat ditentukan secara pasti. Pada beberapa kasus, keguguran terjadi karena perkembangan janin yang tidak normal akibat kelainan genetik atau masalah di plasenta. Namun beberapa penyebab keguguran lainnya juga bisa dialami akibat: 

  • Penyakit kronis, seperti diabetes atau penyakit ginjal

  • Penyakit autoimun, misalnya lupus dan sindrom antifosfolipid

  • Kelainan rahim, misalnya serviks yang lemah dan miom

  • Obat-obatan yang dikonsumsi, seperti obat antiinflamasi nonsteroid, methotrexate, dan retinoid

  • Kelainan pada rahim, misalnya serviks rahim

  • Penyakit infeksi, seperti toxoplasmosis, rubella, sifilis, malaria, HIV, dan gonore

  • Gangguan hormon, misalnya penyakit tiroid atau PCOS

Sementara itu, beberapa faktor yang membuat seorang ibu hamil lebih berisiko mengalami keguguran antara lain: 

  • Hamil di atas usia 35 tahun

  • Pernah mengalami keguguran sebelumnya

  • Kebiasaan merokok

  • Mengonsumsi minuman beralkohol

  • Menyalahgunakan NAPZA

Depresi dapat terjadi akibat keguguran

Perawatan setelah keguguran tidak hanya meliputi pemulihan secara fisik, tetapi juga mental. Setelah keguguran, pasangan bisa merasakan berbagai emosi negatif, seperti rasa bersalah, duka, kemarahan, keputusasaan, dan kesendirian.

Pasangan juga mungkin dapat merasakan kecemburuan terhadap orangtua lain yang memiliki anak setelah keguguran.

Salah satu efek setelah keguguran yang bisa dialami oleh pihak wanita adalah peningkatan rasa sedih yang dapat memicu depresi.

Kemunculan depresi bisa diakibatkan oleh perubahan hormon dalam tubuh wanita yang berpengaruh pada rasa sedih yang dirasakan. Namun, efek setelah keguguran ini biasanya akan berangsur-angsur menghilang dalam beberapa minggu.

no caption
Rasa sedih akibat keguguran dapat memicu depresi pada wanita

Setelah keguguran, biasanya para wanita memiliki keinginan untuk memeriksa hasil rekam medis dan mengingat-ingat apa saja yang gagal atau luput dilakukan. Akan tetapi, Anda perlu menyingkirkan keinginan tersebut, karena keguguran jarang diakibatkan oleh kesalahan dari pihak orangtua.

Selain dari segi emosi, hubungan dengan pasangan juga turut terpengaruh setelah keguguran. Efek setelah keguguran bisa merusak rumah tangga atau malah membuat pasangan makin dekat dengan satu sama lainnya.

Para suami cenderung lebih kurang terbuka mengenai apa yang dirasakan dan lebih cepat melewati masa kedukaan daripada sang istri.

Hal ini terkadang malah membuat para istri berasumsi bahwa suaminya tidak memedulikan peristiwa keguguran yang telah terjadi. Di sisi lain, para suami justru menganggap pasangannya terlalu berlebihan dalam meresponi kejadian keguguran yang sudah dialami.

Bagaimana cara mengatasi keguguran?

Keputusan untuk memiliki anak diawali dengan kesepakatan antara Anda dan pasangan. Oleh sebab itu setelah keguguran, orangtua perlu melalui efek setelah keguguran secara bersama-sama sebagaimana layaknya pasangan.

Perawatan setelah keguguran tidak boleh hanya difokuskan pada pemulihan fisik, tetapi juga mental. Berikut adalah beberapa cara mengatasi keguguran yang bisa Anda coba:

no caption
Dukung pasangan melewati masa-masa sedih setelah keguguran
  • Memahami apa yang dirasakan oleh pasangan

Pria dan wanita menanggapi kejadian keguguran secara berbeda. Pria lebih cenderung tidak membicarakan perasaan yang dirasakan dan wanita lebih condong merasakan dampak efek setelah keguguran secara emosional lebih lama.

Oleh karenanya, kedua belah pihak harus saling memahami apa yang dirasakan satu sama lainnya. Para suami harus bisa memaklumi dan mengerti bahwa sang istri akan lebih merasakan emosi yang dialami dan membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit dari emosi yang dirasakan.

Sebaliknya, para istri juga harus memahami bahwa para suami bukannya tidak memedulikan kejadian keguguran yang telah terjadi, karena pada dasarnya efek setelah keguguran akan dirasakan oleh kedua pasangan.

  • Tingkatkan komunikasi dengan pasangan 

Untuk bisa memahami satu sama lainnya, pasangan harus saling terbuka dan mendukung satu sama lainnya dalam melewati masa-masa setelah keguguran.

Seringkali para suami justru menghindari topik mengenai keguguran di hadapan istri karena khawatir hal tersebut malah membuat pasangannya makin sedih. Namun hal ini dapat ditangkap sebagai suatu ketidakpedulian akan kejadian yang telah dialami.

Oleh karenanya, para suami sebaiknya mengajak istrinya untuk membicarakan mengenai perasaan setelah keguguran yang telah dialami. Para suami juga bisa menunjukkan kepeduliannya dengan membantu istri melakukan aktivitas sehari-harinya.

  • Ekspresikan emosi yang dirasakan

Emosi yang pasangan adalah sesuatu yang normal untuk dialami. Anda justru harus mengekspresikan dan memberitahukan apa yang dirasakan alih-alih menyimpannya dalam hati.

Pasangan tidak perlu malu untuk membagikan apa yang dialami karena kejadian keguguran memang merupakan suatu hal yang berat dan sulit untuk dihadapi.

  • Mencari dukungan dari sekitar

Meminta bantuan atau dukungan dari orang-orang sekitar bukanlah suatu hal yang memalukan atau merepotkan. Anda bisa membicarakan apa yang dirasakan dengan kerabat atau keluarga, serta meminta bantuan mereka dalam aktivitas sehari-hari yang dijalani.

Tidak hanya dari kerabat atau keluarga, Anda juga bisa meminta dukungan dari pemuka agama ataupun mengikuti kelompok orangtua yang juga pernah mengalami keguguran untuk bisa saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya.

no caption
Ajak pasangan untuk berkonsultasi ke psikolog atau konselor
  • Konsultasikan dengan psikolog, konselor, atau psikiater 

Bila Anda atau pasangan tidak merasa mampu untuk menghadapi emosi-emosi yang dirasakan, meskipun sudah ada dukungan dari orang-orang sekitar, Anda atau pasangan tidak perlu sungkan untuk mengunjungi psikolog, konselor, atau psikiater.

Psikolog, konselor, atau psikiater dapat membantu pasangan untuk menghadapi efek setelah keguguran yang terasa berat untuk dijalani.

Benarkah hamil lagi dapat menjadi cara pemulihan pasca keguguran?

Anda dan pasangan tidak perlu terburu-buru ingin memiliki anak lagi setelah keguguran. Berikan waktu untuk Anda dan pasangan sampai Anda dan pasangan sudah merasa cukup baik untuk kembali memiliki anak.

Jika Anda dan pasangan sudah memutuskan untuk ingin memiliki anak lagi, konsultasikan dengan dokter untuk mengecek apakah Anda dan pasangan sudah bisa memiliki anak lagi secara fisik.

Catatan dari SehatQ

Emosi yang dirasakan oleh pasangan setelah keguguran adalah hal yang normal terjadi. Istri maupun suami harus bisa menerima segala emosi dan kejadian yang telah dialami, serta berhenti menyalahkan diri masing-masing.

Sebagian besar keguguran tidak terjadi karena kesalahan dari orangtua, tetapi karena adanya kecacatan genetik yang menghalangi perkembangan janin secara normal. Apabila Anda atau pasangan mengalami kesulitan dalam menghadapi masa-masa setelah keguguran, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog, konselor, atau psikiater.

Advertisement

mengatasi depresikeguguranibu hamil

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved