Servisitis atau peradangan leher rahim disebabkan oleh infeksi yang dapat menyebar ke rahim, panggul, dan perut
Nyeri perut merupakan salah satu gejala munculnya peradangan leher rahim.

Servisitis adalah peradangan pada serviks atau leher rahim, bagian dari rahim yang berdekatan dengan vagina. Servisitis merupakan penyakit yang sering ditemukan pada wanita dan 8-25% wanita dapat mengalaminya secara berulang.  

Servisitis dapat disebabkan beberapa faktor seperti infeksi, paparan bahan kimia, iritasi, dan reaksi alergi.

[[artikel-terkait]]

5 Gejala Servisitis

Menentukan penyebab servisitis merupakan hal yang sangat penting. Misalnya, penyebab servisitis adalah infeksi, maka Anda harus mewaspadainya.

Kuman penyebab infeksi dapat menyebar ke rahim, buluh rahim, rongga panggul, dan rongga perut yang dapat mengancam jiwa.

Beberapa wanita dapat mengalami servisitis tanpa disertai gejala apapun. Biasanya, servisitis ditemukan pada saat skrining atau pemeriksaan rutin oleh dokter. Namun, beberapa gejala berikut ini pun dapat muncul pada servisitis.

  • Keputihan yang berwarna kuning pucat atau keabu-abuan
  • Perdarahan yang tidak normal, seperti perdarahan setelah berhubungan badan atau perdarahan di luar siklus menstruasi
  • Nyeri pada saat berhubungan badan atau pada saat pemeriksaan rutin serviks
  • Gangguan buang air kecil seperti kesulitan, nyeri, ataupun menjadi sering berkemih
  • Nyeri panggul, nyeri perut, dan demam

10 kondisi penyebab servisitis

Pada umumnya penyebab servisitis adalah infeksi menular seksual, seperti infeksi gonore atau chlamydia. Namun seperti diuraikan sebelumnya, penyebab servisitis juga dapat berasal dari penyebab non-infeksius. Berikut beberapa penyebab servisitis yang bisa terjadi.

1. Infeksi gonore dari bakteri Neisseria gonorrhoeae

Pada umumnya gonore ditularkan melalui hubungan seksual. Namun, menyentuh daerah yang terinfeksi oleh bakteri ini, juga dapat menularkan bakteri tersebut.

2. Infeksi chlamydia akibat bakteri Chlamydia trachomatis

Infeksi chlamydia merupakan infeksi menular seksual yang sering terjadi. Kebanyakan infeksi chlamydia tidak menimbulkan gejala, sehingga penderita secara tidak sadar dapat menularkan bakteri ini, pada saat berhubungan badan.

3. Infeksi herpes karena virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2

Infeksi virus ini sangat menular, dan dapat ditularkan melalui hubungan badan.

4. Trikomoniasis dari parasit Trichomonas vaginalis

Parasit ini lebih sering menyerang wanita daripada pria. Meskipun infeksi parasit ini sering tidak menimbulkan gejala, terapi diperlukan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi menular seksual lainnya.

5. Infeksi mycoplasma

Mycoplasma adalah bakteri yang tidak memiliki dinding sel. Antibiotik yang tepat diperlukan untuk membunuh bakteri ini.

6. Vaginosis bakterialis

Kondisi ini terjadi akibat pertumbuhan abnormal bakteri di vagina, yang dapat menyebar ke serviks.

7. Alergi

Alergi terhadap bahan kimia pada alat kontrasepsi spermisida, alergi terhadap karet kondom dan pembersih kewanitaan bisa menyebabkan servisitis.

8. Iritasi atau luka

Munculnya iritasi maupun luka akibat penggunaan tampon dan alat kontrasepsi, dapat memicu peradangan leher rahim.

9. Gangguan hormon

Gangguan semacam ini, berisiko menyebabkan jaringan rahim tidak sehat.

10. Kanker atau terapi kanker

Baik kanker, maupun terapi untuk mengobati kanker, dapat menyebabkan perubahan jaringan rahim.

Tidak semua servisitis memerlukan terapi. Terapi biasanya diperlukan pada servisitis yang disebabkan oleh infeksi. Oleh karena itu, selalu konsultasikan keadaan Anda kepada dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/cervicitis#1
Diakses pada 1 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervicitis/symptoms-causes/syc-20370814
Diakses pada 1 Mei 2019

Banner Telemed