Sering Lari dari Tanggung Jawab Ternyata Gangguan Mental, Bagaimana Penjelasannya?

Mengakui kesalahan dan mau tanggung jawab bukanlah hal memalukan. Justru, itu menunjukkan jiwa ksatria.
Disonansi kognitif menjadi alasan mengapa ada orang yang lari dari kesalahan dan tak mau tanggung jawab.

Semua orang pernah membuat kesalahan, sebab tidak ada manusia yang sempurna. Yang membedakan adalah, respons setelah membuat kesalahan itu; apakah mau mengaku salah atau malah tidak mengakuinya, sehingga lari dari tanggung jawab.

Penting diketahui, lari dari tanggung jawab setelah membuat kesalahan menandakan adanya "konstitusi psikologi" yang lemah. Bagaimana penjelasannya?

Tidak mau tanggung jawab atas kesalahan, ternyata gangguan mental

Jika seseorang memiliki konstitusi psikologi yang lemah, itu tandanya, mengaku salah merupakan hal yang “membahayakan” dan bisa mengancam egonya. Bahkan, ia merasa tidak bisa mentolerirnya.

Selain itu, menerima fakta bahwa ia membuat kesalahan, bisa menghancurkan kondisi psikologisnya. Orang-orang dengan gangguan mental ini cenderung lari dari tanggung jawab dan mengubah fakta-fakta di dalam otak mereka, untuk merasa tidak bersalah.

Lebih dari itu, orang-orang yang lari dari tanggung jawab dan tidak mau menerima kesalahannya ini, akan melawan dan membuat penyangkalan jika orang lain tetap mendesaknya agar mau bertanggung jawab atau mengakui kesalahannya.

Secara psikologis, mereka rapuh, sekalipun terlihat sangat tegas dan teguh dengan pendiriannya dalam membela diri.

Perlu diketahui, kerapuhan psikologis bukanlah tanda dari kekuatan diri, melainkan sebuah kelemahan. Sebab, bersikeras dalam membela diri dari kesalahan, bukanlah kemauan mereka. Hal itu terpaksa dilakukan, untuk melindungi ego semata.

Jangankan mereka, individu yang sehat secara psikologis, terkadang merasa tidak enak ketika harus mengakui kesalahan, tapi bisa move on dan melupakan kesalahan itu, serta berusaha keras agar tidak mengulanginya. Namun, lain halnya dengan orang-orang yang memiliki kerapuhan psikologis.

Mengapa mengakui kesalahan terasa sulit?

Mungkin Anda pernah bertanya, mengapa mengakui kesalahan dan menjalani tanggung jawab untuk “membayar” kesalahan, begitu sulit?

Carol Tavris, seorang psikolog yang menulis buku “Mistakes Were Made (But Not by Me)”, menegaskan bahwa hal itu merupakan disonansi kognitif. Kondisi ini merupakan stres yang dirasakan saat Anda memegang pendirian teguh terhadap dua pemikiran, keyakinan, pendapat atau sikap yang saling bertentangan. Untuk mengatasinya, orang-orang pun cenderung tidak mengakui kesalahan dan lari dari tanggung jawab.

Pernahkah merasa, ketika konsep diri seperti “aku pintar”, “aku baik”, dan “aku yakin bahwa ini benar”, terancam oleh hal yang membuktikan bahwa Anda pernah melakukan hal yang tidak pintar, atau memperlakukan seseorang dengan sikap buruk? Itulah disonansi kognitif.

Disonansi bisa terasa tidak nyaman. Itulah penyebab pembelaan diri saat seseorang berbuat salah dan lari dari tanggung jawab.

Bagaimana cara “menyembuhkan” gangguan mental ini?

Ketika Anda atau orang terdekat memiliki gangguan mental ini, ada banyak sekali alasan yang bisa membuat mengakui kesalahan terasa lebih ringan, seperti berikut ini.

  • Akui kesalahan

    Dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf, sampai akhirnya bertanggung jawab, Anda bisa memperbaiki komunikasi dengan orang-orang yang dirugikan.
  • Ekspresikan rasa penyesalan

    Anda bisa mengekspresikan rasa menyesal, untuk membuat hati jadi lebih lega.
  • Tahu salah dan benar

    Mendiskusikan mengenai hal yang salah dan benar, dengan orang-orang yang dirugikan, agar Anda bisa memperbaiki diri.
  • Belajar dari kesalahan

    Mencari cara dan belajar untuk menghadapi berbagai macam situasi, agar kesalahan tak diulangi lagi.

Jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sebab, keempat alasan di atas, bisa membuat Anda menjadi individu yang lebih baik lagi, dan tidak mengulangi kesalahan serupa.

Jika sudah bisa berlapang dada terhadap penilaian yang dilontarkan kepada Anda, ini saat yang tepat untuk memiliki quality time bersama diri sendiri. Jadi, Anda pun bisa introspeksi diri.

Catatan dari SehatQ

Mengakui kesalahan dan melakukan tanggung jawab bukanlah hal yang memalukan. Malah, tindakan ini menunjukkan bahwa seseorang sudah cukup dewasa, untuk bisa mengetahui kesalahan yang telah diperbuat.

Jika Anda atau ada teman yang masih sering lari dari tanggung jawab atas sebuah kesalahan, ada baiknya berkonsultasi dengan psikolog, untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu.

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-squeaky-wheel/201811/why-certain-people-will-never-admit-they-were-wrong

Diakses pada 30 Oktober 2019

 

New York Times. https://www.nytimes.com/2017/05/22/smarter-living/why-its-so-hard-to-admit-youre-wrong.html

Diakses pada 30 oktober 2019

 

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/how-to-apologize-more-sincerely-3144467

Diakses pada 30 Oktober 2019

 

TLNT. https://www.tlnt.com/how-to-gracefully-admit-youre-wrong/

Diakses pada 30 Oktober 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed