Sering Keringatan Berlebih? Mungkin Anda Mengalami Hiperhidrosis Primer

Keringat berlebih pada telapak tangan dapat disebabkan oleh hiperhidrosis primer
Seorang wanita memiliki masalah keringat berlebih pada telapak tangan

Apakah Anda merasa tubuh mengeluarkan keringat berlebih di beberapa bagian hingga memunculkan ketidaknyamanan dan merusak kepercayaan diri? Bila demikian, bisa jadi Anda mengidap hiperhidrosis primer.

Hiperdrosis primer adalah kondisi ketika keringat Anda keluar dari tubuh dengan jumlah yang lebih banyak dari normal. Keringat berlebih ini bisa muncul di beberapa titik tubuh yang terdapat kelenjar keringat dengan konsentrasi besar, seperti telapak tangan, telapak kaki, ketiak, maupun selangkangan.

Penyebab terjadinya hiperhidrosis primer tidak diketahui, namun kondisi ini tidak membahayakan kesehatan. Jika keringat berlebihan Anda terjadi karena penyakit tertentu (misalnya kegemukan, menopause, diabetes, atau hipertiroidisme), maka Anda dikatakan mengidap hiperhidrosis sekunder.

Mengenali gejala hiperhidrosis primer

Baik hiperhidrosis primer maupun sekunder memiliki persamaan, yakni keluarnya keringat secara berlebih dari beberapa titik yang disebutkan di atas selama 6 bulan berturut-turut. Khusus pada hiperhidrosis primer, penderitanya juga mengalami setidaknya dua gejala tambahan dari beberapa poin berikut ini:

  • Keringat berlebih muncul di kedua belah bagian tubuh, misalnya di kedua ketiak, kedua telapak tangan, dan sebagainya.
  • Keringat berlebih ini muncul setidaknya satu kali dalam seminggu.
  • Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari Anda terganggu.
  • Anda akan berhenti berkeringat ketika tidur.
  • Keringat bisa muncul di sekujur tubuh, bisa juga di beberapa titik saja.
  • Wajah sering memerah ketika Anda berkeringan berlebihan.
  • Jika hiperhidrosis primer terjadi di telapak tangan atau kaki, kulit telapak tersebut akan berwarna putih-kebiruan atau merah muda abnormal. Kulit telapak juga akan terasa sangat halus, namun bersisik atau pecah-pecah, terutama di bagian kaki.

Hiperhidrosis primer biasanya muncul saat Anda masih kanak-kanak, saat pubertas, atau berusia kurang dari 25 tahun, serta bisa menetap seumur hidup atau hilang dengan sendirinya. Kondisi keringat berlebih ini bisa semakin parah dalam kondisi tertentu, misalnya saat Anda berolahraga, merasa cemas, mengonsumsi kafein atau nikotin, serta sedang sakit.

Jika Anda mengalami gejala hiperhidrosis primer di atas, tidak ada salahnya memeriksakan diri ke dokter. Kondisi ini memang tidak membahayakan nyawa, tapi bisa mencederai kepercayaan diri sehingga mengganggu kehidupan sosial Anda.

Apa yang bisa Anda lakukan saat menderita hiperhidrosis primer?

Penanganan hiperhidrosis primer bertujuan mengontrol keluarnya keringat yang berlebihan mengingat kondisi ini bisa membaik, tapi sangat mungkin kambuh berulang kali. Kadang kala, dokter akan merekomendasikan Anda untuk melakukan jenis perawatan lebih dari satu agar hasilnya lebih efektif.

Jenis perawatan hiperhidrosis primer pun tergantung pada area keluarnya keringat berlebih itu sendiri. Beberapa alternatif perawatan itu adalah:

  • Antiperspirant

Ini merupakan pilihan pertama yang biasanya direkomendasikan dokter karena relatif terjangkau dan efektif. Antiperspirant yang bisa diaplikasikan di ketiak, telapak tangan dan kaki, serta kulit kepala banyak dijual bebas, namun penderita hiperhidrosis primer mungkin membutuhkan dosis lebih tinggi yang diresepkan oleh dokter.

Efek samping penggunaan antiprespiran adalah sensasi seperti terbakar hingga kulit iritasi. Ada pula yang menghubungkannya dengan kanker payudara maupun Alzheimer, tapi hingga kini belum ada bukti klinis yang menyebutkan demikian.

  • Suntik botoks

Suntik botulinum toksin (botoks) biasanya dilakukan jika keringat berlebih Anda terjadi di area ketiak. Anda harus memastikan cairan botoks yang digunakan aman dan dokter yang menangani juga profesional untuk meminimalisir rasa nyeri yang mungkin timbul karena suntikan mungkin harus dilakukan di berbagai titik di bawah ketiak.

Efek suntik botoks bisa terlihat setelah 5 hari pascainjeksi dan bisa bertahan selama 6 bulan. Ketika keringat berlebih Anda kembali datang, Anda bisa disuntik botoks kembali

  • Iontoforesis

Ini merupakan alat yang bisa digunakan oleh penderita hiperhidrosis primer di telapak tangan maupun kaki. Cara penggunaannya adalah dengan merendam telapak tangan dan kaki dalam wadah berisi sedikit air, kemudian dialiri listrik bertegangan rendah agar saraf di telapak tersebut mati sehingga menghalangi kerja kelenjar keringat selama beberapa waktu.

Meski demikian, banyak pasien hiperhidrosis yang tidak menyukai terapi dengan alat ini karena butuh waktu lama mengingat Anda harus merendam kaki atau tangan selama 20-40 menit sebanyak 2-3 kali sehari. Belum lagi, efek samping yang mungkin timbul adalah kulit kering, iritasi, dan ketidaknyamanan selama terapi.

  • Tisu khusus

Terdapat tisu khusus yang biasa digunakan oleh penderita hiperhidrosis primer dengan keluhan di ketiak. Tisu ini mengandung bahan aktif glypyrronium tosylate yang mampu mengurangi keluarnya keringat pada anak-anak berusia 9 tahun ke atas.

  • Obat-obatan

Jika keringat berlebih Anda muncul di sekujur tubuh, dokter bisa meresepkan obat untuk mengurangi kerja kelenjar keringat. Akan tetapi, obat ini memiliki efek samping berupa mulut dan mata kering, jantung berdebar-debar, dan penglihatan kabur.

  • Operasi

Ketika semua opsi pengobatan tidak bisa meredakan gejala hiperhidrosis primer Anda, operasi bisa jadi langkah pamungkas. Pilihan terakhir ini sendiri banyak macamnya, mulai dari memotong kelenjar keringat (eksisi), menyedot (liposuksi), kuret, laser, maupun operasi besar seperti simpatektomi.

Semua jenis operasi memiliki risiko masing-masing dengan risiko paling minimal adalah rasa kebas, memar, dan infeksi yang akan sembuh dalam masa pemulihan. Dalam kasus yang lebih berat, efek samping operasi penyembuhan hiperhidrosis primer dapat mengakibatkan kerusakan saraf permanen.

Khusus pada simpatektomi, efek samping yang mungkin muncul adalah compensatory sweating alias keringat yang justru lebih banyak dibanding sebelumnya. Selain itu, saraf pada otak dan mata bisa rusak, tekanan darah rendah ekstrem, detak jantung tidak beraturan, bahkan meninggal dunia.

Selalu komunikasikan dengan dokter untuk menentukan langkah efektif mengatasi hiperhidrosis primer, termasuk menimbang efek samping yang bisa muncul.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/182130
Diakses pada 27 Juni 2020

International Hyperhidrosis Society. https://www.sweathelp.org/home/types-of-hyperhidrosis.html
Diakses pada 27 Juni 2020

NORD. https://rarediseases.org/rare-diseases/hyperhidrosis-primary
Diakses pada 27 Juni 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hyperhidrosis/diagnosis-treatment/drc-20367173
Diakses pada 27 Juni 2020

AAD. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/hyperhidrosis-treatment
Diakses pada 27 Juni 2020

Artikel Terkait