Sering Digunakan, Adakah Bahaya Deodorant dan Antiperspirant?


Ada anggapan bahaya deodorant bisa menyebabkan kanker payudara. Namun, hanya sedikit studi yang menghubungkan antara risiko kanker seperti kanker payudara dengan penggunaan deodoran. Masih perlu penelitian lebih jauh untuk membuktikannya.

(0)
25 Mar 2021|Azelia Trifiana
Penggunaan deodoran sehari-hari dapat mengurangi bau badanPenggunaan deodoran sehari-hari dapat mengurangi bau badan
Sangatlah beralasan mengapa di pasaran semakin banyak alternatif pengganti deodoran dengan klaim lebih aman. Ada anggapan bahaya deodorant bisa menyebabkan akumulasi racun di nodus limfa. Dikhawatirkan, hal ini bisa mengubah sel-sel sehat menjadi sel kanker berbahaya.Meski demikian, hanya sedikit studi yang menghubungkan antara risiko kanker seperti kanker payudara dengan penggunaan deodoran. Masih perlu penelitian lebih jauh untuk membuktikannya.

Perbedaan deodoran dan antiperspirant

Sebelum mengulas apa bahaya deodoran bagi tubuh, bedakan dulu apa itu deodoran dan antiperspirant. Keduanya bekerja dengan cara berbeda.Deodoran berfungsi meningkatkan keasaman kulit agar bakteri penyebab bau badan tidak berkembang. Sementar antiperspirant bekerja dengan mengurangi keringat yang keluar dari tubuh.Food and Drug Administration Amerika Serikat menganggap deodoran sebagai produk kosmetik, sementara antiperspirant merupakan obat yang bisa berpengaruh terhadap fungsi tubuh.

Benarkah memicu kanker payudara?

Antiperspirant mengandung aluminum yang mencegah agar keringat tidak muncul ke permukaan kulit. Caranya adalah dengan menahan kelenjar keringat.Dari sinilah muncul kekhawatiran bahwa kulit akan menyerap zat aluminum itu sehingga berdampak pada estrogen di sel-sel payudara.Meski demikian, American Cancer Society menegaskan tidak ada hubungan jelas antara kanker dan aluminum di produk antiperspirant karena jaringan sel kanker payudara tidak menunjukkan kadar aluminum lebih banyak.Selain itu, disebutkan pula bahwa hanya sedikit sekali zat aluminum yang terserap yaitu sekitar 0,0012 persen berdasarkan studi terhadap antiperspirant yang mengandung aluminum chlorohydrate.Lebih jauh lagi, ada beberapa studi dengan temuan serupa, yaitu:
  • Studi tahun 2002 terhadap 793 perempuan tanpa riwayat kanker payudara dan 813 perempuan dengan riwayat kanker payudara menunjukkan tidak ada peningkatan pertumbuhan sel kanker setelah menggunakan deodorant dan antiperspirant di ketiak
  • Ulasan sistematis pada tahun 2016 menyimpulkan tidak ada hubungan antara risiko kanker payudara dengan penggunaan Meski demikian, studi ini sangat menyarankan ada penelitian lebih lanjut.
Mengingat hasil dari banyak studi serta penelitian masih menunjukkan hasil berbeda, artinya perlu penelitian lebih mendalam lagi untuk menemukan korelasi antara penggunaan deodoran dan antiperspirant terhadap kanker payudara.

Benarkah sebabkan penyakit Alzheimer?

Ada juga kekhawatiran bahaya deodorant dan antiperspirant yang menyebabkan penyakit Alzheimer. Beberapa dekade silam sekitar tahun 1960, beberapa studi menemukan tingginya kadar aluminum di otak orang yang menderita penyakit gangguan fungsi kognitif ini.Dari situlah ditanyakan keamanan benda-benda rumah tangga yang mengandung aluminum, antacid, termasuk antiperspirant.Namun, ketika dilakukan penelitian beberapa tahun kemudian, tidak ditemukan hasil yang sama. Aluminum tidak lagi dianggap sebagai penyebab terjadinya penyakit Alzheimer.Para ahli sepakat bahwa kandungan aluminum seperti yang ada pada produk pencegah bau badan tidak serta merta bisa masuk ke tubuh. Cara kerjanya berbeda.Aluminum akan membentuk reaksi kimia dengan air di keringat sehingga ada semacam penyumbat. Nantinya, ini akan menempel pada kelenjar keringat sehingga area yang diberikan antiperspirant tidak mengeluarkan keringat berlebih.

Benarkah sebabkan penyakit ginjal?

Beberapa tahun silam pula, ada pertanyaan apakah antiperspirant menyebabkan penyakit ginjal. Asal mulanya adalah ketika pasien yang melakukan prosedur cuci darah diberikan obat aluminum hydroxide untuk mengendalikan kadar fosfor dalam darahnya.Mengingat ginjalnya sudah bermasalah, maka kemampuan membuang aluminum tidak terlalu cepat. Di sinilah terjadinya akumulasi. Penderita penyakit ginjal yang memiliki kadar aluminum cukup tinggi lebih rentan mengalami demensia.Namun, ini hanya berlaku pada pasien yang ginjalnya hanya berfungsi kurang dari 30%. Faktanya, hampir mustahil tubuh menyerap aluminum lewat kulit yang bisa membahayakan ginjal, kecuali dimakan langsung atau disemprotkan ke mulut.

Catatan dari SehatQ

Ada banyak kekhawatiran yang muncul terkait bahaya deodorant dan antiperspirant. Namun, hampir semuanya telah dibantah karena aluminum tidak semudah itu terserap ke dalam tubuh lewat kulit. Jadi, tak perlu terlalu khawatir.Apalagi produk-produk semacam ini telah digunakan selama bertahun-tahun dan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan risikonya. Tidak untuk kanker payudara, Alzheimer, dan juga penyakit ginjal.Justru lebih penting membentengi diri dari penyakit lewat hal-hal yang lebih nyata, seperti aktif bergerak, makan bergizi, serta menyadari betul apa yang penting untuk kesehatan mental.Terakhir, tak masalah juga bagi yang ingin menggunakan produk lebih natural untuk deodoran dan antiperspirant. Sesuaikan dengan preferensi, kebutuhan, serta aktivitas masing-masing.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar mitos bahaya deodorant, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan wanitakanker payudarakulit dan kecantikan
Healthline. https://www.healthline.com/health/deodorant-vs-antiperspirant
Diakses pada 13 Maret 2021
FDA. https://www.fda.gov/cosmetics/resources-consumers-cosmetics/cosmetics-safety-qa-personal-care-products
Diakses pada 13 Maret 2021
American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/antiperspirants-and-breast-cancer-risk.html
Diakses pada 13 Maret 2021
Journal of the National Cancer Institute. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12381712/
Diakses pada 13 Maret 2021
WebMD. https://www.webmd.com/breast-cancer/features/antiperspirant-facts-safety
Diakses pada 13 Maret 2021
Central European Journal of Public Health. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27755864/
Diakses pada 13 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait