Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Stres dan Depresi

Perbedaan stres dan depresi terletak pada tingkat keparahannya
Stres dan depresi adalah dua gangguan mental yang berlainan

Hampir setiap orang mungkin pernah mengalami stres. Kondisi ini bisa disebabkan oleh tekanan pekerjaan, konflik dengan pasangan atau keluarga, hingga hal sepele seperti menghadapi kemacetan jalanan ibu kota. 

Kendati demikian, Anda sebaiknya perlu berhati-hati dan tidak meremehkan stres. Pasalnya, jika sudah terlalu stres, Anda bisa saja berujung pada kondisi depresi

Bagi orang awam, stres dan depresi sekilas tampak serupa. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, sehingga penanganannya pun akan berbeda.

Karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali perbedaan stres dan depresi agar dapat mencegah hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari.

Kenali perbedaan stres dan depresi ini

Mengenali perbedaan stres dan depresi dapat membantu Anda dalam mengenali tekanan mental yang Anda alami. Berkut penjelasannya:

  • Apa itu stres?

Stres adalah sebuah reaksi tubuh pada situasi yang berbahaya, atau sesuatu yang nyata dan dirasakan.  

Saat dilanda stres, tubuh Anda akan membaca adanya ancaman atau serangan. Tubuh akan melepas berbagai hormon dan zat-zat kimia, seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin.

Pelepasan hormon dan senyawa kimia tersebut bertujuan mempersiapkan tubuh untuk melakukan tindakan fisik. Hal ini menyebabkan timbulnya sejumlah reaksi fisik yang meliputi peningkatan detak jantung, napas makin cepat, otot menegang, dan kenaikan tekanan darah.

Tekanan stres dapat mendorong Anda untuk makin terpacu menghadapi tantangan, tapi bisa pula mematahkan semangat Anda. Pasalnya, tiap orang memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam menghadapi stres. 

Sebagian orang akan terbiasa dan lebih mampu mengatasi stres daripada sebagian orang lainnya. Namun jika tidak berhasil diatasi, stres bisa berujung pada depresi. 

  • Apa itu depresi?

Depresi adalah suatu penyakit mental yang berdampak buruk pada berbagai aspek kehidupan penderitanya. Mulai dari suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, hingga tingkat konsentrasi. 

Orang yang mengalami depresi dapat merasa sedih dan gagal, mudah lelah, kehilangan semangat atau motivasi, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Kondisi ini harus ditangani dengan saksama agar tidak berujung fatal. 

Gejala stres yang perlu dicatat

Setiap orang akan mengalami gejala stres yang berbeda-beda. Namun secara umum, kondisi-kondisi di bawah ini bisa menjadi tanda-tanda stres:

  • Merasa seolah-olah kehilangan kendali dan kewalahan.
  • Menghindari orang lain, bahkan teman terdekat maupun keluarga. 
  • Gampang gelisah, frustrasi, dan murung.
  • Kesulitan untuk konsentrasi. 
  • Sakit kepala.
  • Gangguan pencernaan, termasuk mual, diare, atau sembelit. 
  • Sulit tidur atau insomnia.

Gejala depresi yang sebaiknya diwaspadai

Gejala depresi juga bisa bervariasi pada setiap penderitanya. Perhatikan beberapa indikasi depresi berikut ini:

  • Merasa tak berdaya dan putus asa. 
  • Kehilangan rasa percaya diri dan harga diri.
  • Selalu merasa cemas. 
  • Kesulitan konsentrasi.
  • Menghindari orang lain, termasuk teman dekat. 
  • Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya.
  • Mengalami gangguan tidur, contohnya tidak bisa tidur atau justru durasi tidur lebih lama dari biasanya. 
  • Menyakiti diri sendiri. 
  • Tidak lagi menikmati hal-hal yang biasanya menarik dan menyenangkan, misalnya enggan melakukan hobi. 
  • Sering berpikir tentang kematian.
  • Memiliki keinginan untuk bunuh diri. 

Bagaimana cara menangani stres dan depresi?

Cara menangani stres sebenarnya mencakup perubahan gaya hidup. Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan:

Stres umumnya tidak perlu ditangani dengan obat-obatan dari dokter. Namun lain cerita jika pasien memiliki penyakit mental yang memicu stres. Misalnya, gangguan kecemasan

Sementara ketika Anda mengalami depresi, dokter spesialis jiwa umumnya akan memberikan obat antidepresan. Ada berbagai jenis antidepresan yang tersedia. Karena itu, Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan jenis antidepresan yang cocok dengan kondiri Anda.

Jika obat antidepresan saja kurang efektif untuk menangani depresi, dokter mungkin akan meresepkan jenis obat-obatan lain. Penting diketahui bahwa obat depresi harus dikonsumsi sesuai dosis dan jangka waktu yang direkomendasikan oleh dokter. 

Selain minum obat, penderita depresi juga perlu menjalani psikoterapi dengan psikolog atau psikiater. Penderita pun bisa dianjurkan untuk menjalani terapi kognitif perilaku (cognitive behavioural therapy/CBT).

 

Catatan dari SehatQ

Stres dan depresi bukanlah gangguan mental yang dapat hilang begitu saja. Jadi, jangan remehkan kondisi ini dan carilah bantuan medis. 

Segera berkonsultasi dengan dokter dan pakar kesehatan mental lain apabila Anda atau orang-orang terdekat mengalami stres berkepanjangan dan depresi, apalagi jika keinginan bunuh diri sudah muncul. 

Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat sesuai kondisi stres dan depresi yang dialami.

WebMD. https://www.webmd.com/balance/stress-management/stress-symptoms-effects_of-stress-on-the-body#1
Diakses pada 23 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/depression/features/stress-depression#1
Diakses pada 23 Oktober 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/145855.php
Diakses pada 23 Oktober 2019

Mental Health Foundation. https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/d/depression
Diakses pada 23 Oktober 2019

Stress Management Society. https://www.stress.org.uk/what-is-stress/
Diakses pada 23 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed