Victim blaming adalah mental menyalahkan korban atas terjadinya kejahatan
Orang dengan mental victim blaming seringkali juga ikut menyalahkan korban

Bukan rahasia umum jika keadilan seakan tidak berpihak pada korban kekerasan seksual. Bukannya mendapat keadilan setelah memberanikan diri menyuarakan penderitaannya, yang terjadi justru victim blaming. Korban justru dianggap sebagai yang bersalah. Ini hanya segelintir contoh, karena victim blaming bisa terjadi seputar hal apapun.

Faktanya, tendensi untuk melakukan victim blaming bisa jadi telah terprogram di pikiran manusia sejak level yang paling mendasar. Tidak melulu berarti secara langsung menuduh korban, tapi bisa saja mengaitkan apa yang telah dilakukan korban dengan apa yang dialaminya.

Dampak negatif victim blaming

Meskipun victim blaming secara alami telah terprogram di pikiran manusia, ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Bahkan untuk hal sepele seperti melihat orang tersandung saat berjalan, lalu muncul pikiran victim blaming bahwa ia kurang hati-hati melihat jalan di depannya.

Beberapa dampak negatif dari victim blaming adalah:

  • Tidak bisa memandang sesuatu secara objektif
  • Memarginalisasi korban yang selamat dari suatu kejadian
  • Menyepelekan suatu aksi kriminal
  • Membuat korban segan bicara atau melaporkan kejadian

Secara tidak sadar, perlakukan kolektif victim blaming membuat sistem yang tidak berpihak pada korban. Terlepas dari banyaknya gerakan atau aksi sosial mendukung korban, tetap saja praktik victim blaming masih langgeng hingga kini.

Dari mana asal victim blaming?

Secara psikologis, victim blaming bisa terjadi karena ada rasa abai terhadap kondisi orang lain. Ditambah lagi dengan perasaan superior yang membuat seseorang cenderung merasa kurang empati dengan apa yang dialami orang lain.

Secara spesifik, psikolog meyakini tendensi victim blaming secara paradoks dari kebutuhan mendasar bahwa dunia ini adalah tempat yang baik. Untuk membuatnya terwujud, perlu ada alasan yang masuk akal terhadap semua yang terjadi di sekitar.

Nyatanya dalam keseharian, ada banyak sekali berita menyeramkan yang benar-benar terjadi. Sebagai bentuk perlindungan terhadap semua ketakutan itu, muncullah tendensi untuk melakukan victim blaming sehingga hal-hal malang atau kesialan itu terasa “jauh” dari diri sendiri.

Masih mendukung tendensi tentang victim blaming ini, psikolog dari University of Massachusetts menyebut cara pandang “positive assumptive worldview”. Pada level tertentu, sebagian besar manusia percaya bahwa bumi adalah tempat yang baik.

Dengan demikian, hal baik akan terjadi pada orang baik pula. Lebih spesifik lagi, orang yang berpikir tentang hal ini merasa dirinya baik dan tidak akan mendapat kemalangan atau menjadi korban.

Sayangnya, semua keyakinan ini kerap tanpa sadar membuat manusia menggampangkan tendensi melakukan victim blaming. Untuk membuat nyaman diri sendiri di tengah banyaknya kasus kriminal di sekitar, manusia secara psikologis merasa bahwa korban memang telah melakukan sesuatu yang membuatnya mengalami tindakan kriminal itu.

Artinya, tendensi untuk victim blaming sebenarnya adalah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Dengan melakukannya, ada rasa “terpisah” dari korban dan keyakinan bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada diri sendiri.

Victim blaming bisa dicegah

Meskipun tendensi victim blaming telah terprogram di pikiran manusia, bukan berarti hal ini tidak bisa dihindari. Lawan kata dari victim blaming adalah empati. Ketika orang merasa empati, maka tendensi untuk victim blaming akan hilang.

Untuk mencegah munculnya victim blaming, hal yang bisa dilakukan adalah:

  • Bangun rasa empati

Segera bangun rasa empati ketika mendengarkan berita kriminal atau berita buruk apapun. Posisikan diri sebagai korban sehingga bisa ikut merasakan dan terhindar dari jebakan pikiran untuk victim blaming.

  • Buang pikiran yang tak perlu

Ketika mengalami kemalangan atau menjadi korban tindakan kriminal, tentu tak ada yang ingin disalahkan. Tidak ada yang ingin dianggap memancing tindakan kriminal. Tidak ada yang ingin menjadi trauma. Untuk itu, buang jauh-jauh pikiran victim blaming karena hanya akan membuat korban merasakan semua itu.

  • Realistis

Berpikirlah realistis bahwa dunia ini bukan tempat yang selamanya aman. Artinya, tidak ada tindakan kriminal sekecil apapun yang bisa dimaklumi. Dengan demikian, rasa berpihak terhadap korban yang berani bicara atau melaporkan tindakan kriminal yang terjadi padanya akan semakin besar.

  • Jangan ada bias gender

Selain keberpihakan, kadang bias gender juga membuat seseorang bisa melakukan victim blaming tanpa disadari. Jadi, hilangkan unsur gender ketika berbicara tentang korban. Sebagai contoh tindakan pelecehan seksual yang kerap kali diasosiasikan dengan perempuan, di sisi lain bisa dianggap hal biasa ketika yang menjadi korban adalah laki-laki.

Catatan dari SehatQ

Membangun rasa empati terhadap orang lain tidak akan pernah salah. Memang tidak mudah pada awalnya, terutama bagi orang yang tinggal di kota dengan kehidupan serba cepat dan individualis. Namun jangan biarkan empati luntur agar rasa dan kebaikan dalam hati tak pernah pudar.

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-web-violence/201409/three-simple-steps-you-can-take-avoid-victim-blaming

Diakses 27 April 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-lies-and-conflict/201901/how-denial-and-victim-blaming-keep-sexual-assault-hidden

Diakses 27 April 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/supersurvivors/201803/why-do-people-blame-the-victim

Diakses 27 April 2020

Artikel Terkait