Serba-serbi Transfusi Darah, dari Manfaat Hingga Risikonya

Transfusi darah ada banyak jenisnya, seperti transfusi plasma dan transfusi platelet
Transfusi darah perlu dilakukan pada orang yang mengalami perdarahan hebat

Transfusi darah adalah pemberian darah dari satu orang (donor) ke orang lain (resipien), yang kekekurangan satu atau lebih komponen darah. Prosedur transfusi darah dapat dilakukan di fasilitas kesehatan maupun pada kegiatan donor darah yang khusus diadakan untuk menambah jumlah tabungan di dalam bank darah.

Tidak hanya bermanfaat bagi penerima, transfusi darah juga dapat memberikan manfaat kesehatan bagi pemberinya. Meski begitu, Anda juga tidak bisa menutup mata dari risiko yang mungkin muncul. Agar lebih jelas, berikut ini penjelasan lengkap seputar transfusi darah untuk Anda.

Mengapa transfusi darah dilakukan?

Tidak semua orang yang mengalami perdarahan perlu diberikan transfusi darah. Ada kondisi tertentu, yang membuat orang tersebut patut menerima transfusi darah, di antaranya:

  • Mengalami talasemia atau anemia sel sabit, yang mengakibatkan sel darah merah tidak bisa bekerja dengan sempurna
  • Mengalami kanker atau sedang menjalani perawatan untuk kanker
  • Kehilangan banyak darah akibat kecelakaan parah atau sedang menjalani operasi besar
  • Perdarahan di saluran pencernaan akibat ullkus atau perlukaan di organ
  • Menderita gangguan hati serius
  • Mengalami anemia berat
  • Menderita syok septik
  • Mengalami gangguan pembekuan darah

Jenis-jenis transfusi darah

Darah yang diberikan saat prosedur ini berlangsung, bentuknya bisa macam-macam, sesuai kebutuhan, seperti berikut ini:

• Sel darah merah

Trasfusi sel darah merah, umumnya digunakan untuk mengatasi kondisi seperti anemia atau kekurangan zat besi yang parah.

• Platelet

Platelet atau trombosit adalah salah satu jenis sel yang terdapat di darah, dan berperan dalam proses pembekuan darah. Transfusi ini dilakukan apabila Anda kekurangan platelet. Kondisi ini banyak terjadi pada pasien kanker.

• Plasma

Transfusi plasma darah akan membantu menggantikan protein tertentu, yang berperan dalam proses pembekuan darah. Prosedur ini biasanya dilakukan pada orang yang mengalami perdarahan hebat atau gangguan hati.

Berapa lama proses transfusi darah dilakukan?

Proses transfusi darah bisa berlangsung antara 1-4 jam. Prosedur ini bisa saja hanya dilakukan satu kali atau secara rutin, tergantung kebutuhan. Pemberian transfusi darah dibatasi maksimal 4 jam, untuk mencegah darah yang disimpan menjadi rusak, dan tidak aman diberikan.

Darah yang diberikan saat prosedur ini umumnya adalah darah orang lain, yang golongan dan rhesusnya sesuai dengan Anda. Namun pada beberapa kasus, transfusi darah juga bisa dilakukan dengan memakai darah sendiri, yang sebelumnya sudah pernah disimpan di bank darah.

Untuk mendapatkan darah yang sesuai, terkadang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun hal ini tidak berlaku dalam kondisi darurat. Sebab, untuk kasus mendesak, darah harus segera diberikan. Jika tidak, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Tahapan dalam prosedur transfusi darah

Berikut ini tahapan prosedur transfusi darah, dari awal hingga selesai.

1. Sebelum transfusi darah

Sebelum prosedur transfusi dilakukan, dokter mungkin akan menginstruksikan Anda untuk terlebih dahulu menjalani tes darah lengkap. Hal ini dilakukan agar dokter dapat menentukan kebutuhan Anda terhadap transfusi darah, serta melihat kondisi penyakit kronis lain.

Namun, tes darah ini tidak dilakukan dalam kondisi darurat. Pada kondisi darurat, pemberian transfusi darah akan dilakukan saat itu juga.

Sesaat sebelum transfusi dilakukan, petugas medis akan melakukan tes lain untuk mengetahui golongan darah Anda. Langkah ini penting untuk memastikan kesesuaian donor dengan kebutuhan darah.

Jika sudah cocok, petugas akan mulai memasang selang infus untuk mengalirkan darah dari kantung darah ke dalam tubuh Anda.

2. Saat transfusi darah

Selama 15 menit pertama setelah dimulainya transfusi darah, perawat akan memantau kondisi Anda secara langsung. Sebab dalam jangka waktu inilah, respons tubuh terhadap prosedur ini biasanya muncul. Pada beberapa orang, transfusi darah bisa memicu reaksi berupa:

  • Demam
  • Sakit punggung
  • Gatal-gatal
  • Sesak napas
  • Kedinginan

Petugas akan segera menghentikan transfusi apabila reaksi di atas terjadi. Sementara itu, apabila tidak ada reaksi negatif yang muncul dari tubuh, petugas akan mempercepat proses transfusi, dengan mengalirkan lebih banyak darah dalam waktu tertentu.

Selama proses transfusi berjalan, dokter ataupun perawat akan terus memantau tanda-tanda vital Anda, seperti tekanan darah, suhu tubuh, pernapasan, dan denyut nadi. Prosedur akan terus dilakukan sesuai instruksi dokter, yang disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda saat itu.

3. Setelah transfusi darah

Tergantung dari kondisi yang dialami, beberapa orang dapat langsung kembali pulang setelah prosedur ini selesai. Setelah transfusi darah, area bekas jarum suntik mungkin akan terlihat memar dan nyeri selama beberapa hari setelahnya.

Segera hubungi dokter apabila dalam 24 jam setelah menerima transfusi darah, Anda merasa tidak enak badan, sesak napas, dan nyeri dada atau sakit punggung.

Bahayakah transfusi darah?

Secara umum, transfusi darah adalah prosedur yang aman dilakukan. Hanya saja, sama seperti prosedur medis lainnya, tetap ada risiko yang mungkin terjadi. Reaksi ringan yang dapat terjadi di antaranya reaksi alergi seperti gatal, bentol-bentol, dan demam.

Penularan penyakit melalui darah donor, seperti HIV, hepatitis B atau hepatitis C hampir tidak pernah terjadi. Sementara itu, reaksi komplikasi yang parah sangat jarang terjadi. Berikut ini beberapa komplikasi parah yang mungkin muncul setelah transfusi darah.

  • Reaksi imun hemolitik akut

Pada penyakit ini, sistem imun di tubuh justru menyerang sel darah merah baru yang masuk ke dalam tubuh, karena golongan darah yang diberikan tidak cocok dengan golongan darah di tubuh. Serangan ini akan menghasilkan suatu zat yang kemudian bisa merusak ginjal.

  • Reaksi hemolitik tertunda

Gangguan ini hampir sama dengan kondisi reaksi imun hemolitik akut. Hanya saja, reaksi hemolitik tertunda, terjadi dalam waktu yang lebih lambat. Bahkan, reaksi ini bisa saja baru disadari kemunculannya empat minggu setelah proses transfusi darah.

Dalam berbagai keadaan, transfusi darah merupakan penentu kelangsungan hidup seseorang. Sementara itu bagi orang yang sehat, melakukan donor darah bisa memberikan berbagai manfaat untuk kesehatan, seperti menurunkan tingkat kekentalan darah dan menekan kadar kolesterol.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/blood-transfusion/about/pac-20385168
Diakses pada 22 Januari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/blood-transfusion-what-to-know#1
Diakses pada 22 Januari 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/blood-transfusion/
Diakses pada 22 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/blood-transfusion-how-long
Diakses pada 22 Januari 2020

Hospital Care for Children. http://www.ichrc.org/106-transfusi-darah
Diakses pada 22 Januari 2020

Artikel Terkait