Seputar Vitamin B10 yang Jarang Dikenal


Vitamin B10 atau para-aminobenzoic acid adalah zat organik yang bisa ditemukan di beberapa jenis makanan. Selain itu, ada juga suplemen dengan manfaat vitamin B10 untuk membantu mengurangi rambut beruban serta mengatasi beberapa masalah kulit.

0,0
22 Aug 2021|Azelia Trifiana
Vitamin B10 bisa ditemukan juga di dalam suplemenVitamin B10 bisa ditemukan juga di dalam suplemen
Vitamin B10 atau para-aminobenzoic acid adalah zat organik yang bisa ditemukan di beberapa jenis makanan. Selain itu, ada juga suplemen dengan manfaat vitamin B10 untuk membantu mengurangi rambut beruban serta mengatasi beberapa masalah kulit.Tentu saja bagi siapapun yang memutuskan untuk mengonsumsi vitamin B10 berbentuk suplemen, perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Ketahui kebutuhan, sesuaikan dengan dosis masing-masing.

Apa itu vitamin B10?

Vitamin B10 adalah bagian dari vitamin B kompleks. Secara alami, vitamin ini bisa ditemukan di daging jeroan, jamur, whole grain, dan bayam. Setelah masuk ke tubuh, akan ada proses sintetis berkat peran bakteri baik dalam pencernaan. Dari situlah bisa terbentuk folat atau vitamin B9.Meski demikian, zat ini sebenarnya bukanlah benar-benar vitamin atau nutrisi esensial. Ketika dijual dalam bentuk suplemen, vitamin B10 dianggap dapat bermanfaat untuk kesehatan kulit dan rambut.

Manfaat vitamin B10

Masih sedikit studi ilmiah yang menemukan apa saja manfaat vitamin B10. Namun, berikut ini adalah beberapa potensi manfaatnya:

1. Melindungi dari sinar matahari

Para-aminobenzoic acid atau PABA dapat menyerap sinar ultraviolet, utamanya UVB. Sinar UV yang satu ini dikenal dapat menyebabkan sunburn hingga kerusakan DNA. Itulah mengapa banyak produsen yang memasukkan PABA sebagai kandungan dalam tabir surya.Namun, tidak sedikit pula kasus alergi yang terjadi akibat kandungan PABA dalam sunscreen. Sejak itulah pada tahun 2019 Food and Drug Administration atau FDA Amerika Serikat tidak lagi menganggapnya sebagai zat yang aman dan efektif digunakan dalam produk tabir surya.Terkadang, masih ada beberapa lotion atau pelembap yang masih menggunakan PABA sebagai komposisinya. Selain itu, ada yang menggunakannya dalam sampo, kondisioner, dan lipstick namun lebih jarang.

2. Masalah kulit

Potensi manfaat vitamin B10 lainnya disebut-sebut berkhasiat mengatasi masalah kulit. Utamanya, masalah yang terjadi ketika kulit mengeras dan warnanya berubah. Meski demikian, penjelasan bagaimana zat ini dapat membuat kondisi masalah kulit membaik masih belum jelas betul.Sebuah studi dari tim asal Giessen, Jerman menemukan bahwa konsumsi suplemen PABA potasium selama 12 bulan pada pasien penyakit Peyronie menunjukkan ukuran plak mengecil. Pasien penyakit ini sebelumnya mengalami penumpukan plak fibrosa di dalam penis sehingga tampak bengkok. Meski demikian, studi kecil ini masih perlu penelitian lebih lanjut. Hingga kini, vitamin B10 belum dianggap sebagai solusi efektif untuk penyakit ini. Studi yang sudah ada perlu pembaharuan karena telah dilakukan lebih dari satu dekade silam.

3. Perawatan rambut

Dulunya, manfaat vitamin B10 dianggap dapat menjadi bahan produk perawatan rambut. Sebab, khasiatnya bisa membantu proses repigmentasi atau mengembalikan rambut beruban dini. Hingga kini, masih ada produk perawatan rambut yang menggunakan PABA karena klaim ini.Jika ada studi yang mendukung pun, itu datang dari tahun 1941. Dalam penelitian itu, partisipan yang mengonsumsi suplemen PABA setiap harinya dengan dosis 200 miligram hingga 24 gram mengakui rambut berubannya kembali hitam.Namun perlu diingat bahwa setelah berhenti mengonsumsi suplemen, rambut partisipan kembali beruban. Hingga kini pun belum ada lagi studi yang lebih baru tentang hal ini.Jadi, kurang tepat apabila Anda mengonsumsi suplemen PABA hanya untuk membuat rambut lebih gelap. Sebab, ada risiko efek samping yang menyertai.

Risiko alergi yang muncul

Beberapa orang mengaku mengalami reaksi alergi setelah menggunakan sunscreen yang mengandung PABA. Gejalanya adalah kulit menjadi kemerahan, muncul ruam, disertai dengan rasa gatal.Sejak itu, PABA tidak lagi digunakan dalam produk sunscreen di negara-negara salah satunya Amerika Serikat.Tak kalah penting, mengonsumsi suplemen vitamin B10 dalam jumlah banyak tidaklah aman bagi mereka yang menderita penyakit hati dan ginjal. Setidaknya, ada enam laporan kasus penderita penyakit Peyronie mengalami cedera hati akut setelah mengonsumsi suplemen ini.Lebih jauh lagi, PABA juga bisa berinteraksi dengan obat yang mengandung sulfonamides. Contohnya adalah beberapa jenis antibiotik. Ketika terjadi interaksi, maka efektivitasnya bisa menurun.Begitu pula pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak, belum ada studi ilmiah tentang keamanan mengonsumsi suplemen PABA. Oleh sebab itu, disarankan untuk tidak mengonsumsi suplemennya yang berbentuk oral.Sementara untuk PABA yang ada dalam produk kosmetik, segera hentikan penggunaan apabila muncul reaksi alergi seperti iritasi atau ruam kemerahan.

Catatan dari SehatQ

Manfaat vitamin B10 secara ilmiah belum benar-benar mengalami pemutakhiran. Ada beberapa studi itupun telah terjadi lebih dari satu dekade silam dan hanya pada sampel kelompok kecil. Jadi, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa vitamin B10 dalam bentuk suplemen bisa melindungi kulit, rambut, bahkan menyembuhkan penyakit Peyronie.Bahkan negara-negara seperti Amerika Serikat telah melarang penggunaan kandungan PABA dalam sunscreen karena reaksi alergi yang ditimbulkannya. Mengonsumsi suplemen vitamin B10 dalam dosis tinggi juga tidak dianggap aman.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar vitamin apa yang lebih dibutuhkan tubuh ketimbang vitamin B10, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
vitamin b9hidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/vitamin-b-10
Diakses pada 7 Agustus 2021
Science. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17792884/
Diakses pada 7 Agustus 2021
The Journal of Sexual Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18624965/
Diakses pada 7 Agustus 2021
European Urology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15774254/
Diakses pada 7 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait