Seputar Vaksin Nusantara, Vaksin Covid-19 Buatan Dalam Negeri


Vaksin Nusantara adalah vaksin Covid-19 yang dibuat dengan metode sel dendritik dan kerap digunakan dalam terapi imun para pasien kanker.

(0)
23 Feb 2021|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Vaksin Nusantara adalah vaksin Covid-19 buatan dalam negeriVaksin Nusantara dibuat dengan metode sel dendritik
Vaksin Nusantara adalah vaksin Covid-19 buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan. Saat ini, vaksin tersebut sudah selesai menjalani uji klinis tahap I dan sedang memulai uji klinis tahap II di Rumah Sakit Kariadi, Semarang.Pembuatan vaksin ini bisa dibilang berbeda dari jenis vaksin lain, karena diproduksi dengan metode sel dendritik. Berikut ini penjelasan lebih lanjutnya.

Vaksin Nusantara dibuat dengan sel dendritik

Sejauh ini, metode pembuatan vaksin Covid-19 yang kerap digunakan adalah dengan metode mRNA seperti pada vaksin Pfizer dan moderna serta metode virus inaktif seperti pada vaksin Sinovac dan Sinopharm.Sementara itu, pembuatan vaksin Covid-19 dengan metode sel dendritik baru digunakan di vaksin Nusantara. Metode tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena cara ini kerap digunakan dalam terapi imun untuk pasien kanker. Pada metode sel dendritik, orang yang akan menjalani vaksin perlu menjalani proses pengambilan sampel darah. Sampel darah tersebut lalu dibawa ke laboratorium untuk pengambilan sel dendritik. Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang berperan dalam mekanisme kekebalan tubuh (sistem imun).Setelah sel dendritik dari darah individu didapatkan, sel tersebut kemudian akan diberikan antigen dari virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, dan diinkubasi selama 3-7 hari. Dalam masa inkubasi tersebutlah sel dendritik akan membentuk kekebalan terhadap virus corona. Setelah masa inkubasi selesai, maka sel dendritik akan kembali disuntikkan ke dalam tubuh individu. Dengan cara ini, maka tubuh dianggap bisa kebal dari virus corona.

Vaksin Nusantara menuai beberapa kritik dari ahli

Vaksin Nusantara bersifat individual, karena vaksin sel dendritik yang disuntikkan ke tubuh berasal dari bahan yang dikembangkan menggunakan sel darah putih masing-masing individu. Hal ini lah yang kemudian menjadi pemicu kritik dari beberapa ahli.Dilansir dari CNBC, Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyebut bahwa metode vaksin ini dikhawatirkan akan memperlambat proses vaksinasi. Pasalnya, proses pemberian vaksin Nusantara yang sifatnya personal, akan sulit dilakukan secara massal.Senada dengan pernyataan Windhu, Pandu Riono yang merupakan Epidemiolog dari Universitas Indonesia dalam wawancaranya dengan Kompas mengatakan bahwa vaksin Nusantara kurang layak untuk vaksinasi massal.Pandu menyebut bahwa proses vaksinasi dengan sel dendritik membutuhkan pelayanan medis khusus dengan peralatan yang canggih, ruangan yang steril, inkubator CO2, dan memiliki potensi risiko.Hal lain yang menuai kritik dari pembuatan vaksin ini adalah data penelitian yang belum dibuka sepenuhnya ke publik ataupun rekan sejawat ilmuwan, sehingga masih banyak yang meragukan proses dan keamanan yang dimilikinya.Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri hingga saat ini belum mengeluarkan protokol untuk memulai uji klinis fase kedua bagi vaksin Nusantara sebab hasil uji klinis tahap pertama baru saja diterima dan masih diteliti lebih lanjut oleh tim evaluasi.

Perkembangan vaksin buatan dalam negeri lainnya

Vaksin Nusantara bukanlah satu-satunya vaksin Covid-19 buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan. Saat ini vaksin Merah Putih yang mencakup tujuh kandidat vaksin juga sedang dikembangkan oleh berbagai institusi riset. Ketujuh institusi yang dimaksud adalah:
  • Lembaga Biologi Molekuler Eijkman
  • Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
  • Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • Universitas Airlangga (Unair)
  • Institut Teknologi Bandung (ITB)
  • Universitas Padjadjaran (Unpad)
  • Universitas Indonesia (UI)
Perkembangan vaksin Covid-19 buatan dalam negeri masih harus melalui beberapa tahap yang cukup panjang, sehingga masih memerlukan waktu hingga vaksin tersebut bisa digunakan secara massal di masyarakat.Saat ini, pemerintah tengah menjalankan vaksinasi massal menggunakan vaksin buatan Sinovac kepada para tenaga kesehatan, lansia, serta kelompok masyarakat lain yang rentan tertular virus Covid-19.Jika berusia di atas 60 tahun atau memiliki orang tua maupun saudara yang dengan kriteria lansia, Anda sudah bisa mendaftar untuk menerima vaksin Covid-19 di tautan berikut ini.
Informasi lengkap seputar Covid-19
• Gejala Covid-19: Long Covid Menyerang Penyintas Corona, Ini Penjelasannya• Vaksin Covid-19: Sanksi yang Akan Diberikan Jika Menolak Divaksin Corona• Infeksi Covid-19: Bupati Sleman Positif Covid Setelah Vaksin, Ini PenjelasannyaJika Anda ingin tahu lebih banyak tentang vaksin Covid-19 maupun hal lain yang berkaitan dengan penyakit ini, mulai dari gejala, pengobatan, maupun cara mecegah, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
coronavirusvaksin corona
CNBC. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210219174426-37-224738/vaksin-nusantara-terawan-tidak-cocok-untuk-vaksinasi-massal
Diakses pada 23 Februari 2021
Kompas. https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/21/120500923/2-alasan-ahli-minta-pemerintah-dan-bpom-menghentikan-vaksin-nusantara?page=all
Diakses pada 23 Februari 2021
CNBC. https://www.cnbcindonesia.com/news/20210222133840-4-225160/fakta-vaksin-nusantara-terawan-awalnya-bernama-joglosemar/2
Diakses pada 23 Februari 2021
Detik. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5396071/kemenkes-perjalanan-vaksin-nusantara-untuk-digunakan-di-ri-masih-panjang
Diakses pada 23 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait