Seputar Sindrom Geriatri, Penyakit yang Sering Menyerang Lansia

(0)
28 Sep 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Sindrom geriatri antara lain adalah demensia, jantung, hingga depresiSindrom geriatri adalah penyakit-penyakit yang sering menyerang lansia
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada kesehatan tubuh lansia dan penyakit-penyakit yang sering muncul seiring bertambahnya usia. Kumpulan penyakit dan kondisi yang sering terjadi itu, bisa juga disebut sebagai sindrom geriatri.Lansia dengan berbagai sindrom geriatri, mengalami penurunan kualitas hidup. Sehingga kondisi-kondisi ini perlu ditangani secara tepat.

Jenis-jenis sindrom geriatri dan penanganannya

Kemunculan sindrom geriatri harus diwaspadai. Sindrom ini akan membuat lansia kesulitan makan, ganti baju, buang air, hingga mengingat anak dan cucu. Jika dibiarkan, kondisi tersebut tentu akan menurunkan kualitas hidup lansia.Berikut ini beberapa kondisi dan penyakit yang masuk dalam kelompok sindrom geriatri.

1. Inkontinensia urine

Inkontinensia urine merupakan salah satu sindrom geriatri yang paling sering terjadi.Inkontinensia urine menimbulkan kesulitan untuk menahan dan mengatur keinginan untuk buang air kecil, dan akhirnya membuat lansia ngompol. Kondisi ini sering dialami lansia perempuan.Lansia bisa mudah ngompol karena:
  • Melemahnya otot panggul
  • Otot kandung kemih yang terlalu aktif
  • Rusaknya saraf yang mengatur kerja kandung kemih
  • Penyakit sendi, sehingga susah bergerak menuju ke kamar mandi saat ingin buang air kecil
Untuk menanganinya, beberapa jenis terapi seperti senam kegel, mengatur waktu buang air yang teratur (misalnya setiap satu jam sekali), dan perubahan gaya hidup agar lebih sehat, bisa dilakukan.

2. Jatuh

Lansia sulit untuk mengatur keseimbangannya, sehingga cenderung lebih mudah jatuh, baik di kamar mandi, di tangga, maupun di tempat-tempat lainnya. Jatuh adalah penyebab utama terjadinya cedera serius pada lansia.Seperti kebanyakan sindrom geriatri lainnya, ada banyak hal yang bisa memicu terjadinya kondisi ini, seperti:
  • Efek samping obat yang membuat linglung atau mengantuk
  • Gangguan penglihatan
  • Sudah sulit bergerak
  • Pusing
  • Nyeri sendi
  • Malnutrisi
Lansia yang jatuh harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan sesuai dengan cedera yang dialami.Perawatan untuk lansia yang jatuh umumnya meliputi pengobatan memar, menghentikan perdarahan, hingga terapi fisik.

3. Gangguan tidur

Gangguan tidur pada lansia bisa berkontribusi pada terjadinya sindrom geriatri yang lain seperti jatuh dan inkontinensia. Beberapa penyakit serta obat-obatan yang diderita lansia bisa menyebabkan mereka sulit tidur saat malam hariUntuk mengatasinya, lansia dapat menjalani terapi perilaku selama enam minggu atau lebih, untuk membuat siklus tidur kembali normal.Selain itu, lansia juga bisa melakukan beberapa tips di bawah ini:
  • Tidur di jam yang sama setiap harinya
  • Tidak memasang lampu yang terlalu terang di kamar tidur
  • Tidak tidur siang
  • Tidak minum terlalu banyak sebelum tidur
  • Rutin berolahraga
  • Mandi air hangat sebelum tidur

4. Demensia

Demensia adalah istilah medis untuk pikun. Lansia yang mengalami demensia akan kesulitan mengenali hal-hal dasar dalam hidupnya, seperti nama cucu, anak, cara pakai baju, hingga membaca.Demensia juga bisa mengubah kemampuan emosional seseorang. Tidak jarang, lansia dengan kondisi ini akan mengalami perubahan kepribadian, dan jadi sulit mengontrol emosi.Penyakit demensia bisa dibagi menjadi beberapa tingkat keparahan, dari yang ringan hingga berat.Pada tingkatan yang paling parah, penyakit ini akan membuat pengidapnya benar-benar tidak bisa lagi hidup mandiri dan harus dibantu orang lain, meski hanya untuk melakukan kegiatan mendasar seperti minum dan buang air.Sebagian besar demensia tidak bisa disembuhkan. Namun, ada beberapa kasus yang bisa diringankan melalui pemberian obat dan terapi okupasi, untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala.

5. Depresi

Depresi adalah salah satu kondisi yang umum terjadi pada lansia. Meski sering terjadi, tapi penanganan untuk kondisi ini belum dilakukan secara maksimal.Depresi pada lansia juga seringkali disangka sebagai penyakit lain. Sebab, gejala yang muncul tidak terlalu spesifik.
Berbeda dari depresi yang dialami orang berusia muda, depresi pada lansia umumnya terjadi bersamaan dengan gangguan kesehatan lain, dan bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.
Kondisi ini juga cenderung bertahan lebih lama dan dapat meningkatkan risiko terjadinya kematian akibat penyakit lain yang diderita. Karena itu, penanganan depresi untuk orang usia lanjut perlu benar-benar diperhatikan.Berikut ini beberapa metode yang biasa dilakukan untuk mengatasi gejala depresi:
  • Pemberian obat-obatan
  • Psikoterapi atau konseling
  • Terapi elektrokonvulsif (ECT)
  • Terapi stimulasi otak

6. Delirium

Delirium banyak muncul pada lansia yang harus menjalani perawatan di ruang gawat darurat atau di rumah sakit secara umum.Delirium adalah kondisi mental yang membuat penderitanya tiba-tiba kebingungan, panik, berhalusinasi, atau bahkan jadi tidak bisa bergerak sama sekali.Kondisi ini termasuk sebagai kegawatdaruratan medis, sehingga lansia yang mengalaminya harus segera menerima perawatan. Penanganan untuk delirium antara lain dilakukan dengan:
  • Mencari hal yang menjadi pemicu atau trigger dari delirium. Jika disebabkan oleh penggunaan obat tertentu, maka pemberian obat tersebut akan dihentikan. Apabila terjadi akibat infeksi, maka infeksi harus segera disembuhkan.
  • Memeriksa jalur napas dan memastikannya tidak tertutup
  • Menambah asupan cairan dan nutrisi lewat infus
  • Membuat lingkungan yang nyaman untuk penderita. Pilih tempat yang nyaman dan tenang, dengan pendampingan orang-orang yang familiar.
  • Pemberian obat-obatan penenang

7. Osteoporosis

Osteoporsis atau pengeroposan tulang membuat tulang mudah patah meski hanya terbentur sedikit saja. Maka dari itu, perempuan berusia di atas 65 tahun dan pria yang lebih dari 70 tahun, disarankan untuk menjalani pemeriksaan kondisi kepadatan tulang oleh dokter.Untuk mencegah sindrom geriatri yang satu ini, lansia perlu rajin berolahraga dan mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D. Olahraga yang bertumpu pada berat badan seperti jalan kaki, sebaiknya dilakukan secara rutin untuk memperkuat tulang.

Catatan dari SehatQ

Sindrom geriatri tidak selalu bisa dihindari. Sebab seiring bertambahnya usia, kondisi tubuh pun akan banyak berubah. Meski begitu, bukan berarti Anda tidak perlu melakukan usaha apapun.Rutin olahraga dan mengonsumsi makanan sehat akan membuat risiko terjadinya berbagai penyakit jadi berkurang, meski usia sudah memasuki masa senja.
gangguan lansialansiakesehatan lansiadepresi pada lansia
Healthy Aging. https://www.healthinaging.org/a-z-topic/geriatrics
Diakses pada 31 Agustus 2020
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/geriatric-syndrome
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healthy Aging. https://www.healthinaging.org/tools-and-tips/guide-geriatric-syndromes-common-and-often-related-medical-conditions-older-adults
Diakses pada 31 Agustus 2020
National Institute on Aging. https://www.nia.nih.gov/health/what-dementia-symptoms-types-and-diagnosis
Diakses pada 31 Agustus 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dementia/diagnosis-treatment/drc-20352019
Diakses pada 31 Agustus 2020
WebMD. https://www.webmd.com/depression/guide/depression-elderly#1
Diakses pada 31 Agustus 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/delirium/diagnosis-treatment/drc-20371391
Diakses pada 31 Agustus 2020
National Institute on Aging. https://www.nia.nih.gov/health/urinary-incontinence-older-adults
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/sleep/sleep-disorders-in-the-elderly
Diakses pada 31 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait