Semakin tua, kualitas sperma juga akan semakin berkurang, sehingga masa subur pria pun semakin memendek
Masa subur pria adalah waktu dimana kualitas sperma yang dihasilkan masih baik

Istilah jam biologis, rupanya tak hanya berlaku bagi wanita. Pasalnya, usia juga ternyata dapat memengaruhi masa subur pria. Seiring bertambahnya usia, kualitas sperma dapat menurun.

Pengertian masa subur pada pria dan wanita memang berbeda. Jika pada wanita, masa subur dapat dihitung setiap bulannya melalui siklus menstruasi, masa subur pria lebih dilihat sebagai usia produktif untuk menghasilkan sperma yang berkualitas.

Kapan sebenarnya masa subur pria?

Selama ini, pria dianggap tidak memiliki batas masa subur dan dapat membuahi sel telur hingga usia berapapun. Anggapan tersebut tidaklah tepat.

Memang, ada beberapa pria berusia paruh baya masih bisa membuat pasangannya hamil. Namun sebenarnya, hal tersebut bisa tergantung dari banyak hal.

Secara umum, masa subur pria sangat dipengaruhi oleh usia. Kemampuan sperma untuk dapat membuahi sel telur akan turun cukup drastis saat pria memasuki usia 40 tahun.

Kualitas sperma yang paling bagus, umumnya terdapat pada pria yang berusia 30-35 tahun. Sementara itu, setelah usia 55 tahun, kualitas sperma berada pada kondisi yang paling buruk.

Dampak usia pada masa subur pria

Keberhasilan proses pembuahan tidak hanya memerlukan sel telur yang sehat, tapi juga sperma yang berkualitas. Kualitas sperma dapat dilihat dari jumlah yang dapat dihasilkan, bentuk, serta pergerakannya.

Semakin tua usia seorang pria, maka pergerakan spermanya akan lemah, sehingga sulit mencapai sel telur. Pergerakan sperma paling baik, umumnya terjadi sebelum pria memasuki usia 25 tahun dan paling buruk setelah memasuki usia 55 tahun.

Jika dibandingkan dengan sperma yang dihasilkan oleh pria berusia 30-35 tahun, kecepatan pergerakan sperma yang dihasilkan oleh pria yang berusia 55 tahun akan berkurang sebanyak 54%.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang membuat usia sangat memengaruhi kesuburan pria, seperti:

• Bentuk sperma

Semakin tua usia pria, maka bentuk atau morfologi sperma akan turut berubah, sehingga membuatnya tidak lagi ideal untuk membuahi sel telur.

• Penurunan produksi hormon

Tidak hanya berkaitan dengan sperma, masa subur pria juga berkaitan dengan produksi hormon testosteron. Setelah memasuki usia 40 tahun, produksi hormon testosteron akan semakin menurun.

Hal ini akan berpengaruh pada penurunan libido, dan membuat pria menjadi lebih sulit melakukan hubungan seksual secara rutin.

• Risiko penyakit

Penyakit yang dapat memengaruhi kesuburan pria, seperti diabetes umumnya terjadi pada pria yang berusia lebih tua. Selain itu, beberapa jenis obat yang mungkin dikonsumsi untuk mengatasi penyakit tertentu juga dapat memengaruhi kesuburan.

• Pasangan yang berusia lebih tua

Secara biologis, kesuburan wanita akan mulai berkurang setelah usia 30 tahun dan benar-benar menurun setelah usia 35 tahun. Semakin tua usia pasangan Anda, maka kemungkinan pembuahan berhasil dilakukan pun akan semakin kecil.

Risiko kehamilan wanita dan hubungannya dengan usia pria

Sejak awal, usia pria dan proses kehamilan sangat erat kaitannya. Pada pria yang masih berusia muda, umumnya kehamilan dapat tercapai kurang dari satu tahun.

Namun, pada pria yang sudah memasuki usia paruh baya, kehamilan yang baru tercapai setelah satu tahun mencoba, akan meningkat. Hal ini berlaku, berapapun usia pasangan wanitanya.

Sebagai contoh, pada pria yang berusia di bawah 25 tahun, kemungkinan kehamilan pasangan wanita setelah satu tahun adalah sebesar 8%. Namun, pada pria yang berusia lebih dari 40 tahun, kemungkinan tersebut naik hingga 19%.

Rata-rata, jika pasangan laki-laki dan perempuan sama-sama berusia di bawah 25 tahun, maka kehamilan dapat tercapai dalam lima bulan setelah mencobanya. Namun, jika pasangan perempuan berusia di bawah 25 tahun dan pasangan laki-laki berumur lebih dari 40 tahun, kehamilan umumnya baru akan tercapai setelah dua tahun.

Setelah pembuahan berhasil terjadi pun, ada serangkaian kondisi yang dapat muncul saat kehamilan, seperti:

1. Peningkatan risiko keguguran

Usia ayah ternyata juga dapat memengaruhi kemungkinan bayi bertahan di dalam kandungan. Risiko keguguran meningkat hingga dua kali lipat pada ayah yang berusia lebih dari 45 tahun jika dibandingkan dengan ayah yang berusia 25 tahun.

2. Peningkatan risiko autisme

Bayi yang ayahnya berusia di atas 40 tahun, memiliki kemungkinan lima kali lebih besar memiliki spektrum autisme, jika dibandingkan dengan bayi dengan ayah berusia di bawah 30 tahun.

3. Peningkatan risiko Down’s syndrome

Memiliki anak yang mengalami Down’s syndrome, di usia berapapun, sebenarnya adalah kemungkinan yang kecil terjadi.

Namun, di antara kemungkinan kecil tersebut, bayi dengan ayah berusia di atas 40 tahun, berisiko lima kali lebih besar mengalami gangguan ini, daripada bayi yang memiliki ayah berumur di bawah 30 tahun.

Risiko ini muncul, jika pasangan Anda juga berusia di atas 35 tahun.

Tips menjaga kesuburan pria

Masa subur pria memang bisa dipengaruhi oleh usia. Namun, penurunan kesuburan pada pria sebenarnya bisa diperbaiki. Berikut ini tips untuk menjaga kesuburan pria yang efektif.

1. Jalani gaya hidup sehat

Selain usia, obesitas juga dapat berpengaruh pada kesuburan pria. Sehingga, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta berolahraga secara teratur, dapat membantu menjaga pria tetap subur.

Menurunkan berat badan hingga mencapai berat ideal, juga dapat meningkatkan jumlah produksi sperma.

2. Hindari kebiasaan buruk

Kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok sangat berpengaruh pada kesuburan pria. Pasalnya, keduanya dapat menurunkan produksi sperma. Segera ubah kebiasaan ini jika Anda ingin kesuburan tetap terjaga.

3. Jaga suhu testis

Testis, yang merupakan tempat produksi sperma, dapat berfungsi maksimal apabila suhunya sedikit lebih rendah dari suhu tubuh.

Sehingga, para pria tidak disarankan untuk melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan suhu testis, seperti memangku laptop terlalu lama, atau duduk di ruangan dengan suhu terlalu tinggi, dalam waktu lama, berendam di kolam air panas, serta mandi air panas.

4. Hindari stres

Stres berlebih dapat mengurangi kualitas sperma yang diproduksi. Sehingga, jika sedang mencoba untuk memiliki momongan, lakukanlah cara-cara untuk mengatasi stres, agar Anda lebih tenang dan rileks.

5. Periksa kesuburan ke dokter

Sebanyak 40% kasus kesulitan menndapatkan anak, disebabkan oleh gangguan pada pria. Selebihnya, 40% terjadi akibat gangguan pada wanita, dan 20% karena gangguan pada keduanya.

Sehingga, pria juga perlu memeriksakan kondisi kesuburannya ke dokter untuk menjaga sekaligus mendapatkan deteksi dini, apabila terjadi gangguan atau masalah reproduksi.

Para pria sebaiknya mulai sadar seputar masa suburnya. Jangan lagi menganggap bahwa masa subur pria akan terus bertahan apapun yang terjadi. Jalani cara-cara di atas untuk menjaga kesuburan serta kesehatan dalam jangka panjang.

Baby Centre. https://www.babycentre.co.uk/a564598/dads-to-be-how-your-age-can-affect-your-fertility-and-your-babys-health
Diakses pada 17 September 2019

Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/mans-fertility-declines-with-age-2328787
Diakses pada 17 September 2019

Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/does-age-affect-male-fertility-1959934
Diakses pada 17 September 2019

Baby Center. https://www.babycenter.com/0_the-male-biological-click-its-tick-tick-ticking-too_1490614.bc
Diakses pada 17 September 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed