Seputar Asma pada Anak, Orangtua Perlu Tahu

(0)
25 Jun 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Asma pada anak bisa dipicu oleh asap rokok, polusi, hingga debuAsma pada anak bisa dikontrol dengan pengobatan yang tepat
Penyakit asma pada anak sebenarnya tidak berbeda dengan asma yang terjadi pada orang dewasa. Hanya saja, terkadang, ada perbedaan gejala yang dialami. Selain itu, anak yang mengidap kondisi ini akan lebih rentan mengalami radang paru-paru dan saluran pernapasan saat mereka pilek atau terpapar zat-zat penyebab alergi, seperti debu.Pada beberapa anak, kondisi ini juga membuat mereka kesulitan untuk menjalani keseharian seperti teman sebayanya. Sebab, mereka tidak tidak cukup kuat atau bebas untuk bermain dan berolahraga. Asma yang diderita anak juga biasanya membuatnya jadi lebih sering harus bolak-balik ke dokter, sehingga mengganggu jam sekolahnya.Asma pada anak tidak bisa disembuhkan dan gejalanya bisa terus dirasakan hingga dewasa. Namun dengan perawatan yang tepat, frekuensi kekambuhan bisa ditekan dan risiko kerusakan pada paru-paru anak bisa berkurang.

Penyebab asma pada anak

Penyebab asma pada anak maupun secara keseluruhan sebenarnya belum diketahui pasti. Namun para ahli percaya, ada faktor lingkungan seperti polusi udara maupun asap rokok dan genetik yang berperan di dalamnya. Jadi, anak yang mengidap penyakit ini biasanya memiliki orangtua atau saudara dekat dengan kondisi serupa.Lantas, sebenarnya apa yang terjadi saat anak mengalami asma?Pada kondisi normal, saat kita bernapas, udara akan masuk lewat hidung atau udara lalu turun ke tenggorokan dan berakhir pada paru-paru. Lalu saat kita membuang napas, proses yang sama akan terjadi dengan urutan dari paru-paru dan berakhir di hidung atau mulut.Pada anak yang mengalami asma, proses bernapas tidak bisa berjalan semudah ini. Sebab saat penyakit ini kambuh, jalur udara yang biasa dilewati membengkak dan dipenuhi oleh lendir atau dahak.Selain itu, otot-otot yang terdapat di jalur napas juga mengencang, sehingga jalur napas menjadi lebih sempit, membuat udara lebih susah lewat. Akibatnya, anak yang mengalami asma akan kesulitan bernapas.Kondisi asma pada anak sendiri bisa kambuh akibat dipicu oleh beberapa hal, seperti:
  • Infeksi saluran pernapasan. Contoh infeksi yang bisa memicu asma antara lain pilek, pneumonia, dan infeksi sinus.
  • Paparan alergen. Beberapa anak yang mengidap asma juga punya alergi terhadap bulu binatang atau debu. Sehingga ketika terpapar hal yang membuatnya alergi, asma bisa kambuh.
  • Paparan iritan. Iritan seperti asap kendaraan, asap rokok, hingga udara dingin juga bisa memicu kambuhnya asma.
  • Olahraga terlalu berat. Bagi anak yang mengidap penyakit ini, olahraga bisa memicu sesak napas dan batuk.
  • Stres. Stres juga bisa membuat anak yang memiliki asma jadi sulit bernapas.

Gejala asma pada anak

Gejala asma pada anak yang sering muncul antara lain:
  • Sering batuk dan bertambah parah saat sedang mengalami infeksi virus, atau udara dingin
  • Batuk di malam hari saat tidur
  • Ada suara nyaring yang terdengar saat bernapas
  • Napas pendek-pendek
  • Dada sesak
  • Susah tidur karena sulit bernapas
  • Saat mengalami infeksi saluran pernapasan, butuh waktu lama untuk sembuh
  • Lemas
Tidak semua anak yang mengidap asma akan mengalami gejala yang sama. Sehingga untuk memastikannya, perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

Perawatan asma pada anak

Karena asma pada anak bukanlah kondisi yang bisa disembuhkan, maka saat kambuh dokter akan melakukan langkah-langkah untuk meredakan gejalanya. Secara umum, perawatan asma dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu perawatan jangka pendek dan perawatan jangka panjang.

1. Perawatan jangka pendek

Perawatan jangka pendek adalah perawatan yang dilakukan segera setelah asma kambuh, untuk meredakan gejala. Dokter dapat memberikan obat yang akan membuka jalur napas secara cepat, agar anak bisa bernapas lebih lega. Karena bersifat jangka pendek, efek obat ini bisa langsung terasa saat diberikan, tapi juga cepat hilang.Sementara itu pada anak yang berusia di bawah 3 tahun, jika gejala asma yang dialami tidak terlalu parah, maka dokter akan menunggu beberapa saat sebelum memberikan obat. Sebab, efek samping obat asma pada anak usia tersebut belum begitu jelas.Jika gejala bisa mereda tanpa obat, maka dokter akan menghindari pemberian obat. Namun, jika gejala asma yang terjadi cukup parah, maka dokter akan meresepkan obat yang dinilai paling aman agar anak bisa kembali bernapas dengan lega.

2. Perawatan jangka panjang

Sementara itu, obat asma yang digunakan jangka panjang, bisa membantu mengurangi frekuensi kekambuhan. Untuk mengontrol asma pada anak, dokter dapat meresepkan inhaler asma berisi obat kortikosteroid yang bisa dihirup.Kortikosteroid adalah obat yang mampu meredakan inflamasi atau peradangan pada saluran pernapasan, sehingga bisa membuka jalur napas dengan baik.Selain itu, dokter juga akan meresepkan obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat asma ada yang perlu dikonsumsi setiap hari, namun sebagian lagi tidak.Pastikan Anda mengikuti instruksi dokter dengan baik ketika menggunakan obat asma jangka panjang. Usahakan jangan sampai terlewat untuk memberikannya pada anak di waktu-waktu yang sudah ditentukan.Namun, jangan juga sampai penggunaannya terlalu sering maupun melebihi dosis yang dianjurkan. Penggunaan obat yang tidak tepat bisa meningkatkan risiko munculnya efek samping obat.

Cara mencegah kekambuhan asma pada anak

Kambuhnya asma pada anak memang tidak selalu bisa dicegah. Namun, tetap ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinannya, seperti:
  • Memastikan lingkungan sekitar anak, termasuk rumah, mobil, dan sekolah, bebas dari asap rokok
  • Rutin membersihkan rumah agar tidak ada debu yang menumpuk
  • Memasang air purifier atau air fillter di kamar anak
  • Menjauhkan anak dari binatang peliharaan yang membuatnya alergi
  • Tidak menggunakan pewangi ruangan atau lilin wangi karena bahan di dalamnya berisiko memicu gangguan pernapasan
  • Memastikan anak membawa inhalernya, dan mengajarkan cara penggunaan inhaler 20 menit sebelum bermain atau berolahraga di sekolah agar saluran pernapasan tetap terbuka
  • Membantu anak menjaga berat badan, karena berat badan berlebih akan meningkatkan risiko mengalami gangguan pernapasan.
Setelah mengetahui lebih jauh mengenai penyakit asma pada anak, orangtua diharapkan bisa lebih waspada jika sewaktu-waktu gejala kekambuhan mulai tampak. Meski sudah dibekali inhaler dan obat oleh dokter, jangan ragu untuk membawanya ke rumah sakit apabila Si Kecil terlihat kesulitan untuk bernapas.
penyakit anakasmapenyakit pernapasansesak napas
WebMD. https://www.webmd.com/asthma/children-asthma
Diakses pada 11 Juni 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-asthma/symptoms-causes/syc-20351507
Diakses pada 11 Juni 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/asthma-basics.html
Diakses pada 11 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait