Seputar Anemia Hemolitik, Mulai dari Penyebab hingga Pengobatannya

(0)
16 Sep 2020|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Salah satu pilihan pengobatan anemia hemolitik, yaitu transfusi sel darah merahAnemia hemolitik dapat terjadi akibat menerima transfusi darah dari golongan darah yang tak cocok
Tubuh biasanya menghancurkan sel darah merah yang sudah tua atau rusak melalui proses yang disebut hemolisis. Akan tetapi, terlalu banyak proses hemolisis dapat menyebabkan jumlah sel darah merah menjadi rendah sehingga memicu terjadinya anemia hemolitik. Anemia hemolitik adalah penyakit kurang darah yang terjadi akibat sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada pembentukannya. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam jiwa.

Penyebab anemia hemolitik

Anemia hemolitik dapat diturunkan dari orangtua atau berkembang setelah lahir. Tingkat keparahan kondisi ini juga berkisar dari ringan hingga berat. Berikut penyebab anemia hemolitik yang harus diwaspadai:

1. Anemia hemolitik yang diturunkan

Beberapa penyebab anemia hemolitik yang dipicu oleh faktor keturunan, yaitu:
  • Anemia sel sabit
  • Sferositosis
  • Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (GP6P8)
  • Ovalositosis
  • Kekurangan enzim piruvat kinase
  • Thalasemia.

2. Anemia hemolitik yang tidak diturunkan

Sejumlah penyebab anemia hemolitik yang tidak dipicu oleh faktor keturunan, di antaranya:
  • Hepatitis
  • Infeksi virus Epstein-Barr
  • Demam tifoid
  • Infeksi bakteri E. coli
  • Leukemia
  • Limfoma
  • Tumor
  • Anemia hemolitik autoimun
  • Lupus eritematosus sistemik
  • Sindrom HELLP
  • Keracunan arsenik
  • Gigitan ular berbisa
  • Reaksi tubuh akibat transplantasi organ
  • Menerima transfusi darah dari orang dengan golongan darah yang tidak cocok.
Di sisi lain, beberapa jenis obat-obatan juga dapat menyebabkan anemia hemolitik. Obat-obatan ini meliputi acetaminophen, antibiotik tertentu, metisilin, klorpromazin, ibuprofen, interferon alpha, procainamide, quinidine, dan rifampisin.

Gejala anemia hemolitik

Anemia hemolitik dapat terjadi pada siapa saja dan pada usia berapa pun. Setiap penderita penyakit ini juga bisa mengalami gejala-gejala yang berbeda. Meski demikian, ada sejumlah gejala anemia hemolitik yang sering kali terjadi, di antaranya:Jika Anda merasakan berbagai gejala di atas atau khawatir terkena anemia hemolitik, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Anemia hemolitik berat yang tak diobati bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti aritmia (irama jantung tidak teratur), kardiomiopati (pembesaran otot jantung), dan gagal jantung.

Pengobatan anemia hemolitik

Pengobatan anemia hemolitik dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya, tingkat keparahan kondisi, usia, kesehatan secara menyeluruh, dan respons terhadap obat-obatan tertentu. Adapun pilihan pengobatan untuk anemia hemolitik, yaitu:

1. Transfusi sel darah merah

Transfusi sel darah merah dilakukan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dengan cepat dan mengganti sel darah merah rusak dengan yang baru sehingga penderitanya tidak kekurangan darah lagi.

2. Suntik imunoglobulin

Suntuk imunoglobulin bertujuan untuk menumpulkan sistem kekebalan tubuh jika prosesnya yang menjadi penyebab anemia hemolitik.

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid dapat mengurangi aktivitas sistem kekebalan untuk membantu mencegah sel darah merah dihancurkan. Selain kortikosteroid, dokter juga dapat meresepkan obat penekan sistem imun (imunosupresan) lainnya.

4. Operasi

Dalam kasus yang parah, limpa mungkin perlu diangkat melalui pembedahan. Limpa merupakan tempat sel darah merah dihancurkan. Oleh sebab itu, mengangkat limpa dapat mengurangi seberapa cepat sel darah merah dihancurkan. Prosedur ini biasanya digunakan sebagai pilihan dalam kasus hemolisis imun yang tidak merespons pengobatan kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.Perubahan gaya hidup juga harus dilakukan dengan lebih banyak mengonsumsi asam folat dan zat besi. Selain itu, jika anemia hemolitik disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu, maka konsultasikan dengan dokter untuk mengubah atau menghentikan pemakaiannya.Pada sebagian penderitanya, anemia hemolitik bisa sembuh seiring waktu. Namun, sebagian yang lain membutuhkan perawatan selama sisa hidupnya. Penting untuk mendeteksi dan mengobati anemia hemolitik sedini mungkin supaya kondisi ini dapat ditangani dengan baik.
anemiaanemia hemolitikanemia sel sabitsel darah merah
NHLBI. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/hemolytic-anemia
Diakses pada 02 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/hemolytic-anemia#outlook
Diakses pada 02 September 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/anemia-hemolytic.html
Diakses pada 02 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait