Seputar Anal Swab, Apakah Efektif Dilakukan untuk Pemeriksaan Covid-19?


Anal swab atau rectal swab test adalah prosedur memasukkan alat swab sepanjang 2,5-5 cm ke dalam rektum atau anus pasien. Metode swab anal dilakukan di Tiongkok untuk meningkatkan efektivitas skrining Covid-19 jelang libur Tahun Baru Imlek. Lantas, apakah hasilnya efektif?

(0)
Anal swab adalah prosedur memasukkan alat swab sepanjang ke dalam rektum atau anus pasienMetode anal swab dilakukan di Tiongkok untuk meningkatkan efektivitas skrining Covid-19
Anal swab atau swab anal untuk pemeriksaan Covid-19 kini tengah ramai menjadi pemberitaan publik. Mengutip dari laman Aljazeera, metode swab ini dilakukan di Tiongkok untuk meningkatkan efektivitas skrining Covid-19 jelang libur Tahun Baru Imlek.Metode baru anal swab sebagai pemeriksaan Covid-19 tentu menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat, termasuk mengenai efektivitasnya.Untuk mengetahui lebih lanjut seputar anal swab dan keefektifannya dalam mendeteksi virus SARS-Cov-2, simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Apa itu anal swab untuk deteksi Covid-19?

Anal swab atau rectal swab test adalah prosedur memasukkan alat swab sepanjang 2,5-5 cm ke dalam rektum atau anus pasien.Fungsi anal swab adalah mendapatkan sampel uji guna mendeteksi virus yang terdapat dalam sistem gastrointestinal melalui anus.Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2020 menyatakan bahwa virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 dikeluarkan oleh sistem gastrointestinal melalui feses.Rectal swab test adalah pemeriksaan yang sifatnya non-invasif (tanpa pembedahan), tetapi dapat meninggalkan rasa tidak nyaman bagi pasien yang melakukannya.Di Tiongkok, pemeriksaan swab anal hanya dilakukan pada kelompok tertentu.Kelompok ini adalah golongan pasien dengan risiko tinggi dan orang-orang yang tengah menjalani karantina.Sejumlah orang yang telah menjalani rectal swab test adalah para penumpang pesawat dari Changchun ke Beijing serta 1.000 rombongan anak sekolah dan guru yang diduga terpapar Covid-19.

Apa keunggulan swab anal dalam pemeriksaan Covid-19?

Li Tongzeng, Wakil Direktur Departemen Infeksi dan Penyakit Pernapasan dari rumah sakit Youan Beijing, mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan media, bahwa anal swal diklaim lebih akurat dalam mendeteksi Covid-19 dibandingkan tes swab melalui hidung atau tenggorokan.Menurut Li Tongzeng, jejak Covid-19 cenderung bertahan lebih lama di anus atau feses daripada sampel yang diambil dari nasofaring.Hal tersebut sejalan dengan hasil studi terbaru yang menyebutkan bahwa hasil PCR pada feses bertahan positif lebih lama dibandingkan swab nasofaring, yakni 4-11 hari positif lebih lama setelah swab nasofaring negatif.Kesimpulan serupa juga disebutkan dalam penelitian yang dimuat dalam Journal of Infection.Penelitian tersebut melibatkan tujuh orang pasien Covid-19 tanpa gejala.Enam dari tujuh orang pasien yang terlibat mendapatkan hasil positif dalam anal swab, sedangkan swab tenggorokan menunjukkan hasil negatif.Sementara itu, satu pasien lagi mendapatkan hasil positif dalam tes swab tenggorokan.Setelah pasien keluar dari rumah sakit, swab tenggorokan menunjukkan hasil negatif dalam 7-11 hari, dan anal swab negatif dalam 5-23 hari.Selain itu, ia meyakini bahwa pengujian sampel melalui anus kemungkinannya lebih sedikit menunjukkan hasil false negative.Pada penelitian lain yang dimuat dalam Future Medicine, para ilmuwan Tiongkok melakukan penelitian terhadap sebagian kecil pasien Covid-19.Dalam beberapa kasus, orang-orang dinyatakan negatif Covid-19 ketika menjalani tes swab tenggorokan, tetapi menunjukkan hasil positif pada swab anal.“Kami merekomendasikan swab anal sebagai spesimen yang berpotensi optimal untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 untuk evaluasi pasien yang baru keluar dari rumah sakit,” ujar para ilmuwan tersebut.Kendati demikian, nyatanya tidak banyak peneliti yang mendukung prosedur anal swab sebagai metode pemeriksaan Covid-19 yang utama.

Apakah anal swab efektif dibandingkan tes swab nasofaring?

Maraknya anal swab yang digunakan sebagai metode pemeriksaan Covid-19 di Tiongkok, memunculkan pertanyaan di benak masyarakat mengenai efektivitasnya.Yang Zhanqiu, seorang ahli patologi di Universitas Wuhan, mengatakan bahwa swab melalui hidung dan tenggorokan masih menjadi tes yang paling efektif lantaran virus SARS-Cov-2 dapat menular melalui sistem pernapasan, bukan sistem pencernaan.“Ada sejumlah kasus yang menunjukkan hasil anal swab positif, tetapi belum ada bukti yang menunjukan bahwa virus dapat ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang,” ujar Yang Zhanqiu.Itu artinya, masih dibutuhkan studi lebih lanjut mengenai metode anal swab sebagai pemeriksaan Covid-19.Selain itu, penelitian yang dilakukan belum melibatkan banyak subjek. Jadi, masih belum didapat kesimpulannya.Dengan demikian, anal swab sebaiknya hanya dilakukan sebagai pelengkap pemeriksaan Covid-19, bukan pengganti swab nasofaring atau osofaring.Di Tiongkok sendiri, prosedur ini hanya dilakukan pada kasus-kasus tertentu, serta belum dijadikan sebagai tes pemeriksaan Covid-19 yang utama.Para pasien Covid-19 di Tiongkok yang menjalani swab anal pun tetap diharuskan menjalani swab hidung dan tenggorokan.Jika Anda masih punya pertanyaan seputar anal swab sebagai pemeriksaan Covid-19, tanyakan pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Caranya, unduh sekarang App Store dan Google Play.
infeksi saluran pernapasanpenyakit pernapasangangguan pernapasansaluran pernapasancoronavirus
Web MD. https://www.webmd.com/lung/news/20210128/china-using-anal-swabs-for-covid-testing
Diakses pada 2 Februari 2021
Journal of Infection. https://www.journalofinfection.com/article/S0163-4453(20)30233-4/fulltext#seccesectitle0012
Diakses pada 2 Februari 2021
National Library of Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32401374/
Diakses pada 2 Februari 2021
Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2021/1/28/chinese-cities-using-anal-swabs-to-screen-covid-infections
Diakses pada 2 Februari 2021
The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2021/jan/27/china-starts-using-anal-swabs-test-covid-high-infection-areas
Diakses pada 2 Februari 2021
JAMA Network. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2765837
Diakses pada 2 Februari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7350782/
Diakses pada 2 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait