Mengenal Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC 8 dan Faktor Risikonya

(0)
06 Sep 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Menurut klasifikasi hipertensi menurut JNC 8, tekanan darah normal adalah yang di bawah 120/80.Klasifikasi hipertensi menurut JNC 8 dapat membantu mendeteksi hipertensi pada pasien dewasa.
Dalam memvonis seseorang mengidap penyakit tekanan darah tinggi alias hipertensi, dokter pasti merujuk pada standar tertentu yang diakui oleh dunia medis. Salah satu panduan yang banyak digunakan di Indonesia adalah klasifikasi hipertensi menurut JNC 8.Joint National Committee (JNC) 8 adalah panduan yang dirilis pada 2014 dan disusun oleh para ahli medis berdasarkan kasus di lapangan (evidence based) sepanjang tahun 1996-2013.Guideline inilah yang paling banyak digunakan oleh dokter-dokter spesialis penyakit dalam di Tanah Air untuk menggolongkan penyakit hipertensi, mengidentifikasi faktor risiko, beserta cara penanganannya.

Klasifikasi hipertensi menurut JNC 8

Ada 3 kategori hipertensi berdasarkan JNC 8.
Klasifikasi hipertensi menurut JNC 8 merupakan penyempurnaan dari JNC 7 yang dianggap kurang updated karena dirilis pada 2003 silam.Selain itu, panduan JNC 8 juga dimaksudkan sebagai jembatan antara panduan terdahulu dengan guideline baru yang dikembangkan oleh Asosiasi Jantung Amerika (AHA) dan Perguruan Tinggi Kardiologi Amerika (ACA).Panduan klasifikasi hipertensi menurut JNC 8 bertujuan mengidentifikasi penyakit hipertensi pada orang dewasa atau yang berusia di atas 18 tahun. Pertama-tama, JNC 8 mengeluarkan standar normal tekanan darah berdasarkan sistolik maupun diastolik.Tekanan darah dikatakan normal jika nilai sistolik kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg, atau disederhanakan menjadi di bawah 120/80.Jika memiliki tekanan darah lebih dari, maka Anda akan digolongkan pada salah satu dari 3 kategori hipertensi di bawah ini:
  • Prahipertensi: sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg
  • Hipertensi tahap 1: sistolik 140-159 mmHg atau diastolik 90-99 mmHg
  • Hipertensi tahap 2: sistolik lebih dari maupun sama dengan 160 mmHg, atau diastolik lebih dari ataupun sama dengan 100 mmHg
Untuk menetapkan nilai ini, tekanan darah Anda harus diukur lebih dari satu kali dan menunjukkan nilai yang konsisten.Dalam mengukur tekanan darah, Anda pun diharapkan berada dalam kondisi rileks, tidak merokok atau minum kafein 30 menit sebelum pengukuran, dan tidak berbicara selama tensi diukur.Jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan prahipertensi, hipertensi tahap 1, apalagi hipertensi tahap 3, mulailah ikuti saran dokter. Anda biasanya disarankan untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat atau dengan mengonsumsi obat hipertensi tertentu.Hingga kini, tekanan darah memang menjadi patokan untuk mengetahui hipertensi karena kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala, baik itu rasa grogi maupun sulit tidur seperti pendapat banyak orang.Inilah sebabnya, penyakit tekanan darah tinggi dikatakan sebagai pembunuh dalam senyap karena memang bisa memicu penyakit jantung tanpa menimbulkan gejala.

Faktor risiko hipertensi berdasarkan JNC 8

Berhenti merokok bisa kurangi risiko hipertensi.
Selain mengetahui klasifikasi hipertensi menurut JNC 8, mengenal faktor risiko yang dapat membuat Anda terkena hipertensi juga tak kalah pentingnya. Menurut JNC 8, faktor risiko ini dapat digolongkan menjadi 2 kategori, yaitu yang tidak bisa dikontrol dan yang dapat dikontrol.

1. Tidak bisa dikontrol

Beberapa orang memang lebih rawan mengidap penyakit darah tinggi karena faktor yang tidak bisa diubah, seperti faktor usia dan genetik (keturunan). Meski demikian, pemilik faktor risiko ini dapat menjalankan pola hidup sehat untuk beraktivitas secara normal.

2. Bisa dikontrol

Meski tidak ada anggota keluarga yang pernah divonis hipertensi dan Anda masih dalam usia produktif, darah tinggi juga bisa menyerang jika pola hidup tidak sehat.Aktivitas yang dapat menimbulkan hipertensi misalnya kurang bergerak, terlalu banyak mengonsumsi sodium (garam), kegemukan atau obesitas, merokok dan minum alkohol, stres, diabetes, dan gangguan tidur sleep apnea.Menurut Kementerian Kesehatan RI, kasus hipertensi di Tanah Air paling banyak disebabkan oleh pola makan yang kurang buah maupun sayur, merokok, konsumsi makanan berlemak secara berlebihan, dan kurang aktivitas fisik.Namun, faktor risiko ini bisa dikendalikan dengan melakukan langkah CERDIK, yaitu:
  • Cek kesehatan berkala
  • Enyahkan asap rokok
  • Rajin beraktivitas fisik dan berolahraga minimal 30 menit per hari
  • Diet yang sehat dan seimbang
  • Istirahat cukup
  • Kelola stres

Catatan dari SehatQ

Penting juga bagi Anda untuk mengontrol berat badan agar tidak sampai kegemukan atau bahkan obesitas. Pasalnya, untuk setiap penurunan berat badan sebesar 5 kg, tekanan sistolik bisa berkurang hingga 2-10 poin.Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai pola hidup sehat.
penyakit jantunghipertensitekanan darah tinggiserangan jantungstroke
Semantics Scholar. https://pdfs.semanticscholar.org/fb40/b1211332d173fe2159211b591e7ff28a05e5.pdf?_ga=2.136274931.312858115.1598104818-272955403.1594813921
Diakses pada 22 Agustus 2020
ACCP. https://www.accp.com/docs/bookstore/psap/p2019b1_sample.pdf
Diakses pada 22 Agustus 2020
CDN. https://cdn.ymaws.com/www.aparx.org/resource/resmgr/CEs/CE_Hypertension_The_Silent_K.pdf
Diakses pada 22 Agustus 2020
Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/heart-health/tips-to-measure-your-blood-pressure-correctly
Diakses pada 22 Agustus 2020
AHA. https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/why-high-blood-pressure-is-a-silent-killer/what-are-the-symptoms-of-high-blood-pressure
Diakses pada 22 Agustus 2020
Kementerian Kesehatan RI. http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/ketahui-tekanan-darahmu-cegah-hipertensi-the-silent-killer
Diakses pada 22 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait