Benarkah Kotoran Telinga Jadi Penyebab Tuli Konduktif pada Lansia?

10 Jun 2019 | Oleh
Ditinjau oleh dr. Reni Utari
Salah satu penyebab tuli konduktif adalah penumpukan kotoran telinga
Penumpukan kotoran telinga dapat mengakibatkan tuli konduktif

Telinga adalah organ tubuh yang berfungsi sebagai indra pendengaran dan alat keseimbangan. Seperti organ tubuh lainnya, telinga dapat mengalami gangguan, termasuk tuli konduktif, yang mengakibatkan penurunan fungsi pendengaran (hearing loss) atau ketulian (deafness).

Hearing loss muncul berupa penurunan kemampuan untuk mendengarkan bunyi, seperti orang normal lainnya. Sementara itu, orang yang mengalami ketulian, tidak dapat memahami percakapan suara, meski bunyi suara telah diamplifikasi.

3 Jenis gangguan pendengaran

Pada derajat yang lebih parah, ada suatu kondisi yang membuat seseorang tidak dapat mendeteksi bunyi sama sekali. Kondisi ini disebut sebagai profound deafness.

Ada dua jenis gangguan pendengaran, yaitu gangguan pendengaran konduktif, dan gangguan pendengaran sensorineural, dan gangguan pendengaran campuran. Keduanya bisa terhadi bersamaan, yang disebut sebagai gangguan pendengaran campuran.

Gangguan pendengaran berupa tuli konduktif

Gangguan pendengaran konduktif terjadi pada saat gelombang suara tidak dapat masuk ke telinga dalam (terutama koklea atau rumah siput) dari telinga luar. Gangguan pendengaran konduktif dapat terjadi pada kondisi berikut ini.

  • Penumpukan kotoran telinga
  • Glue ear (adanya cairan di telinga tengah)
  • Infeksi telinga yang menyebabkan peradangan dan menumpuknya cairan
  • Gendang telinga yang tidak berfungsi atau pecah. Gangguan pada gendang telinga dapat disebabkan oleh infeksi yang meninggalkan bekas atau jaringan parut.
  • Gangguan tiga tulang kecil di telinga tengah. Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi, trauma, atau proses pelekatan antar tulang, yang disebut sebagai ankilosis.

Gangguan pendengaran sensorineural

Gangguan pendengaran sensorineural merupakan gangguan pendengaran yang bersumber dari telinga dalam, koklea, saraf pendengaran, atau kerusakan otak. Hal-hal tersebut dapat bersumber dari kelainan kongenital, infeksi telinga dalam, maupun trauma kepala.

Pada umumnya, ganguan pendengaran sensorineural disebabkan oleh kerusakan sel rambut yang berada pada koklea. Kerusakan ini dapat disebabkan oleh paparan bising (terutama pada frekuensi tinggi) dan penuaan.

Sel-sel yang rusak tersebut tidak dapat melakukan regenerasi. Namun, para peneliti sedang mengusahakan penggunaan sel punca, untuk mengganti sel rambut yang rusak.

Ternyata cacar bisa sebabkan gangguan pendengaran

Selain beberapa penyebab yang telah disebutkan di atas, sejumlah kondisi berikut ini, berkontribusi terhadap terjadinya gangguan pendengaran.

  • Infeksi virus cacar, varicella, atau chicken pox
  • Infeksi virus sitomegalovirus
  • Infeksi virus mumps
  • Meningitis atau radang selaput otak
  • Sifilis
  • Penyakit Lyme
  • Anemia sel sabit
  • Diabetes
  • Obat-obatan untuk tuberkulosis, seperti streptomycin
  • Hipotiroid
  • Artritis
  • Beberapa tipe kanker
  • Menjadi perokok pasif
  • Gangguan genetik yang menyebabkan cacat telinga bawaan atau gangguan pendengaran
  • Infeksi semasa kehamilan
  • Penyakit Meniere
  • Paparan bahan kimia
  • Trauma dan bising

Apabila Anda merasa memiliki gangguan pendengaran, yang diikuti oleh beberapa penyebab gangguan pendengaran tersebut, segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut, dan mencegah risiko komplikasi.

Referensi
Yang juga penting untuk Anda
Baca Juga
Diskusi Terkait:
Lihat pertanyaan lainnya
Back to Top