logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Penyakit

Senolytics: Obat Potensial yang Tengah Diuji untuk Melawan Penuaan

open-summary

Penuaan merupakan proses yang tidak bisa dihindari. Namun, bagaimana jika penuaan dapat dihambat dan organ-organ tubuh tetap optimal meski sudah berusia senja? Obat ini mungkin bisa jadi jawabannya.


close-summary

0

23 Sep 2020

| Aby Rachman

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Senolytics dipercaya bisa menghambat penuaan

Proses penuaan tidak dapat dihindari oleh siapa pun

Table of Content

  • Dasar penelitian senolytics
  • Memerangi penuaan dengan senolytics
  • Perjalanan senolytics masih jauh

Penuaan merupakan proses yang tidak bisa dihindari. Bukan hanya penampilan fisik saja yang berubah, organ-orang dalam tubuh pun fungsinya sudah tak lagi optimal.

Advertisement

Tubuh kita yang sebelumnya berjuang keras melawan bakteri, virus, sel-sel jahat, hingga zat-zat kimia berbahaya, perlahan-lahan mulai melambat seiring bertambahnya usia.

Perlambatan ini berlaku hingga ke tingkatan paling kecil dalam tubuh, yaitu sel. Hasilnya, tubuh akan semakin rentan terhadap ancaman penyakit-penyakit kronis yang berbahaya saat menua.

Belum lama ini, sebuah ranah penelitian baru mengindikasikan ada cara yang lebih efektif dalam mengatasi penyakit-penyakit yang diakibatkan penuaan.

Yang membuat penelitian ini dianggap menjanjikan adalah adanya indikasi bahwa cara ini tidak hanya berlaku pada satu penyakit, melainkan semuanya penyakit yang terkait penuaan. Cara yang dimaksud adalah lewat obat-obatan senolytics yang diklaim dapat menghambat penuaan.

Dasar penelitian senolytics

Para peneliti menganggap kunci dari penelitian senolytics terletak pada sesuatu yang terjadi ketika sel-sel tubuh rusak atau cacat. Ketika sel-sel tubuh tidak bisa diperbaiki, mereka memasuki fase protektif yang dikenal sebagai senescence (menua), di mana sel-sel ini berhenti membelah diri.

Di saat yang bersamaan, sel-sel tersebut menjalani proses apoptosis, yakni proses menghancurkan diri sendiri yang sudah terprogram. Rangkaian kejadian ini mencegah terjadinya sel-sel yang rusak atau kanker menyebar sehingga menjaga tubuh dari kerusakan.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus, sel-sel yang rusak ini menolak untuk menghancurkan dirinya sendiri dan tetap bertahan dalam jaringan tubuh kita layaknya zombie. Sel-sel zombie ini kemudian dapat merusak sel-sel lain di sekitarnya.

Inilah kejadian yang dianggap oleh para peneliti sebagai masalah dasar akibat penuaan. Saat kita bertambah usia, sel-sel tua dalam tubuh jumlahnya akan semakin meningkat.

Sel-sel tua ini juga bisa meluluhkan protein yang berbahaya dan berbagai komponen lainnya dalam tubuh yang dapat merusak sel-sel di sekitarnya. Proses ini dapat menyebabkan peradangan dan kematian sel-sel sehat.

Ketika sel tua menolak proses apoptosis, kerusakan yang timbulkan terus berlanjut dan menimbulkan luka yang tertanam jauh di dalam jaringan tubuh. Para peneliti memercayai bahwa kejadian ini kemungkinan berkontribusi terhadap munculnya kondisi-kondisi berbahaya, seperti arthritis, diabetes, hingga penyakit kardiovaskuler.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa menghilangkan sel-sel tua dari jaringan tubuh bisa membantu mengobati beberapa penyakit yang dikaitkan dengan penuaan. Cara ini dilakukan dengan menggunakan obat-obatan senolytics, yakni sebuah kelas obat baru yang membunuh sel-sel tua untuk memperlambat penuaan.

Baca Juga

  • Mengenal Frailty, Sindrom Kerapuhan Lansia yang Membuatnya Rentan Terhadap Tekanan dan Penyakit
  • Ruam Popok pada Lansia, Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
  • Penyebab Gangguan Pendengaran pada Lansia dan Cara Menanganinya

Memerangi penuaan dengan senolytics

James Kirkland, seorang peneliti di Mayo Clinic, menjadi ujung tombak dari studi mengenai senolytics. Di tahun 2015, tepatnya dalam jurnal Aging Cell, Kirkland bersama koleganya mempublikasikan makalah yang mengungkapkan dua obat yang mampu secara selektif membunuh sel-sel tua dari jaringan manusia. Dua obat ini disebut sebagai komponen senolytics.

Dua komponen tersebut adalah dasatinib dan quercetin. Dasatinib sebelumnya digunakan sebagai obat kanker dan telah disetujui untuk digunakan pada manusia. Sementara itu, quercetin secara alami ditemukan pada sejumlah buah-buahan dan sayur-mayur.

Kirkland dan timnya kemudian menjalankan studi lanjutan pada tikus di tahun 2017, dengan tujuan untuk melihat pengaruh kedua komponen ini terhadap fibrosis paru idiopatik, yakni penyakit parah yang menyebabkan jaringan parut, yang dialami tikus.

Hasilnya, obat-obatan senolytics mampu menghambat dan bahkan mengembalikan kondisi yang diakibatkan fibrosis paru karena usia pada tikus. Temuan ini mengindikasikan bahwa menghilangkan sel-sel tua dapat dijadikan sebagai pilihan pengobatan.

Dalam penelitian pada tikus lainnya, tepatnya di tahun 2018, Kirkland dan koleganya bahkan menemukan bahwa dasatinib dan quercetin dapat meningkatkan fungsi fisik tikus. Sebagai implikasinya, masa hidup dan masa sehat dari tikus yang diuji mengalami peningkatan, bahkan ketika senolytics baru diberikan di akhir kehidupan tikus.

Berkat temuan-temuan yang menjanjikan tersebut, Kirkland dan timnya dapat melakukan uji klinis pada manusia. Pada sebuah studi di tahun 2019, Kirkland memberikan kedua komponen senolytics selama tiga hari kepada sekelompok kecil pasien diabetes ginjal. Hasilnya pun cukup menjanjikan, yakni jumlah sel-sel tua pada tubuh pasien diabetes tersebut menurun.

Hasil ini menempatkan obat-obatan senolytics semakin dekat dengan persetujuan FDA (BPOM-nya Amerika Serikat). Selanjutnya, Kirkland dan koleganya perlu menunjukkan bahwa senolytics dapat secara langsung membunuh sel-sel tua dan membuktikan perbaikan kondisi pasien yang mengonsumsinya.

Perjalanan senolytics masih jauh

Tujuan besar dari senolytics adalah sebagai obat mujarab yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit terkait penuaan. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, komponen-komponen senolytics dianggap masih cukup jauh untuk mendapatkan persetujuan dari FDA.

Studi-studi yang dilakukan sejauh ini hanya studi awal saja. Uji klinis dalam skala lebih besar diperlukan untuk membuktikan bahwa dasatinib dan quercetin benar-benar berperan dalam membunuh sel-sel tua.

Meski demikian, tidak salahnya untuk tetap optimis terhadap temuan ini. Yang membuat senolytics dianggap sangat menjanjikan adalah obat-obatan ini berpotensi mengubah fokus pengobatan penyakit-penyakit berhubungan dengan penuaan, tepatnya dari mengobati gejala-gejalanya saja menuju ke aspek lain yang lebih penting, yakni penyebab dasar dari penyakit-penyakit tersebut.

Advertisement

lansiapenuaan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved