Mengenal Senam Stroke, Olahraga untuk Mempercepat Pemulihan Stroke

Senam stroke bisa dilakukan sebagai bagian dari fisioterapi
Senam stroke bisa menjadi baian dari fisioterapi

Setelah terkena stroke, banyak hal yang perlu diperbaiki. Mulai dari mengembalikan kemampuan kognitif otak hingga kemampuan motorik otak pada penderita. Salah satu caranya adalah melalui senam stroke.

Sebagian besar orang yang terkena stroke akan mengalami penurunan kemampuan gerak, baik pada tangan maupun kakinya. Kondisi ini bisa membuat penderita kesulitan untuk beraktivitas bahkan rutinitas ringan, seperti berbicara dan menggenggam barang.

Oleh karena itu, latihan fisik atau fisioterapi sangatlah penting bagi penderita stroke. Senam stroke termasuk salah satunya.

Manfaat senam stroke yang bisa didapatkan

Aktivitas fisik, seperti senam, dapat dimulai sejak masa rehabilitasi pasien stroke di rumah sakit. Sejumllah penelitian menunjukkan bahwa semakin cepat seseorang memulai tahap rehabilitasi stroke, kemampuan motoriknya lebih mungkin untuk kembali meski tidak seperti sediakala.

Tergantung pada tingkat keparahan stroke dan kondisi kesehatan pasien, rehabilitasi stroke bisa dimulai paling cepat pada sekitar 24-48 jam setelah serangan stroke terjadi.

Rehabilitasi stroke mencakup latihan fisik bagi penderita. Latihan ini penting dilakukan karena dapat:

  • Meningkatkan kemampuan gerak

Aktivitas atau senam stroke bisa meningkatkan kemampuan gerak tangan, kaki, hingga jantung penderita.

  • Mengurangi risiko kambuhnya stroke

Pasien yang menjalani latihan otot atau melakukan senam stroke, bisa mengurangi kekakuan ototnya sehingga mengurangi risiko stroke yang kembali terjadi.

  • Menurunkan risiko komplikasi stroke

Kegiatan fisik mampu menurunkan potensi komplikasi akibat stroke. Contohnya, atrofi otot, osteoporosis, serta gangguan peredaran darah pada anggota gerak.

  • Mengurangi risiko depresi

Dengan melakukan aktivitas fisik, risiko pasien untuk mengalami depresi akibat stroke akan berkurang.

  • Meningkatkan pemulihan kemampuan kognitif dan memori

Latihan fisik (termasuk senam stroke) untuk penderita stroke juga berdampak baik bagi pemulihan fungsi kognitif dan memorinya. Pasien yang rajin berlatih secara fisik selama masa penyembuhan dinilai memiliki kualitas hidup lebih baik setelahnya.

Durasi latihan fisik dan senam stroke cukup bervariasi. Variasi ini tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien.

Sebagian pasien dapat pulih dengan cepat, namun beberapa lainnya membutuhkan waktu bulanan sampai tahunan hingga kembali pulih. Karena itu, dibutuhkan dedikasi dan kesabaran tinggi dalam menjalaninya.

Program senam stroke yang perlu diketahui

Program rehabilitasi stroke, seperti senam stroke, bertujuan meningkatkan kendali otot dan meningkatkan kelenturan otot yang kaku. Secara umum, terdapat tiga jenis kegiatan yang dilakukan selama periode ini.

Ketiga kegiatan tersebut meliputi peregangan, latihan aerobik, dan latihan kekuatan otot. Berikut penjelasannya:

1. Latihan peregangan

Latihan peregangan adalah langkah pertama yang dilakukan untuk penderita stroke sebelum olahraga kardio ataupun latihan kekuatan otot. Kenapa?

Pasalnya, otot-otot penderita stroke masih kaku sehingga perlu latihan ringan seperti peregangan terlebih dulu. Latihan ini juga membantu dalam mengendalikan keseimbangan dan koordinasi penderita sebelum melanjutkan kegiatan ke olahraga atau senam stroke yang lebih berat.

Latihan peregangan bisa dilakukan secara pasif maupun paksa. Seperti apakah caranya?

  • Latihan pasif

Contoh latihan pasif adalah menggunakan tangan yang masih aktif untuk menggerakkan tangan yang terkena stroke. Latihan ini bisa mencegah pemendekan otot dan kekakuan sendi.

Anda juga bisa menggerakkan tangan yang terkena stroke perlahan-lahan hingga mencapai batas geraknya dan menahan posisi ini selama 60 detik. Langkah ini dapat dilakukan sebanyak tiga kali sehari.

  • Latihan paksa

Berbeda dengan cara pasif, latihan paksa mendorong pasien untuk melakukan kegiatan yang lebih sulit sehingga sistem sarafnya terpacu. Sebagai contoh, pasien diminta berjalan di permukaan yang tidak rata atau menanjak, hingga durasi latihan yang lebih lama dengan gerakan lebih cepat.

Pemilihan cara pasif atau paksa perlu Anda diskusikan dengan dokter dan fisioterapis yang menangani Anda. Beberapa ahli menyebut bahwa cara paksa dinilai lebih efektif, namun semuanya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

2. Latihan aerobik

Senam stroke yang melibatkan gerakan-gerakan aerobik dinilai mampu meningkatkan ketahanan dan kemampuan berjalan pasien. Pasien yang rutin melakukan latihan kardio bisa berjalan lebih lama dan lebih jauh daripada mereka yang tidak. Manfaat senam ini akan semakin baik ketika dilakukan lebih awal.

Latihan aerobik dapat dilakukan 2-3 kali per minggu dengan durasi 20 sampai 60 menit pada masing-masing sesi. Jenis aktivitasnya bisa meliputi berjalan kaki (baik langsung di lantai maupun gerakan berjalan kaki sambil duduk) dan bersepeda statis.

3. Latihan kekuatan otot

Latihan kekuatan otot bisa pula membantu otot menjadi lebih lentur. Olahraga ini dapat dilakukan dengan menaruh beban ringan pada tangan atau kaki pasien, kemudian pasien diminta mengangkatnya.

Latihan angkat beban tersebut perlu dilakukan paling tidak 2-3 kali seminggu. Target ototnya pun perlu bervariasi, dan lebih mengutamakan otot-otot besar. Misalnya, latihan pertama berfokus pada otot lengan, latihan kedua pada otot kaki, dan latihan ketika pada otot punggung.

Catatan dari SehatQ

Bila berhasil melewati ketiga tahap kegiatan senam stroke dan kemampuan geraknya sudah membaik, pasien bisa melakukan jenis olahraga yang lebih bervariasi seperti yoga dan tai chi. Kedua aktivotas fisik ini disebut dapat membantu dalam melenturkan otot dan meringankan dampak stroke.

Rehabilitasi, termasuk senam stroke, akan memberikan manfaat bagi penderita stroke, baik secara jangka pendek maupun panjang. Namun kegiatan ini hanya boleh dilakukan setelah berdiskusi dengan dokter dan di bawah bimbingan fisioterapis profesional.

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2004/0715/p400.html
Diakses pada 12 Juli 2020

American Heart Association. https://www.heart.org/en/news/2019/08/22/stroke-survivors-recover-better-with-stepped-up-rehab
Diakses pada 12 Juli 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/stroke/alternative-treatments
Diakses pada 12 Juli 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/in-depth/stroke-rehabilitation/art-20045172
Diakses pada 12 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/stroke/news/20140520/exercise-aids-in-stroke-recovery
Diakses pada 12 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/stroke/features/arm-and-hand-exercises-for-stroke-rehab#1
Diakses pada 12 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/stroke/news/20190814/speed-stroke-recovery-with-exercise
Diakses pada 12 Juli 2020

Artikel Terkait