Kesepian bahkan dapat menyebabkan depresi, yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental
Kesepian membuat kesehatan fisik dan mental semakin rentan

Indonesia mulai memasuki masa penuaan populasi. Pada tahun 2010, sensus penduduk menemukan bahwa jumlah penduduk berusia 60 tahun dan di atasnya adalah 18,1 juta, atau 7,6% dari total penduduk Indonesia.

Selain itu, jumlah ini juga diperkirakan akan meningkat menjadi 33,7 juta atau 11,8% dari populasi, dan di tahun 2025 akan mencapai 48,2 juta atau 15,8% di tahun 2035.

Kondisi menua bukan hanya banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit kronis, namun juga berhubungan dengan kondisi kesepian. Faktanya, penelitian pada 2018 silam menemukan bahwa 42,5% lansia di panti jompo Yogyakarta yang mengalami depresi karena merasa kesepian.

Kesepian vs. Kesehatan Mental

Orang-orang yang merasa kesepian cenderung berisiko menderita dan menunjukkan gejala depresi. Sebuah penelitian di tahun 2014 melaporkan bahwa orang-orang yang merasa kesepian cenderung merasa tidak terlalu bahagia, bangga, dan seringkali lebih pesimistis.

Selain itu, pada orang yang merasa kesepian dan depresi, mereka juga seringkali memiliki perasaan negatif dan mengambil keputusan yang negatif juga. Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa perasaan tidak menentu biasanya meningkatkan kecenderungan depresi.

Kecenderungan depresi ini mungkin disebabkan fakta bahwa perasaan tidak menentu banyak berhubungan dengan kepercayaan diri yang rendah, kesulitan atau ketidakmampuan dalam mengembangkan dan menjaga hubungan dengan orang lain, kemampuan penyelesaian masalah yang rendah, dan konsep diri yang tidak stabil.

Penyebab rasa kesepian ini pada umumnya adalah transisi dalam gaya hidup mereka, seperti tidak lagi bergaul dengan teman kerja dan kehilangan status.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bhatia SPS, tingkat kesepian cenderung lebih tinggi pada wanita lansia, dibandingkan pria lansia. Kemudian, mereka yang tinggal sendiri lebih merasa kesepian dibandingkan mereka yang tinggal dengan kerabat atau keluarga mereka.

Kesepian vs. Kesehatan Fisik

Saat terpisah dari orang lain, manusia berada dalam status stres psikologi yang disebut dengan “fight or flight”. Berada di antara orang lain mungkin membuat seseorang merasa aman dan tenang sehingga menghilangkan kondisi stres dan menurunkan perasaan kesepian.

Sebaliknya, saat Anda sendirian atau merasa sendiri, manusia secara tidak langsung merasa bahwa mereka harus lebih waspada terhadap ancaman di lingkungan, sehingga tubuh mempersiapkan tubuh mereka melalui respons stres.

Stres sendiri dikatakan memicu produksi hormon yang mengubah sifat psikologis manusia. Banyak yang dilaporkan mengalami percepatan detak jantung, tensi otot, atau kecepatan bernapas disebabkan oleh stres, yang membuat manusia siap melawan ancaman.

Populasi lansia lebih rentan terhadap perubahan sistem imun yang mengakibatkan lebih rentan terkena infeksi dan penyakit. Didukung fakta bahwa manusia hanya sanggup menahan stres dalam satu periode waktu saja, maka jika seseorang pernah melawan stres di usia muda, gangguan pada sistem imunnya mungkin menjadi lebih parah di kemudian hari.

Tergantung pada penyakitnya, stres dapat menyebabkan tingkat inflamasi dan risiko kanker, penyakit kardiovaskular, dan diabetes lebih tinggi.

Kondisi inilah yang menjelaskan adanya peningkatan angka kematian disebabkan oleh kesepian, dan mengapa mempelajari respons sistem imun terhadap stres sangat berguna untuk mengetahui bagaimana kesepian menyebabkan banyak perubahan pada penyakit.

UNFPA. 2014. Indonesia on the Threshold of Population Ageing. Indonesia: UNFPA Indonesia Monograph Series.

Pramesona BA and Taneepanichskul S. Prevalence and risk factors of depression among Indonesian elderly: A nursing home-based cross-sectional study. Neurology, Psychiatry and Brain Research 30 (2018) 22-27.

Mushtaq R, Shoib S, Shah T, and Mushtaq S. Relationship between loneliness, psychiatric disorders and physical health? A review on the psychological aspects of loneliness. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2014 Sep; 8(9): WE01-WE04.

Hannah. 2018. Loneliness: An Epidemic?. Site: http://sitn.hms.harvard.edu/flash/2018/loneliness-an-epidemic/
Diakses pada 14 Januari 2019.

Artikel Terkait

Banner Telemed