Self-harm: Saat Masalah Emosi Berujung pada Menyakiti Diri Sendiri

Self-harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri dan bisa terjadi karena masalah emosi.
Self-harm atau menyakiti diri sendiri bisa terjadi karena masalah emosi

Setiap jiwa memiliki toleransi yang berbeda dalam memahami dan menangani masalah emosinya. Beberapa orang pun mungkin terjebak dalam tindakan yang tidak sehat, seperti self-harm atau menyakiti diri sendiri, saat ia merasa tak ada cara lain yang bisa membantunya. Bagaimana membantu orang yang menyakiti dirinya sendiri?

Self-harm: Menyakiti diri sendiri karena amarah dan frustasi

Sesuai namanya, self-harm adalah tindakan dengan sadar menyakiti diri sendiri pada bagian tubuh tertentu. Self-harm, atau kadang juga disebut dengan self-injury, biasanya bukanlah tindakan untuk bunuh diri. Tindakan-tindakan self-harm lebih merujuk pada cara seseorang untuk bergumul dengan emosi dan rasa frustasinya, yang tentu amat berbahaya.

Bagi orang yang menyakiti dirinya sendiri, ia mungkin akan merasakan sensasi ketenangan dan kepuasan yang sifatnya sementara. Namun kemudian, perasaan bersalah akan muncul diikuti dengan kambuhnya rasa amarah dan frustasi yang membekap perasaannya.

Self-harm atau self-injury tentunya adalah tindakan yang membahayakan diri sendiri. Pelaku self-harm berisiko mengalami cedera yang parah pada bagian tubuhnya, serta bukan tak mungkin melakukan tindakan yang lebih fatal.

Bentuk-bentuk self-harm atau menyakiti diri sendiri

Ada beberapa bentuk self-harm atau tindakan menyakiti diri sendiri, misalnya:

  • Melakukan sayatan atau goresan pada bagian tubuh menggunakan benda tajam
  • Membakar bagian tubuh menggunakan korek api atau rokok
  • Mengukir kata atau simbol tertentu pada kulit tubuh
  • Memukul diri sendiri, termasuk meninju atau memukul kepala
  • Menusuk kulit dengan benda tajam
  • Memasukkan benda ke bawah kulit

Tindakan self-harm cenderung akan meninggalkan ‘pola’ pada kulit bagian tubuh tertentu. Bagian tubuh yang kerap menjadi sasaran self-injury yaitu lengan, kaki, atau bagian depan torso. Namun, bukan tak mungkin ada area lain yang menjadi sasaran tindakan menyakiti diri sendiri.

Tindakan self-harm biasanya dilakukan di tempat privat. Penderitanya juga mungkin saja melakukan tindakan menyakiti diri sendiri dengan lebih dari satu metode di atas.

Apa sebenarnya penyebab self-harm?

Tidak ada jawaban mudah untuk menjawab apa penyebab orang menyakiti dirinya sendiri. Biasanya, orang yang melakukan self-harm memiliki kecenderungan sebagai berikut:

  • Sulit memahami atau mengekspresikan emosi
  • Belum bisa melupakan trauma
  • Sulit mengatasi tekanan psikologis dengan cara yang sehat
  • Mengalami penolakan, kesepian, frustasi, atau bingung dengan masalah hidup

Pada beberapa kasus, perilaku self-injury juga bisa berkaitan dengan beragam masalah psikologis, seperti:

  • Gangguan bipolar
  • Depresi
  • Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
  • Gangguan obsesif-kompulsif

Ada pula beberapa faktor risiko self-harm yang mungkin bisa berkontribusi. Beberapa faktor risiko tersebut, yaitu:

  • Trauma di masa lalu
  • Bingung dengan perihal identitas dan orientasi seksualnya
  • Lingkungan sosial dan pertemanan
  • Usia, banyak terjadi di masa-masa remaja atau dewasa muda
  • Jenis kelamin, dipercaya bahwa self-harm lebih banyak dilakukan perempuan
  • Menderita gangguan mental atau melakukan penyalahgunaan obat dan alkohol

Membantu orang yang melakukan self-harm

Empati sangat diperlukan dalam membantu orang terdekat yang melakukan self-harm dan menyakiti diri sendiri. Beberapa kemungkinan skenario self-harm yang dilakukan orang terdekat, yaitu:

1. Anak yang melakukan self-harm

Apabila anak ketahuan melakukan self-injury, menghukum mereka bukanlah solusi dan tak akan menyelesaikan masalah. Sebagai langkah awal, sampaikan dengan penuh kasih sayang bahwa ia sangat berarti bagi Anda, dan Anda selalu mengasihinya.

Kemudian, Anda bisa dengan segera membuat janji dengan dokter anak atau dokter keluarga. Anda juga mungkin memerlukan rujukan agar anak bisa dibantu oleh psikiater. Apabila dokter memberikan penanganan dalam menyelesaikan masalah Si Kecil, Anda harus selalu mendukungnya untuk ‘bebas’ dari jerat self-harm.

2. Teman yang melakukan self-harm

Apabila Anda mengetahui teman menyakiti dirinya sendiri, Anda bisa menyarankannya untuk menemui ahli kejiwaan, walau beberapa orang mungkin tak mau awalnya untuk mencari bantuan profesional. Sampaikan bahwa Anda siap jika ada hal yang ingin ia ceritakan dan selalu mendukungnya untuk menjalani terapi dari dokter.

3. Jika diri sendiri melakukan self-harm

Apabila Anda terjebak dalam perilaku self-harm, ketahuilah bahwa Anda merupakan orang yang sangat berharga. Memang terkadang sulit untuk memercayai betapa Anda sangat berarti. Namun ketahuilah, Anda dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Anda seutuhnya.

Karena self-harm adalah tindakan yang bisa membahayakan diri, tips berikut ini bisa Anda coba agar tak lagi melakukan self-harm:

  • Segera cari distraksi, termasuk dengan menghubungi orang terkasih saat Anda berpikiran untuk melakukan self-harm
  • Terapkan self-care, seperti mandi air hangat, mendengarkan lagu yang menenangkan, dan tidur di bawah selimut yang hangat
  • Ikuti kelas yoga untuk membantu mengendalikan stres
  • Lepaskan amarah dengan cara yang tidak berbahaya, seperti merobek kertas atau meletuskan balon
  • Ekspresikan perasaan Anda dengan menulis
  • Menonton film sedih agar Anda bisa melepaskan emosi dengan menangis
  • Selalu terhubung dengan orang-orang tersayang
  • Mencari bantuan profesional, yang saat ini sangat mudah untuk dicari

Catatan dari SehatQ

Self-harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri yang berbahaya. Membantu orang yang terjebak self-harm harus diiringi dengan empati dan tanpa penghakiman. Apabila Anda yang melakukan tindakan ini, segera menemui ahli kejiwaan sangat dianjurkan.

Healthline. https://www.healthline.com/health/cutting
Diakses pada 8 Mei 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/self-injury
Diakses pada 8 Mei 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324515
Diakses pada 8 Mei 2020

Artikel Terkait