Selain Avigan dan Klorokuin, Ini Deretan Obat Corona yang Sedang Diuji untuk Atasi Covid-19

Avigan dan klorokuin masih dalam tahap pengujian untuk mengecek keamanan dan efektivitasnya dalam melawan Covid-19
Hingga kini belum ada obat yang ditetapkan untuk mengatasi Covid-19

Selain Avigan dan klorokuin, ternyata masih banyak obat yang diklaim dapat berperan dalam proses penyembuhan pasien corona. Saat ini, para ilmuwan tengah berpacu dalam badai corona untuk menemukan pengobatan yang paling efektif dan juga aman untuk dikonsumsi. 

Meskipun hingga saat ini belum ada obat yang ditetapkan sebagai pengobatan utama virus corona atau COVID-19, tetapi berbagai penelitian medis telah dilakukan. Dari beragam upaya studi yang telah diadakan, ada sejumlah obat yang tengah diuji sebagai pengobatan COVID-19.

Daftar obat-obat yang diujikan sebagai pengobatan COVID-19

Obat-obatan  berikut ini masih melalui tahap pengujian sebagai obat corona:

1. Avigan - Favipiravir 

Avigan adalah merek dagang dari zat aktif bernama favipiravir yang digunakan pada pengobatan influenza. Avigan memiliki sifat antivirus yang dapat menghambat pertumbuhan virus.

Favipiravir yang terkandung dalam Avigan bekerja secara selektif menghambat RNA polimerase yang terlibat dalam replikasi virus influenza. Mekanisme tersebut telah menginspirasi para tim medis dan ilmuwan untuk mengaplikasikannya pada pengobatan COVID-19.  

Dalam penelitian uji coba Avigan terhadap 340 pasien COVID-19 dilaporkan bahwa pasien yang mengonsumsi Avigan dapat sembuh lebih cepat dan memiliki kondisi paru yang lebih baik dibandingkan pasien COVID-19 yang tidak diberikan Avigan. Obat ini diyakini dapat menghambat virus untuk berkembang dengan efek samping yang minim.

Kendati demikian, penelitian lainnya mengungkapkan bahwa Avigan tidak dapat membantu pasien COVID-19 dengan penyakit bawaan yang lebih parah. 

Mulai 31 Maret lalu, Avigan telah memasuki fase 3 uji klinis pada pasien COVID-19 di Jepang. Jika pada fase 3 ini Avigan dapat menunjukkan efektivitas terapi dan keamanan yang lebih besar dari efek sampingnya, maka obat ini sudah dapat secara resmi diresepkan oleh dokter untuk diamati efek jangka panjangnya. 

2. Chloroquine phosphate

Chloroquine phosphate adalah obat yang telah lama digunakan untuk mengobati maupun mencegah malaria. Selain itu klorokuin juga diyakini dapat menghambat pertumbuhan virus dengan cara menghambat endositosis atau proses masuknya virus ke dalam tubuh. 

Dalam sebuah laporan konferensi yang diadakan 15 Februari 2020 lalu, pemerintah Cina bersama dengan para peneliti mengumumkan telah menguji klorokuin fosfat pada 100 pasien di 10 rumah sakit di Wuhan, Cina.

Hasilnya menunjukkan bahwa klorokuin fosfat efektif untuk menghambat terjadinya komplikasi pneumonia pada pasien COVID-19. Selain itu hasil rontgen paru-paru pasien meningkat jadi lebih baik, menghambat penyebaran virus, dan memulihkan pasien lebih cepat.

Hingga saat ini, klorokuin masih digunakan sebagai pengobatan lini kedua pada COVID-19 dikarenakan datanya yang masih minim. Para peneliti lainnya berpendapat bahwa dosis klorokuin yang dibutuhkan untuk memberikan khasiat terapi pada manusia terlalu tinggi hingga dikhawatirkan efek samping yang ditimbulkan pun lebih parah daripada khasiatnya.

3. Hydroxychloroquine sulfate

Obat malaria lainnya yang dijadikan kandidat obat COVID-19 adalah hydroxychloroquine sulfate. Dalam jurnal Clinical Infectious Diseases dilaporkan bahwa obat ini lebih efektif dibandingkan klorokuin dalam membunuh virus corona yang dibiakkan secara in-vitro di laboratorium. 

Penelitian lain menyebutkan bahwa, pada pasien covid-19 yang mengalami kerusakan hati dan ginjal dapat diperburuk kondisinya apabila mengonsumsi hydroxychloroquine sulfate.

4. Hydroxychloroquine and azithromycin

Peneliti dari Prancis kemudian menggabungkan hydroxychloroquine dengan antibiotik azitromisin. Penelitian tersebut dilakukan pada 20 pasien COVID-19 dan hasilnya menunjukkan semua pasien yang mengonsumsi kombinasi obat tersebut sembuh secara virologis di mana virus corona tidak lagi terdeteksi pada pasien. 

Meskipun tingkat efektivitasnya tinggi, kekurangan dari penelitian tersebut adalah jumlah sampelnya terbilang sangat sedikit. WHO menyimpulkan bahwa studi skala kecil yang diamati dengan metode non-acak tidak akan memberikan hasil yang begitu akurat. 

5. Remdesivir

Remdesivir adalah obat antivirus yang bekerja dengan menghentikan transkripsi RNA virus sedari dini.  Saat ini remdesivir telah terbukti dapat menghambat virus COVID-19 secara in-vitro dan sedang diuji klinis pada pasien COVID-19 di Amerika serikat.  

6. Lopinavir dan ritonavir

Di Thailand, campuran obat HIV bernama lopinavir dan ritonavir dengan nama merek Kaletra sempat dipelajari aktivitasnya dalam menghambat corona jika dikombinasikan dengan obat flu oseltamivir (Tamiflu). Kombinasi ini ternyata dapat menyembuhkan pasien manula dengan komplikasi pneumonia di rumah sakit yang diujikan.

Update terbaru dari obat ini dikabarkan bahwa menurut sebuah penelitian di New England Journal of Medicine, kombinasi lopinavir dan ritonavir tidak menunjukkan manfaat yang lebih besar dibandingkan perawatan standar rumah sakit untuk pasien dewasa dengan COVID-19 yang parah. 

7. Fingolimod

Dalam suatu studi klinis yang sedang berjalan, fingolimod, obat modulator imun pada pasien skelerosis, sedang dipelajari sebagai pengobatan untuk COVID-19 di rumah sakit di Fuzhou, Cina.

Menurut temuan para ilmuwan, penggunaan modulator imun yang tepat di waktu tepat dan didukung ventilator harus dipertimbangkan agar dapat mencegah terjadinya ARDS (sindrom gangguan pernapasan akut) di mana paru-paru pasien dipenuhi dengan cairan yang sering menjadi penyebab pasien corona menemui ajalnya.

8. Methylprednisolone

Methylprednisolone adalah obat dari golongan glukokortikoid yang tengah dipelajari keamanan dan efektivitasnya dalam pengobatan pasien COVID-19 dengan pneumonia di sejumlah rumah sakit di provinsi Hubei, Cina.

9. Bevacizumab

Obat lainnya yang sedang diujikan adalah Bevacizumab yang merupakan Inhibitor VEGF yang digunakan untuk jenis kanker tertentu. Di Rumah Sakit Universitas Shandong di Jinan, Cina, obat ini sedang diamati efektivitasnya sebagai pengobatan untuk cedera paru akut dan ARDS pada pasien COVID-19 yang sakit kritis dengan komplikasi pneumonia. 

10. Leronlimab

Para tim medis di New York di mana tempat tersebut dikenal sebagai pusat penyebaran corona di Amerika pun ikut mengujikan obat percobaan lainnya bernama leronlimab. Obat yang biasa digunakan pada pasien HIV ini  telah diberikan pada 19 pasien COVID-19 yang kritis dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Saat ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, FDA, telah mengeluarkan status leronlimab sebagai Emergency Investigational New Drug (EIND) yang berarti dapat diresepkan bagi pasien COVID-19 yang membutuhkan perawatan darurat. 

Catatan dari SehatQ

Para ilmuwan dan tenaga medis di seluruh dunia tengah mengerahkan upaya untuk segera menemukan obat COVID-19 yang tak hanya efektif namun juga aman untuk dikonsumsi. Hingga saat itu tiba, kita dapat melakukan peran kita sebagai masyarakat yang taat dengan cara menerapkan physical distancing, bertindak rasional dengan tidak menimbun barang-barang esensial yang lebih dibutuhkan oleh tenaga medis dan juga selalu menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan yang sudah terbukti efektif dalam mencegah virus corona masuk ke dalam tubuh. 

Jangan mengonsumsi obat-obatan di atas tanpa resep dan arahan dokter, karena obat-obat tersebut memiliki efek samping yang bisa membahayakan jika tidak ada resep dokter.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28769016
Diakses pada 3 April 2020

DRUGS. https://www.drugs.com/news/chinese-researchers-say-flu-effective-against-covid-19-89043.html
Diakses pada 3 April 2020

CDC. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
Diakses pada 3 April 2020

DRUGS. https://www.drugs.com/condition/covid-19.html
Diakses pada 3 April 2020

JST. https://www.jstage.jst.go.jp/article/bst/14/1/14_2020.01047/_pdf/-char/en
Diakses pada 3 April 2020

Science Mag. https://www.sciencemag.org/news/2020/03/who-launches-global-megatrial-four-most-promising-coronavirus-treatments
Diakses pada 3 April 2020

MEDITERRANEE-INFECTION. https://www.mediterranee-infection.com/wp-content/uploads/2020/03/Hydroxychloroquine_final_DOI_IJAA.pdf
Diakses pada 3 April 2020

WHO. https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---23-march-2020
Diakses pada 3 April 2020

Clinical Trials. https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04280705
Diakses pada 3 April 2020

Clinical Trials. https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04273321
Diakses pada 3 April 2020

Clinical Trials. https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04275414
Diakses pada 3 April 2020

Clinical Trials.  https://www.drugs.com/history/leronlimab.html
Diakses pada 3 April 2020

Artikel Terkait